Masalah MBG dan gizi anak di Indonesia saat ini masih perlu mendapat perhatian yang lebih serius dari pemerintah. Permasalahan utama seperti stunting, wasting, ataupun berat badan pada anak masih menjadi permasalahan yang cukup serius.
Memang, tren penurunan stunting mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa ketimpangan antarwilayah, kelompok usia, dan kondisi ekonomi masih menjadi tantangan besar yang belum sepenuhnya teratasi.
Data Jumlah Anak yang Kurang Gizi di Indonesia
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di Indonesia berada di angka 19,8%. Angka ini menunjukkan adanya perbaikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa masalah gizi sudah terkendali sepenuhnya.
Jika melihat tren dalam lima tahun terakhir, penurunan stunting memang terjadi secara bertahap. Pada 2020 angkanya masih 26,92%, lalu turun menjadi 24,4% di 2021 dan kembali menurun ke 21,6% pada 2022.
Setelah itu, penurunannya cenderung melambat, yaitu 21,5% di 2023 sebelum akhirnya mencapai 19,8%. Pola ini menunjukkan bahwa penurunan awal cukup signifikan, tetapi semakin mendekati target, laju perbaikannya tidak lagi secepat sebelumnya.
Provinsi dengan Prevalensi Balita Stunting di Indonesia
Berikut gambaran provinsi dengan prevalensi balita bermasalah gizi tertinggi:
Jika difokuskan pada stunting, terlihat bahwa beberapa provinsi masih berada jauh di atas rata-rata nasional.
Papua Pegunungan menempati posisi tertinggi dengan angka 40,0%, diikuti oleh Nusa Tenggara Timur sebesar 37,0% dan Sulawesi Barat sebesar 35,4%. Angka-angka ini menunjukkan bahwa masalah gizi kronis masih sangat berat di wilayah tersebut dan belum tersentuh secara optimal oleh intervensi.
Kelompok berikutnya seperti Papua Tengah (32,5%) dan Papua Barat Daya (30,5%) juga masih berada di atas 30%, yang menunjukkan bahwa persoalan stunting di wilayah timur Indonesia cenderung bersifat struktural dan membutuhkan penanganan jangka panjang.
Sementara itu, provinsi seperti Nusa Tenggara Barat (29,8%), Aceh (28,6%), dan Maluku (28,4%) berada sedikit di bawahnya, tetapi tetap menunjukkan angka yang tinggi dan jauh dari kondisi ideal.
Bahkan provinsi dengan angka lebih rendah dalam daftar ini seperti Kalimantan Barat (26,8%) dan Sulawesi Tengah (26,1%) masih berada di atas 25%, yang berarti masalah stunting masih tersebar luas dan tidak terbatas pada satu kawasan saja.
Secara umum, tabel ini memperlihatkan bahwa wilayah dengan keterbatasan akses dan kondisi sosial ekonomi yang lebih menantang cenderung memiliki angka stunting yang lebih tinggi.
Berikutnya, jika dilihat dari kelompok umur balita:
Jika dilihat berdasarkan usia, terlihat bahwa risiko meningkat seiring bertambahnya umur anak.
Pada usia 0-5 bulan, angka stunting masih relatif rendah di 10,1%, tetapi mulai meningkat menjadi 11,5% pada usia 6-11 bulan. Lonjakan yang cukup signifikan terjadi pada usia 12-23 bulan dengan angka 19,9%.
Puncak stunting terjadi pada usia 24-35 bulan sebesar 24,2%, yang menunjukkan bahwa fase setelah satu tahun pertama kehidupan menjadi periode paling rentan.
Setelah itu, angka mulai menurun pada usia 36-47 bulan menjadi 21,9% dan kembali turun pada usia 48-59 bulan menjadi 19,2%, meskipun tetap berada di level yang cukup tinggi.
Pola ini menunjukkan bahwa kegagalan pemenuhan gizi pada awal kehidupan, terutama pada masa 1.000 hari pertama, memiliki dampak jangka panjang yang sulit diperbaiki pada usia berikutnya.
Baca Juga: 88% Manfaat MBG Dinilai Mengalir ke Elit dan Mitra Program, Anak-Anak Hanya 6,5%
Penyebab Masih Terjadinya Stunting di Indonesia
Masalah gizi balita dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berkaitan. Dari sisi rumah tangga, kondisi ibu menjadi faktor penting sejak awal yang sangat perlu diperhatikan.
Status gizi ibu, anemia saat kehamilan, usia ibu, hingga jarak kehamilan dapat memengaruhi pertumbuhan janin. Bayi yang lahir dengan berat badan rendah atau prematur memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami stunting.
Selain itu, kondisi ekonomi keluarga juga sangat berpengaruh. Pendapatan yang rendah membuat akses terhadap makanan bergizi menjadi terbatas dan susah dijangkau.
Rendahnya pendidikan orang tua juga berdampak pada kurangnya pemahaman tentang gizi dan pola asuh anak. Sanitasi yang buruk dan akses air bersih yang terbatas turut memperbesar risiko infeksi pada anak.
Dari sisi pemberian makan, praktik yang kurang tepat masih sering terjadi. Tidak semua anak mendapatkan ASI yang eksklusif.
Kualitas makanan pendamping ASI juga sering kali belum memenuhi kebutuhan gizi. Banyak anak mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat tetapi rendah protein dan zat gizi penting lainnya.
Dari sisi perawatan kesehatan, akses layanan kesehatan masih menjadi tantangan tersendiri. Anak yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap atau tidak rutin dipantau pertumbuhannya berisiko lebih tinggi mengalami gangguan gizi.
Selain itu, Infeksi berulang dapat menurunkan nafsu makan dan menghambat penyerapan nutrisi.
Kondisi ini menciptakan siklus yang sangat sulit untuk diputus. Anak yang kurang gizi lebih mudah sakit, dan anak yang sering sakit semakin sulit memenuhi kebutuhan gizinya.
Melihat keseluruhan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa penurunan angka stunting memang merupakan langkah yang maju dan progesif.
Namun, tantangan terbesar saat ini adalah memastikan pemerataan intervensi agar seluruh anak Indonesia memiliki kesempatan untuk tumbuh dengan keadaan yang sehat dan optimal.
Baca Juga: Masyarakat Menengah ke Bawah Paling Banyak Menolak MBG
Sumber:
https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/survei-status-gizi-indonesia-ssgi-2024/
Penulis: Raka Adichandra
Editor: Muhammad Sholeh