Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan aktivitas pelayaran yang menjadi tulang punggung mobilitas masyarakatnya. Dari Sabang sampai Merauke, pelabuhan memegang peranan penting sebagai simpul ekonomi yang menghubungkan wilayah di negara kepulauan ini.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Pelabuhan Tanjung Perak yang terletak di Surabaya, Jawa Timur tercatat menjadi pelabuhan paling ramai di Indonesia sepanjang Januari-Juli 2025. Jumlah penumpang yang berangkat dan datang melalui pelabuhan ini mencapai total 1,19 juta orang, terdiri dari 570 ribu penumpang berangkat dan 625 ribu penumpang datang.
Adapun perhitungan dalam data ini hanya mencakup penumpang pelayaran antarpulau dalam negeri, bukan dari/ke luar negeri. Dengan demikian, tingginya volume penumpang di pelabuhan utama Indonesia ini mencerminkan tingginya mobilitas antarwilayah domestik.
Posisi kedua ditempati oleh Pelabuhan Soekarno-Hatta di Makassar, Sulawesi Selatan dengan total 606 ribu penumpang, terdiri dari 300 ribu penumpang keberangkatan dan 306 ribu penumpang kedatangan.
Sementara itu, jumlah penumpang yang berlayar pada Pelabuhan Semayang di Balikpapan mencapai 525 ribu orang secara keseluruhan, terdiri atas 272 ribu penumpang yang berangkat dan 253 ribu penumpang yang datang, menjadikan pelabuhan utama yang terletak di Kalimantan Timur ini berada pada peringkat ketiga dalam daftar pelabuhan paling sibuk periode Januari-Juli 2025.
Dua pelabuhan besar di bagian barat Indonesia, Tanjung Priok yang berlokasi di Jakarta dan Belawan yang berada di Medan, Sumatra Utara mencatat angka penumpang yang relatif lebih rendah. Tanjung Priok membukukan total 303 ribu penumpang yang terdiri dari 149 ribu keberangkatan dan 154 ribu kedatangan, sedangkan Belawan mencatat 209 ribu penumpang dengan rincian 111 ribu keberangkatan dan 98 ribu kedatangan sepanjang periode yang sama.
Secara umum, angka kedatangan penumpang cenderung lebih tinggi dibandingkan keberangkatan di sebagian besar pelabuhan utama, menandakan adanya arus balik atau peningkatan mobilitas menuju pusat-pusat ekonomi regional.
Tanjung Perak Juga Jadi Pelabuhan Paling Sibuk
Selain menjadi pelabuhan paling ramai, Tanjung Perak juga menegaskan posisinya sebagai pelabuhan paling sibuk dalam hal aktivitas logistik barang. Pada periode Januari-Juli 2025, total volume bongkar muat kargo antarpulau dalam negeri pada pelabuhan ini mencapai 20,72 juta ton, terdiri dari 12,97 juta ton pembongkaran dan 7,75 juta ton pemuatan barang.
Posisi kedua ditempati oleh Pelabuhan Tanjung Priok, dengan total volume kargo yang melalui pelabuhan ini sebesar 18,6 juta ton, terdiri atas 9,36 juta ton barang dibongkar dan 9,25 juta ton barang dimuat. Berbeda dengan jumlah penumpang yang relatif lebih sedikit, aktivitas bongkar muat barang pada pelabuhan yang terletak di Kota Metropolitan ini cukup sibuk.
Adapun pelabuhan utama lainnya mencatatkan angka yang lebih kecil. Total volume barang pada Pelabuhan Belawan sebanyak 6,61 juta ton yang tediri dari 4,67 juta ton pembongkaran dan 1,93 juta ton pemuatan.
Sementara itu, Pelabuhan Soekarno-Hatta telah mengangkut 5,33 juta ton barang pada periode Januari-Juli 2025, menjadikannya sebagai pelabuhan paling sibuk nomor 4 di Indonesia dengan 2,77 juta ton barang yang diangkut dan 2,56 juta ton barang yang dimuat.
Pelabuhan Semayang menutup pemeringkatan dengan angka 1,76 juta ton, dengan rincian 1 juta ton pembongkaran dan 671 ribu pemuatan barang. Meskipun secara volume lebih sedikit, pelabuhan di wilayah timur dan tengah Indonesia ini menjadi simpul penting arus logistik untuk kawasan luar Pulau Jawa.
Tekad Pemerintah Tingkatkan Layanan Pelabuhan
Demi meningkatkan pelayanan di bidang pelayaran, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) bersama dengan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Ditjen Hubla) telah melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) tentang Penyelenggaraan Pelayanan di Bidang Pelayaran.
Direktur Utama Pelindo, Arif Suhartono berharap langkah ini mampu memajukan sektor maritim nasional melalui berbagai perkembangan di seluruh sistem pelayanan yang terintegrasi dengan mengutamakan aspek keselamatan, keamanan, serta efisiensi operasional pelabuhan.
“Dengan sinergi antara regulator dan operator, kita berharap dapat menciptakan sistem pelayanan yang lebih terintegrasi, transparan, dan akuntabel demi kemajuan sektor maritim nasional,” ungkapnya dalam sambutan acara penandatanganan MoU di Kantor Kemenhub, Jakarta, Rabu (13/2/2025).
MoU ini mencakup beberapa aspek strategis dalam pengelolaan sektor kepelabuhanan, termasuk pengoperasian sarana kenavigasian, sistem layanan pemanduan dan penundaan kapal, integrasi sistem informasi kepelabuhanan, hingga pengembangan konsep Green Port.
Transportasi laut terus menjadi urat nadi utama mobilitas masyarakat Indonesia. Pelabuhan bukan sekadar gerbang ekonomi, melainkan infrastruktur vital yang menjembatani kesejahteraan antarwilayah. Maka, peningkatan layanan dan pemerataan fasilitas pelabuhan menjadi kunci untuk memperkuat integrasi logistik nasional dan pemerataan pembangunan di seluruh wilayah kepulauan Indonesia.
Baca Juga: India Danai 85% Proyek Pelabuhan Sabang Siap Jadi Pelabuhan Transshipment
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/NjkjMg==/total-penumpang-pelayaran-dalam-negeri-di-pelabuhan-utama--orang-.html
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/NjgjMg==/bongkar-muat-barang-angkutan-laut-antar-pulau-di-pelabuhan-utama--ton-.html
https://www.pelindo.co.id/media/702/sinergi-pelindo-dan-kemenhub-tingkatkan-pelayanan-di-sektor-transportasi-laut
Penulis: Shahibah A
Editor: Editor