Lembaga kepolisian memiliki tugas utama menjaga keamanan masyarakat. Dalam implementasinya, polisi bertanggung jawab atas banyak hal, meliputi pelayanan publik, pemeliharaan keamanan dan ketertiban, penegakkan hukum, serta berbagai upaya perlindungan masyarakat sipil lainnya.
Pada 2023, International Police Science Association (IPSA) melalui publikasinya berjudul World Internal Security and Police Index (WISPI), telah merilis indeks keamanan dalam negeri dan polisi secara global menggunakan empat indikator penilaian mencakup kapasitas, proses, legitimasi, dan hasil.
Indikator kapasitas digunakan untuk mengukur efektivitas penggunaan sumber daya yang dimiliki kepolisian dalam menciptakan rasa aman di kalangan masyarakat. Hal ini berkaitan dengan kecukupan jumlah personil polisi dan kualitas infrastruktur yang mendukung kegiatan operasional.
Setelah itu, indikator proses menilai mekanisme penegakan hukum yang dilakukan atas beragam kasus kriminal yang terjadi. Dengan kata lain, indikator ini berupaya menilai integritas dan efektivitas penegakan hukum atas kasus-kasus yang ditangani.
Selanjutnya, indikator legitimasi lebih berfokus pada pengukuran tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pihak kepolisian. Kemudian indikator hasil mengukur potensi ancaman terhadap keamanan internal suatu negara. Bisa dibilang indikator ini berguna untuk mengukur rasa aman masyarakat secara menyeluruh.
Indonesia Peringkat 4 di ASEAN
Hasil survei menunjukkan bahwa Singapura menjadi negara dengan perolehan indeks tertinggi di ASEAN, mencapai 0,84. Angka ini merupakan hasil skor keseluruhan dari keempat indikator yang diujikan. Capaiannya yang gemilang menandakan kepolisian Singapura memiliki kinerja yang begitu unggul dan memuaskan.
Kemudian, Malaysia keluar sebagai peringkat kedua dengan capaian indeks sebesar 0,62. Beranjak pada posisi ketiga, Vietnam menyusul dengan skor yang tak jauh berbeda yakni 0,61.
Indonesia sendiri berhasil menempati posisi keempat dengan perolehan indeks 0,51. Dalam ruang lingkup ASEAN, kepolisian Indonesia menunjukkan performa yang tidak terlalu unggul namun tetap stabil.
Lebih lanjut, Thailand, Filipina, dan Myanmar berbagi besaran indeks yang sama yaitu 0,47. Sementara itu, Kamboja mengikuti di posisi paling akhir dengan capaian indeks 0,42. Hal ini sejalan dengan fakta akan tingginya angka kriminalitas yang terjadi di Kamboja.
Peringkat Secara Global dan Indeks per Indikator
Secara global, Singapura bertengger pada posisi keempat dengan detail capaian indikator kapasitas (0,79), proses (0,72), legitimasi (0,87), dan hasil (0,96).
Tampak bahwa perolehan indeks indikator hasil dari Indonesia berada di atas rata-rata negara ASEAN, mencapai 0,92 poin. Indeks hasil Indonesia bahkan menempati posisi ketiga tertinggi di dunia setelah Singapura dan Norwegia.
Di sisi lain, indeks kapasitas dan proses kepolisian RI mencatatkan perolehan yang sangat rendah, menandakan perlunya upaya peningkatan sumber daya dan integritas penegakan hukum. Dari sisi legitimasi, Indonesia mendapatkan skor yang cukup tinggi, mencerminkan peningkatan kepercayaan publik terhadap kepolisian.
Adapun survei ini dilakukan oleh IPSA terhadap 125 negara di dunia menggunakan keempat indikator yang telah disebutkan sebelumnya. Negara dengan populasi kurang dari satu juta atau luas wilayah kurang dari 10.000 km persegi tidak disertakan dalam survei, begitu juga dengan negara yang sedang mengalami konflik internal berat.
Baca Juga: Survei GoodStats 2025: Mayoritas Masyarakat Masih Ragu pada Polisi
Sumber:
https://ipsa-police.org/wp-content/uploads/2023/11/2023-World-Internal-Security-and-Police-Index.pdf
Penulis: NAUFAL ALBARI
Editor: Editor