41% Publik Pertimbangkan Label Bebas BPA Saat Pilih Air Mineral, Mengapa Penting?

Menurut survei GoodStats, botol air mineral tanpa BPA jadi pertimbangan utama 41,9% responden saat membeli minum, mengingat risiko kesehatan yang mengintai.

41% Publik Pertimbangkan Label Bebas BPA Saat Pilih Air Mineral, Mengapa Penting? Ilustrasi Air Mineral Kemasan | Pixabay/Pexels
Ukuran Fon:

Pilihan produk air mineral setiap orang tentu bisa berbeda-beda tergantung preferensi. Sebagian orang mencari air mineral yang terasa segar, sebagian lain mengutamakan rasa yang netral tanpa residu, dan tidak sedikit pula yang mempertimbangkan kualitas mineral serta aspek kesehatan dari produk tersebut.

Menurut survei GoodStats bertajuk Pola Perilaku Masyarakat Saat Ramadan dan Idulfitri 2026, preferensi publik terhadap merek air mineral juga bisa dipengaruhi oleh citra rasa, kualitas, dan kemasan. Survei ini melibatkan 1.000 responden berusia 19–55 tahun yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia, dengan periode pengambilan data pada 10–24 Februari 2026.

Dalam survei tersebut, 50,2% responden memilih merek Le Minerale sebagai air mineral yang paling direkomendasikan selama Ramadan. Di posisi berikutnya terdapat Aqua (24,3%), disusul Crystalline (7%), Pristine (4,5%), Nestlé (4,2%), Cleo (3%), dan Vit (1,8%). Selain rasa dan kualitas, pertimbangan responden dalam memilih air mineral dengan merek tersebut berasal dari faktor kemasan yang bebas dari BPA.

Kemasan Air Mineral Bebas BPA Jadi Pilihan 41,9% Responden | GoodStats
Kemasan Air Mineral Bebas BPA Jadi Pilihan 41,9% Responden | GoodStats

Baca Juga: Air Mineral untuk Berbuka Puasa: 50,2% Responden Rekomendasikan Le Minerale

Hasil survei menunjukkan 41,9% responden memilih merek air mineral dengan kemasan yang bebas BPA. Angka ini menjadi faktor pemilihan merek air mineral paling dominan dibanding alasan lainnya. Faktor berikutnya adalah tutup botol kemasan yang rapat dan aman (40,4%), yang menunjukkan bahwa konsumen juga memperhatikan aspek higienitas produk.

Kemudian, 32,5% responden mempertimbangkan ketersediaan berbagai ukuran kemasan, sementara 28,9% memilih karena desain kemasan yang menarik. Ada pula faktor kesehatan lain seperti bebas bahan kimia (25,5%) serta kualitas botol yang kuat dan tidak mudah penyok (20,1%).

Temuan ini menunjukkan bahwa keamanan kemasan dan kesehatan menjadi pertimbangan utama konsumen dalam memilih merek air mineral. Tingginya perhatian terhadap label bebas BPA dan keamanan tutup botol menandakan masyarakat semakin sadar terhadap risiko kesehatan yang bisa muncul dari kemasan pangan.

Mengapa Kemasan Bebas BPA Penting?

BPA atau Bisphenol A merupakan senyawa kimia yang digunakan dalam pembuatan plastik jenis polikarbonat (PC). Bahan ini banyak digunakan dalam berbagai wadah makanan dan minuman, seperti botol minum, wadah makanan, galon air, lapisan dalam kaleng, hingga botol susu bayi.

BPA biasanya ditambahkan untuk membuat plastik lebih kuat, tahan lama, dan tidak mudah pecah. Umumnya, kemasan yang mengandung BPA memiliki kode segitiga daur ulang angka 3 atau 7 di bagian bawah wadah.

Namun, penggunaan BPA pada kemasan makanan dan minuman dinilai memiliki risiko kesehatan. BPA dapat meresap ke dalam makanan atau minuman yang disimpan di dalam wadah tersebut, terutama jika terpapar panas atau digunakan dalam waktu lama.

Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), BPA memiliki efek yang menyerupai hormon estrogen dan dapat berinteraksi dengan reseptor hormon melalui mekanisme endocrine disruptors. Paparan BPA yang berlebihan dapat mengganggu sistem reproduksi pria dan wanita, meningkatkan risiko obesitas, memengaruhi sistem kardiovaskular, meningkatkan risiko diabetes, hingga mengganggu perkembangan otak pada anak. Bahkan dalam paparan tertentu, zat ini juga dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker.

Oleh karena itu, banyak konsumen kini mulai memilih produk dengan label BPA Free sebagai alternatif yang lebih aman.

Batas Paparan BPA di Indonesia

Di Indonesia sendiri, pemerintah telah menetapkan batas aman penggunaan BPA pada kemasan pangan. Dalam Peraturan BPOM Nomor 20 Tahun 2019 tentang Kemasan Pangan, batas migrasi maksimal Bisfenol A pada kemasan plastik polikarbonat ditetapkan sebesar 0,6 bpj (bagian per juta, mg/kg).

Pemerintah juga mewajibkan industri kemasan untuk mencantumkan logo tara pangan dan kode daur ulang agar keamanan kemasan pangan dapat dipastikan.

Selain itu, masyarakat diimbau untuk selalu menerapkan prinsip Cek KLIK sebelum membeli produk pangan, yakni cek kemasan, cek label, cek izin edar, dan cek kedaluwarsa saat membeli air mineral kemasan.

Baca Juga: Transparansi Baru! Ini Daftar Sumber Mata Air dari 8 Perusahaan Air Mineral di Indonesia

Sumber:

https://goodstats.id/publication/survei-pola-perilaku-masyarakat-saat-ramadan-dan-idulfitri-2026-XRJ6U

Penulis: Talita Aqila Shafidhya
Editor: Editor

Konten Terkait

Indonesia Jadi Rumah 793 Spesies Mamalia, Terbanyak di Dunia

Indonesia jadi negara dengan spesies mamalia terbanyak di dunia yaitu 793 spesies, disusul Brasil (785 spesies), dan China (746 spesies).

Ini 10 Provinsi Teratas dalam Penerapan Norma K3 2024

Penerapan norma K3 meningkat selama 2024, mencerminkan komitmen perusahaan terhadap keselamatan kerja nasional.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook