Mulai Juli 2026 BBM di Indonesia Akan Dicampur Etanol 5%, Apakah Indonesia Siap?

Mulai Juli 2026, pemerintah menerapkan BBM campuran etanol 5% (E5). Simak tujuan, wilayah penerapan, dan kesiapan Indonesia menjalankannya.

Mulai Juli 2026 BBM di Indonesia Akan Dicampur Etanol 5%, Apakah Indonesia Siap? Ilustrasi SPBU | Unsplash
Ukuran Fon:

Mulai Juli 2026, pemerintah akan menerapkan kebijakan BBM dicampur etanol 5% (E5) di sejumlah wilayah Indonesia. Kebijakan ini diumumkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebagai tahap awal implementasi program E5 yang akan berjalan beriringan dengan mandatori biodiesel B50.

Penerapan program E5 mengacu pada Keputusan Menteri ESDM No.113/K/EK.05/MEM.E/2026 tentang Penahapan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (BBN). Dalam peraturan tersebut, pemerintah mewajibkan badan usaha BBM melakukan pencampuran BBN secara bertahap. Tahap awal penerapan kebijakan ditargetkan 5% pada 2026–2027 dan akan terus ditingkatkan menjadi 10% pada 2028–2030. 

Pada tahap awal penerapan mandatori E5 tahun 2026 akan dilakukan secara bertahap di enam wilayah, yakni Jawa Timur, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, dan  DI Yogyakarta. Cakupan wilayah kemudian diperluas pada 2027 mencakup Bali, dan selanjutnya hingga 2030 program ini juga meluas ke Lampung. 

Terkait dengan jenis Bahan Bakar Minyak (BBM) apa yang akan dicampur dengan etanol masih dalam pembahasan. Namun, PT Pertamina (Persero) sebelumya telah memasarkan Pertamax Green 95, yaitu bensin E5 dengan kandungan bioetanol nabati sebesar 5% yang dipadukan dengan bensin beroktan (RON) 95. 

Baca Juga: Persentase Kandungan Etanol pada Produk-produk BBM Pertamina

Apa Tujuan Mencampur Etanol pada BBM?

Bioetanol merupakan jenis alkohol atau etil alkohol dengan senyawa (C₂H₅OH) yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan organik yang mengandung gula atau pati. Bahan baku yang umum digunakan antara lain tetes tebu (molase), jagung, singkong, dan berbagai komoditas pertanian lainnya yang dapat diperbarui.

Tujuan utama penggunaan etanol sebagai campuran pada bensin atau diesel adalah untuk mengurangi ketergantungan terhadap BBM fosil impor dan memanfaatkan sumber energi domestik yang lebih ramah lingkungan. 

Melansir dari Pertamina One Solution, bahan bakar bioetanol dinilai lebih ramah lingkungan karena menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar berbasis fosil. 

Selain itu, pengembangan energi berbasis bioetanol juga menjadi bagian dari agenda transisi energi nasional menuju pemanfaatan energi yang lebih berkelanjutan.

Siapa Saja Produsen Bioetanol di Indonesia?

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, untuk mendukung implementasi program E5, pemerintah akan mengandalkan pasokan bioetanol dalam negeri, saat ini Indonesia memiliki 14 pabrik bioetanol yang tersebar di berbagai daerah. 

Dari jumlah tersebut, enam pabrik telah mampu memproduksi bioetanol fuel grade yang dapat digunakan sebagai campuran bahan bakar. Akan tetapi, hingga saat ini baru tiga perusahaan yang telah memiliki izin usaha dan siap memasok bioetanol untuk mendukung program mandatori E5.

Berikut daftar 14 produsen bioetanol di Indonesia beserta kapasitas produksinya. 

Daftar 14 pabrik bioetanol di Indonesia
Daftar 14 Pabrik Bioetanol di Indonesia | GoodStats

Berdasarkan data tersebut, hanya beberapa perusahaan yang saat ini memiliki kapasitas produksi etanol fuel grade. PT Molindo Raya Industrial di Lawang, Jawa Timur, menjadi salah satu produsen terbesar dengan kapasitas produksi bioetanol mencapai 80.000 kiloliter per tahun dan kapasitas fuel grade sebesar 60.000 kiloliter. Perusahaan ini telah memiliki izin usaha dan menjadi salah satu calon pemasok utama untuk mendukung program mandatori E5.

Selain itu, PT Indonesia Ethanol Industry di Lampung memiliki kapasitas produksi bioetanol sebesar 76.923 kiloliter per tahun dengan kapasitas fuel grade sekitar 20.000 kiloliter. Perusahaan ini juga termasuk produsen yang telah memiliki izin usaha untuk mendukung pengembangan bioetanol nasional.

Di sisi lain, PT Energi Agro Nusantara (Enero) di Mojokerto, Jawa Timur, tercatat memiliki kapasitas produksi bioetanol sebesar 30.000 kiloliter per tahun dan telah mengantongi izin usaha. Sementara itu, PT Indo Acidatama di Solo memiliki kapasitas produksi 58.825 kiloliter per tahun dengan kapasitas fuel grade sekitar 3.000 kiloliter, tetapi masih terkendala karena belum memiliki izin usaha niaga BBN.

Data tersebut juga menunjukkan bahwa sejumlah pabrik bioetanol belum dapat berkontribusi langsung terhadap program E5. Beberapa perusahaan seperti PT Medco Ethanol, PT Permata Sakti, PT Ethanol Ceria Abadi, dan PT Basis Indah tercatat tidak beroperasi. Selain itu, ada pula pabrik yang masih memproduksi etanol untuk kebutuhan industri non-bahan yang belum dapat memproduksi bioetanol untuk BBN.

Apakah Indonesia Siap Menerapkan BBM Bioetanol E5?

Secara regulasi, pemerintah telah menyiapkan kerangka hukum pelaksanaan E5, termasuk Kepmen ESDM No. 113/2026. Namun, kesiapan operasional masih terbatas oleh ketersediaan pasokan etanol fuel-grade. Hingga pertengahan 2026, baru teridentifikasi tiga perusahaan yang dapat memasok bioetanol  dalam skala besar. 

Selain itu, dari 14 pabrik terpasang di Indonesia, baru 4–5 unit yang benar-benar beroperasi sisanya belum berizin niaga atau sedang dibangun. Artinya, kapasitas produksi bioetanol nasional masih perlu ditingkatkan untuk mendukung penerapan BBM dicampur etanol 5% secara lebih luas.

Oleh sebab itu, penerapan E5 akan dilakukan bertahap. Tahap awal difokuskan di Pulau Jawa (Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, DIY) dan sektor non-subsidi. Bahkan, Dirjen EBTKE Eniya Listiani Dewi menegaskan E5 Juli 2026 tidak langsung dipasang di semua SPBU, infrastruktur dan peralatan distribusi masih harus disiapkan lebih dulu.

“Enggak. Belum [seluruh SPBU]. Kemungkinan belum, karena kita lagi mendata infrastruktur sama Pertamina. Peralatan-peralatannya harus di-cleaning,” ungkap Eniya dikutip dari Bloomberg Techno, Senin (15/6/2026). 

Baca Juga: Harga Pertamax Naik, Bagaimana Perbandingan Harga BBM Indonesia dan Negara Lain?

Penulis: Helni Sadiyah
Editor: Firda Wandira

Konten Terkait

Hasil dan Klasemen Grup I Piala Dunia 2026, Menang Skor 4-1 Bikin Norwegia Gusur Prancis dari Puncak

Norwegia berhasil menang dengan skor 4-1 di laga perdana Piala Dunia setelah absen 28 tahun.

Hasil Pertandingan Piala Dunia 2026: Skor 3-1 Prancis vs Senegal, Mbappe Jadi Hero dengan 2 Gol

Prancis mengawali perjalanan di Piala Dunia 2026 dengan tiga poin.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan SSO GNFI Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook