Nasional

Sentimen Negatif terhadap Kondisi Politik di Era Prabowo Melonjak ke 42%

SMRC rilis data survei tren persepsi publik terhadap kondisi politik nasional Juli 2026. Sentimen negatif melonjak hingga 42,8%, simak perinciannya!

Sentimen Negatif terhadap Kondisi Politik di Era Prabowo Melonjak ke 42%

Potret Prabowo Subianto | Gerindra

Stabilitas dan kondisi politik nasional memainkan peran vital dalam menentukan iklim demokrasi, kepastian hukum, serta arah kebijakan suatu negara. Evaluasi publik terhadap dinamika politik menjadi cerminan langsung atas tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kinerja tata kelola pemerintahan, hubungan antarlembaga negara, serta iklim kebebasan berpendapat.

Memahami pergeseran pandangan warga dari waktu ke waktu merupakan hal krusial untuk mengukur kesehatan iklim politik nasional di tengah berbagai tantangan dan dinamika isu-isu strategis.

Oleh karena itu, potret persepsi publik melalui pengukuran empiris berkala menjadi instrumen navigasi penting untuk melihat apakah dinamika politik di tingkat atas berjalan selaras dengan ekspektasi di akar rumput.

Penilaian Publik RI Terhadap Kondisi Politik

Akumulasi sentimen negatif terhadap kondisi politik nasional melonjak ke 42,8% | GoodStats
Akumulasi sentimen negatif terhadap kondisi politik nasional melonjak ke 42,8% | GoodStats

Baca Juga: Tingkat Kepuasan Publik atas Kinerja Prabowo Anjlok ke 51% dalam 9 Bulan

Berdasarkan hasil survei terbaru dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) periode 5–19 Juli 2026 bertajuk Kondisi Ekonomi Politik dan Approval Rating Presiden, terjadi pergeseran tren yang cukup tajam dalam persepsi masyarakat terhadap kondisi politik nasional.

Lebih lanjut, porsi terbesar penilaian masyarakat diisi oleh kelompok yang memandang kondisi politik nasional berada dalam kategori sedang saja, yaitu sebesar 33,6%. Namun, kelompok yang menilai buruk mencatatkan angka yang mendominasi di level 31,7%, ditambah 11,1% warga yang menilai kondisi politik sangat buruk. Hal ini menyebabkan akumulasi sentimen negatif berada di angka 42,8%.

Di sisi lain, kelompok optimis yang menilai kondisi politik baik hanya tersisa 11,8% dan yang menyatakan sangat baik berada di angka 1,7%. Adapun porsi warga yang menjawab tidak tahu atau tidak menjawab (TT/TJ) tercatat sebesar 10,2%.

Tren Penilaian Publik RI Terhadap Kondisi Politik

Tren penilaian publik selama sembilan bulan terakhir menunjukkan penurunan
Tren penilaian publik selama sembilan bulan terakhir menunjukkan penurunan | GoodStats

Selain itu, jika dilihat dalam kurun waktu sembilan bulan terakhir (November 2025 hingga Juli 2026), sentimen positif masyarakat yang menilai kondisi politik dalam keadaan baik atau sangat baik merosot drastis dari 35,8% menjadi tinggal 13,5%.

Sebaliknya, sentimen negatif warga yang memandang iklim politik berada dalam kondisi buruk atau sangat buruk melonjak pesat dari 23,0% pada November 2025 menjadi 42,8% pada Juli 2026.

Perkembangan tren ini memperlihatkan adanya eskalasi nada kritis di tengah masyarakat terhadap konstelasi politik tanah air. Peningkatan sentimen negatif yang signifikan dalam kurun sembilan bulan menekankan pentingnya keterbukaan, konsistensi penegakan hukum, serta komunikasi publik yang adaptif dari para pemangku kebijakan untuk menjaga stabilitas kepercayaan publik.

Prabowo Klaim Perkuat Politik Nonblok Indonesia

Kendati demikian, di tengah dinamika geopolitik dunia yang penuh ketidakpastian dan seringkali menyebabkan keadaan politik nasional terguncang, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia tetap teguh memegang prinsip politik luar negeri bebas aktif. Saat membuka Musyawarah Nasional (Munas) XVIII HIPMI di Bandar Lampung, Rabu (10/6/2026), Prabowo menyampaikan rasa syukurnya atas warisan diplomasi nonblok dari para pendiri bangsa.

Menurutnya, memilih untuk merangkul semua negara tanpa memihak kekuatan tertentu adalah langkah strategis untuk menjaga kepentingan nasional sekaligus mendorong perdamaian global.

“Situasi mungkin berubah, sekarang dinamikanya geopolitik begitu kacau. Kita tidak tahu kawan siapa lawan siapa. Kita beruntung, saya beruntung, Presiden Indonesia menerima warisan dari pendiri-pendiri bangsa kita, bahwa politik luar negeri Indonesia adalah politik non-aligned, politik nonblok,” tuturnya Rabu (10/6/2026) dikutip rilis pers Sekretaris Kabinet Republik Indonesia.

Metodologi

Survei SMRC ini menjangkau populasi seluruh WNI yang memiliki hak pilih (berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah). Dari total 749 responden yang dipilih secara acak, sebanyak 605 responden (pemilik telepon) diwawancarai via telepon menggunakan metode double sampling, sedangkan 144 responden (non-pemilik telepon) diwawancarai secara tatap muka dengan metode stratified multistage random sampling.

Dengan margin of error sebesar +/- 3,7% pada tingkat kepercayaan 95%, temuan ini menjadi potret data penting bagi pembuat kebijakan untuk melakukan kalibrasi strategi pembangunan ke depan.

Baca Juga: Bagaimana Publik Menilai Demokrasi Indonesia Saat Ini?

Sumber:

https://saifulmujani.com/kondisi-ekonomi-politik-dan-approval-rating-presiden/

Penulis: Anggia Leksa Editor: Editor

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Lupa Sandi?