Struktur tenaga kerja Indonesia terus mengalami dinamika seiring perubahan ekonomi dan kebutuhan pasar kerja nasional.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025 menunjukkan distribusi persentase penduduk bekerja menurut jenis pekerjaan utama yang mencerminkan dominasi sektor-sektor tertentu dalam perekonomian Indonesia.
Struktur Tenaga Kerja Indonesia Tahun 2025
Struktur tenaga kerja Indonesia tahun 2025 menunjukkan bahwa mayoritas penduduk usia kerja telah terserap ke dalam angkatan kerja, dengan sebagian besar berstatus bekerja.
Data Sakernas Agustus 2025 yang dirilis BPS mencerminkan dominasi pekerja penuh waktu, meski pekerja paruh waktu dan setengah penganggur masih cukup signifikan.
Komposisi ini menandakan bahwa pasar tenaga kerja nasional masih didominasi sektor-sektor padat karya dengan tingkat produktivitas yang beragam.
Kondisi tersebut menjadi gambaran penting bagi pemerintah dalam merancang kebijakan ketenagakerjaan yang lebih inklusif dan berkelanjutan ke depan.
Dominasi Jenis Pekerjaan Utama Penduduk Bekerja
Dominasi jenis pekerjaan utama penduduk bekerja di Indonesia masih ditandai oleh kuatnya sektor pekerjaan berkarakter padat karya. Berdasarkan data Sakernas Agustus 2025, kelompok tenaga produksi, operator alat angkutan, dan pekerja kasar menjadi jenis pekerjaan dengan porsi terbesar, mencapai 30,05% dari total penduduk bekerja.
Posisi kedua ditempati oleh tenaga usaha pertanian, kehutanan, perburuan, dan perikanan dengan kontribusi sebesar 27,19%, menunjukkan bahwa sektor primer masih memegang peranan penting dalam penyerapan tenaga kerja nasional.
Sementara itu, tenaga usaha penjualan menempati urutan ketiga dengan persentase 20,63%, mencerminkan besarnya peran sektor perdagangan dalam perekonomian. Di sisi lain, proporsi tenaga profesional, teknisi, dan yang sejenis masih relatif kecil, yakni hanya 7,50%.
Tenaga usaha jasa dan tenaga tata usaha masing-masing mencatatkan porsi 6,44% dan 5,30%, menandakan keterbatasan perluasan pekerjaan berbasis keahlian menengah.
Kelompok tenaga kepemimpinan dan ketatalaksanaan menjadi yang paling sedikit dengan persentase 1,19%, mengindikasikan sempitnya lapangan kerja di level manajerial. Kategori pekerjaan lainnya juga hanya menyumbang 1,70% dari total penduduk bekerja.
Pola ini menunjukkan bahwa struktur ketenagakerjaan Indonesia masih didominasi oleh pekerjaan dengan tingkat keterampilan rendah hingga menengah. Kondisi tersebut menegaskan pentingnya transformasi ketenagakerjaan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia dan penciptaan lapangan kerja bernilai tambah tinggi.
Tantangan dan Arah Transformasi Ketenagakerjaan Nasional
Tantangan ketenagakerjaan nasional masih ditandai oleh dominasi pekerjaan berkeahlian rendah hingga menengah, seperti tenaga produksi, pekerja kasar, dan sektor pertanian yang menyerap sebagian besar penduduk bekerja.
Struktur ini mencerminkan keterbatasan penciptaan lapangan kerja bernilai tambah tinggi serta belum optimalnya penyerapan tenaga profesional dan manajerial.
Di sisi lain, tingginya proporsi pekerja informal dan paruh waktu menunjukkan kerentanan kualitas pekerjaan dan perlindungan tenaga kerja.
Arah transformasi ketenagakerjaan nasional perlu difokuskan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan, pelatihan vokasi, dan penguasaan keterampilan digital.
Selain itu, penguatan sektor industri modern dan jasa produktif menjadi kunci untuk mendorong pergeseran struktur tenaga kerja menuju pekerjaan yang lebih berkelanjutan dan berdaya saing.
Baca Juga: 10 Provinsi dengan Tenaga Kerja Disabilitas Tertinggi 2024
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/publication/2026/01/12/7cafd1df082c81784e0e15f8/booklet-sakernas-agustus-2025.html
Penulis: Angel Gavrila
Editor: Editor