Nasional

Profil Destry Damayanti, Calon Tunggal Gubernur BI 2026

Prabowo ajukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI. Simak profil, pendidikan, perjalanan karier, dan jabatan yang pernah diembannya.

Profil Destry Damayanti, Calon Tunggal Gubernur BI 2026

Ilustrasi Gedung Bank Indonesia| Irma Sjachlan/Pexels

Presiden Prabowo Subianto resmi mengajukan nama Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI kepada DPR pada Senin, 10 Agustus 2026. Langkah ini menjadi sorotan di tengah upaya pemerintah memperkuat bauran kebijakan moneter dan stabilitas keuangan nasional, khususnya di tengah dinamika makro ekonomi seperti belanja pemerintah jadi komponen pengeluaran PDB tertinggi pada triwulan II 2026.

Pengajuan ini menempatkan sosok ekonom senior yang tak asing lagi di lingkungan bank sentral sebagai kandidat kuat Gubernur BI 2026.

Baca Juga: Belanja Pemerintah Jadi Komponen Pengeluaran PDB Tertinggi pada Triwulan II 2026

Profil Destry Damayanti

Berikut adalah ringkasan biodata Destry Damayanti, riwayat pendidikan Destry Damayanti, serta latar belakang Destry Damayanti secara menyeluruh:

Profil Calon Gubernur Bank Indonesia | Goodstats
Profil Calon Gubernur Bank Indonesia | Goodstats

Berdasarkan data di atas, Destry Damayanti merupakan ekonom kelahiran Jakarta, 16 Desember 1963 yang kini menginjak usia 62 tahun. Ia memiliki latar belakang akademis yang solid, lulus sebagai Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia (UI) sebelum meraih gelar Master of Science (M.Sc.) di bidang Regional Science dari salah satu kampus ternama dunia, Cornell University, Amerika Serikat.

Saat ini, Destry masih aktif mengemban amanah sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia dan kini berstatus resmi sebagai calon tunggal untuk menduduki kursi nomor satu di Bank Indonesia pada 2026.

Seperti halnya penunjukan figur penting di lembaga negara lainnya seperti riwayat pendidikan dan perjalanan karier Nanik S. Deyang, pemahaman mendalam di bidang ekonomi makro dan tata wilayah menjadi pondasi utama dalam seluruh perjalanan karier Destry Damayanti.

Memulai Karir sebagai Ekonom

Sebelum dikenal luas sebagai pimpinan Destry Damayanti Bank Indonesia, ia membangun fondasi profesionalnya dari lintas sektor, mulai dari akademisi, lembaga riset, pemerintahan, hingga perbankan nasional dan internasional.

Destry mengawali kiprahnya sebagai peneliti serta pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) pada kurun 1987–1990.

Setelah menyelesaikan pendidikan pascasarjana di Cornell University, Amerika Serikat, ia dipercaya memperkuat Badan Analisa Keuangan dan Moneter (BAKM) Kementerian Keuangan pada periode 1992–1997.

Pengalaman riset pasar finansialnya makin terasah saat bergabung sebagai ekonom di Citibank Indonesia (1997–2000), disusul peran strategis sebagai Senior Economic Adviser untuk Duta Besar Inggris di Jakarta (2000–2003).

Reputasi profesional Destry Damayanti kian melesat tatkala menduduki posisi Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas (2005–2011) serta Kepala Ekonom Bank Mandiri (2011–2015).

Di grup Bank Mandiri, ia menginisiasi pendirian Mandiri Institute serta memimpin Satuan Tugas Ekonomi Kementerian BUMN (2014–2015).

Sebelum dipanggil masuk ke bank sentral, jabatan Destry Damayanti yang amat vital adalah sebagai anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) periode 2015–2019.

Jejak Karir Sebagai Deputi Gubernur Senior BI

Fokus utama jabatan Destry Damayanti di BI dimulai saat dilantik menjadi Deputi Gubernur Senior BI pada 7 Agustus 2019 untuk masa jabatan 2019–2024. Kinerja yang konsisten dalam menjaga stabilitas stabilitas nilai tukar Rupiah dan mengawal transmisi kebijakan moneter membuatnya kembali terpilih untuk periode kedua (2024–2029).

Selama memegang kepemimpinan di Dewan Gubernur, Destry aktif mendorong bauran kebijakan (policy mix) yang inklusif, pendalaman pasar keuangan, serta akselerasi digitalisasi sistem pembayaran nasional, seperti ekspansi QRIS hingga BI-FAST. Ia juga berperan aktif mewakili BI dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) bersama Kementerian Keuangan, OJK, dan LPS guna mengantisipasi gejolak ekonomi global.

Baca Juga: Pemerintah Buka "War Ticket" Upacara HUT RI ke-81, Kuota Terbatas untuk 8.100 Peserta

Sumber:

Bank Indonesia

Penulis: Fadhlan Firdaus Syafrudin Editor: Editor

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Lupa Sandi?