Puncak Omicron Diprediksi Terjadi Bulan Juli, Kenali Gejala Omicron BA.4 dan BA.5!

Gejala subvarian baru Omicron BA.4 dan BA.5 dilaporkan mirip dengan gejala umum varian Covid-19 Omicron karena memiliki sebagian mutasi yang serupa.

Puncak Omicron Diprediksi Terjadi Bulan Juli, Kenali Gejala Omicron BA.4 dan BA.5! Kemenkes prediksi puncak kasus Omicron pada minggu ketiga bulan Juli 2022/Pixabay

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengumumkan bahwa pemerintah telah memprediksi bahwa puncak kasus Omicron subvarian BA.4 dan BA.5 di Indonesia bakal terjadi di bulan Juli, sebulan setelah kasus pertama terdeteksi, berdasarkan pengamatan dalam menangani gelombang penularan sebelumnya.

"Pengamatan kami, gelombang BA.4 dan BA.5 puncaknya satu bulan setelah pengumuman kasus pertama. Jadi, seharusnya di minggu ketiga Juli kita akan lihat puncak kasus BA.4 dan BA.5," katanya pada konferensi pers yang berlangsung pada Senin, (13/6).

Melansir Kontan.co.id, pemerintah RI telah mengkonfirmasi ada delapan kasus positif Covid-19 subvarian BA.4 dan BA.5, termasuk tiga kasus impor, sementara lima kasus lainnya adalah transmisi lokal di Bali dan Jakarta. per Minggu (12/6). Dari laporan itu, diketahui bahwa ada dua pasien terpapar BA.4, sementara enam pasien lainnya terpapar BA.5.

Subvarian BA.4 pertama kali terdeteksi pada 10 Januari 2022 di Limpopo, Afrika Selatan. Sejak saat itu, subvarian ini menyebar dan terdeteksi di seluruh provinsi di Afrika Selatan. Sementara, subvarian BA.5 juga pertama kali terdeteksi pada tanggal 25 Februari 2022 di KwaZulu-Natal, Afrika Selatan.

Jumlah kasus aktif Covid-19 per Rabu, (15/6) | Goodstats

Sementara itu, jumlah kasus aktif Covid-19 di Indonesia menurut Worldometers, dilaporkan ada sejumlah 5.298 kasus per Rabu, (15/6). Indonesia menjadi negara kelima dengan jumlah kasus aktif Covid-19 terbanyak di Asia Tenggara. Budi juga menyatakan bahwa naiknya kasus aktif Covid-19 tersebut disebabkan oleh subvarian baru BA.4 dan BA.5.

Mengutip The Global Alliance for Vaccines and Immunisation (GAVI), kedua subvarian baru itu membawa mutasi L452R yang sebelumnya terdeteksi pada varian Delta, dan dianggap membuat virus lebih menular dengan meningkatkan kemampuan virus untuk menempel pada sel manusia. Hal ini dapat membantunya untuk menghindari sebagian kerusakan yang disebabkan oleh sel-sel kekebalan tubuh. Selain itu, subvarian baru ini juga memiliki mutasi F486V yang dapat menghindarinya dari pengenalan sistem imun.

Gejala yang timbul

Menurut laporan dari National Institute for Communicable Disease (NICD), untuk gejala subvarian BA.4 dan BA.5 serupa dengan gejala pada kasus Omicron karena sebagian mutasinya sama. Gejala umum Covid-19 varian Omicron meliputi diare, sakit perut (stomach pain), merasa sakit atau mual (nausea), kehilangan selera makan (loss of appetite), dan melewatkan makan (skipping meal).

Adapun, dokter spesialis paru Erlina Burhan seperti yang dikutip dari Kompas.com menyebutkan bahwa untuk penderita subvarian BA.5 dengan gejala sedang dilaporkan mengelami gejala berupa batuk, sesak napas, sakit kepala, lemah, mual, muntah, serta nyeri sendi. Ia menduga gejala sesak napas disebabkan karena BA.5 lebih banyak bereplikasi di saluran napas bawah.

Sedangkan, untuk penderita BA.5 dengan gejala ringan dikatakan memiliki gejala berupa sakit tenggorokan, badan pegal, demam, dan batuk. Kemudian, untuk pasien yang terinfeksi BA.4 dengan gejala ringan memiliki gejala berupa demam, batuk, serta nyeri tenggorokan.

Penulis: Nada Naurah
Editor: Iip M Aditiya

Artikel Sebelumnya Vietnam Masih Jadi Negara dengan Jumlah Kasus Covid-19 Tertinggi di ASEAN
Artikel Selanjutnya Tembus 930 Kasus pada 14 Juni, Kasus Covid di Indonesia Terus Meningkat dalam Dua Pekan Terakhir
Konten Terkait