Penggunaan artificial intelligence (AI) telah menyasar hampir seluruh aktivitas manusia. Di satu sisi, kehadirannya membantu pekerjaan menjadi lebih cepat dan efisien, tetapi di sisi lain, banyak orang mulai resah dengan kecanggihannya yang seakan tak terkendali. Dari sini timbul pertanyaan, sampai batas apa AI boleh digunakan?
Populix telah melaksanakan survei mengenai area kehidupan yang harus dilindungi dari AI terhadap 1.100 responden berusia 17-44 tahun yang mayoritas berasal dari Pulau Jawa dan Sumatra pada 10-12 Juni 2025.
Hubungan Pribadi Jadi Ranah Utama yang Harus Dilindungi
Survei menyatakan bahwa 48% responden merasa bahwa hubungan personal harus bebas dari keterlibatan AI. Mayoritas publik ingin agar hubungan emosional dan kemanusiaan terjalin secara alami dengan orang-orang tercinta seperti keluarga, teman, dan yang lainnya.
Fenomena “curhat” dengan AI sempat marak beberapa waktu lalu. Orang-orang menceritakan keluh kesahnya kepada AI seakan-akan bercerita kepada keluarga atau sahabat. Aktivitas semacam inilah yang kemungkinan ditentang oleh mayoritas publik, salah satunya karena alasan keamanan data.
Kemudian, 31% responden juga menentang penggunaan AI untuk pengambilan keputusan hukum. Di Indonesia, AI sudah mulai digunakan dalam proses pengadilan suatu perkara. Sebagai contoh, Mahkamah Agung (MA) telah menggunakan aplikasi “Smart Majelis” untuk menentukan majelis hakim secara otomatis berdasarkan beban kerja, kompetensi, dan jenis perkara yang ditangani.
Namun, penggunaan AI di peradilan Indonesia hanya untuk aktivitas pendukung dan publik berharap agar keterlibatannya tidak sampai menyentuh aspek substansial seperti pengambilan keputusan.
Sementara itu, 30% publik ingin agar ranah keuangan dan keputusan investasi bisa terlindungi dari campur tangan AI. Banyak yang menilai AI bukan pihak yang bisa dimintai pertanggungjawaban jika suatu saat terjadi kerugian.
Adapun 27% lainnya sepakat bahwa AI tak boleh terlibat dengan aktivitas pendidikan anak. Dalam proses tumbuh kembangnya, anak-anak membutuhkan dukungan emosional dan kasih sayang yang lebih, baik itu dari orang tua maupun guru. Oleh karenanya, peran manusia lebih diperlukan untuk membentuk kecerdasan emosional si kecil dibanding teknologi.
Selanjutnya bidang kesehatan dan diagnosis medis juga diharapkan bebas dari keterlibatan AI oleh 25% responden, menandakan besarnya kekhawatiran publik terhadap campur tangan AI dalam dunia medis.
Bidang terakhir yang publik harap bebas dari campur tangan AI adalah proses kreatif dengan capaian 17%, mencerminkan tingginya apresiasi publik terhadap kreativitas manusia dalam berkarya.
Baca Juga: AI Kian Berisiko, Apa Langkah yang Harus Diambil?
Sumber:
https://info.populix.co/id/data-hub/reports/ai-in-everyday-life
Penulis: NAUFAL ALBARI
Editor: Editor