Survei Reuters: Tingkat Pendidikan dan Pendapatan Pengguna Twitter Lebih Unggul Dibanding Medsos Lain

Pengguna Twitter berada di urutan teratas pada sejumlah karakteristik seperti tingkat pendidikan, pendapatan, hingga ketertarikan terhadap berita dan politik

Survei Reuters: Tingkat Pendidikan dan Pendapatan Pengguna Twitter Lebih Unggul Dibanding Medsos Lain Ilustrasi pengguna medsos | Jacob Wackerhausen/iStock

Media sosial kini menjadi satu komponen yang tidak bisa dipisahkan keberadaan dan pengaruhnya bagi kehidupan masyarakat modern. Seiring dengan penetrasi internet di seluruh dunia yang semakin tinggi, angka pengguna media sosial saat ini menyentuh 4,95 miliar orang, atau 61,4% dari populasi dunia.

Facebook masih menjadi media sosial terpopuler saat ini. Menurut data yang dirilis Kepios, Jumlah pengguna bulanan aktif Facebook hingga Oktober 2023 mencapai 3,03 miliar, diikuti YouTube dengan 2,49 miliar pengguna, serta WhatsApp dan Instagram masing-masing dengan 2 miliar pengguna.

Pemilihan penggunaan media sosial ini dapat dijelaskan oleh beragam orientasi maupun karakteristik dari para penggunanya. Twitter misalnya, survei Reuters Institute menunjukkan bahwa 25% pengguna Twitter menggunakan media sosial tersebut untuk mencari berita terkini, tertinggi dibanding media sosial lainnya.

Merujuk survei yang sama, dibanding sejumlah media sosial populer lain seperti YouTube, Instagram, Facebook, dan TikTok, media sosial Twitter juga secara umum memiliki persentase pengguna dengan tingkat pendidikan dan pendapatan tinggi yang paling banyak.

Sebagai informasi, survei Reuters Institute yang menjadi bagian dari Digital News Project 2023 ini dilakukan terhadap 93 ribu responden berusia di atas 18 tahun yang tersebar di 46 negara pada akhir Januari-awal Februari 2023 lalu.

Dalam survei ini, sebanyak 49% responden pengguna Twitter mengaku memiliki tingkat pendidikan terakhir di perguruan tinggi. Angka ini jadi yang tertinggi dibanding persentase pada sejumlah media sosial lainnya.

Diikuti persentase pengguna berpendidikan tinggi pada media sosial Instagram sebanyak 40%, dan YouTube di angka 39%. Sementara Facebook dan TikTok, sama-sama memiliki persentase pengguna dengan pendidikan terakhir di perguruan tinggi sebanyak 37%.

Di sisi lain, Twitter juga memiliki persentase pengguna dengan tingkat pendidikan terakhir sekolah dasar paling sedikit dibanding media sosial lainnya, yakni di angka 11%. Diikuti masing-masing 15% responden dari pengguna YouTube dan Instagram, dan 17% dari responden pengguna Facebook dan TikTok.

Selain tingkat pendidikan, survei tersebut juga menunjukkan persentase pengguna dengan pendapatan tinggi paling banyak ditemukan di Twitter, yakni sebanyak 31%. Instagram berada di bawahnya dengan persentase pengguna berpendapatan tinggi berada di angka 28%.

Selanjutnya YouTube dan Facebook, masing-masing catatkan persentase pengguna dengan pendapatan tinggi di angka 27% dan 26%. Sementara TikTok, memiliki persentase pengguna berpendapatan tinggi di angka 24%.

Pada kategori pengguna berpendapatan rendah, responden pengguna Twitter catatkan persentase paling kecil, yakni di angka 25%. Berbeda tipis dengan responden pengguna Instagram yang catatkan persentase di angka 26%.

YouTube dan Facebook, sama-sama catatkan persentase pengguna berpendapatan rendah sebanyak 27%. Sementara di TikTok, sebanyak 30% responden mengakui memiliki pendapatan rendah, paling banyak dibandingkan media sosial lainnya dalam survei ini.

Tak hanya itu, hasil survei ini juga menunjukkan pengguna Twitter berada di urutan teratas pada sejumlah karakteristik lain seperti ketertarikan terhadap berita, ketertarikan terhadap politik, dan kekhawatiran terhadap informasi palsu atau hoaks.

Twitter sendiri sejak Oktober 2022 lalu telah resmi diambil alih kepemilikannya oleh pendiri SpaceX dan Tesla, Elon Musk, yang kemudian mengubah nama platform tersebut menjadi X, pada Juli 2023.

Banyak pihak memprediksi akan terjadi semacam eksodus massal dari Twitter pasca pengambilalihan kepemilikan oleh Elon Musk. Hal ini tergambar dari timbulnya beragam kontroversi di kalangan pengguna Twitter sendiri soal proyeksi perubahan strategi dan model bisnis di platform tersebut yang dicanangkan oleh Musk, termasuk soal penggantian nama.

Namun, Craig T. Robertson, peneliti di Reuters Institute yang juga tergabung dalam tim Digital News Project, mengungkapkan bahwa berdasarkan data dari survei yang mereka lakukan di tahun ini, hal itu tampaknya tidak terjadi.

“Kami belum melihat hal ini menjadi kenyataan – setidaknya dalam data tahun 2023 kami. Masyarakat telah menyuarakan keluhan mereka mengenai platform ini selama bertahun-tahun, namun kami menemukan bahwa penggunaan Twitter dalam 10 tahun terakhir secara keseluruhan masih sangat stabil,” tulis Robertson dikutip dari keterangan resmi (25/10).

Penulis: Raka B. Lubis
Editor: Editor

Konten Terkait

Studi: Pekerja Dunia Lebih Optimis Terhadap Teknologi AI Sejak Lima Tahun Terakhir

Berdasarkan riset BCG, saat ini para pekerja di dunia lebih optimis mengenai perkembangan AI dibandingkan lima tahun lalu

Kebijakan Sensor Internet di Indonesia Dibanding Negara di Asia Tenggara

Sensor internet di Indonesia dibandingkan negara di Asia Tenggara

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Dengan melakukan pendaftaran akun, saya menyetujui Aturan dan Kebijakan di GoodStats

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook