Selain mengalami kenaikan harga, kualitas buah kelapa yang beredar di pasaran juga dinilai semakin menurun. Keluhan ini dirasakan oleh berbagai kalangan, mulai dari pelaku usaha hingga ibu rumah tangga. Banyak yang menilai ukuran, kesegaran, dan mutu kelapa tidak lagi sebanding dengan harga yang harus dibayar, sehingga menambah beban bagi konsumen dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kualitas buah kelapa yang memburuk terjadi karena beberapa hal. Menurut Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik (Kedai Kopi), 75,6% responden menduga hal ini diakibatkan kelapa dipanen sebelum waktunya. Untuk memperoleh kualitas sempurna, kelapa memang sebaiknya dibiarkan tumbuh dan dipanen hanya jika sudah memasuki musim panen.
Sementara itu, 29,3% lainnya berpendapat bahwa alasannya adalah karena pedagang, pemasok, atau petani tidak mempunyai stok kelapa bulat sehingga terpaksa menghabiskan stok kelapa dengan mutu yang rendah. Adapun 2,4% sisanya merasa aktivitas ekspor dan harganya yang mahal turut menjadi penyebab.
Meski demikian, mayoritas publik meyakini bahwa alasan utamanya adalah karena masa panen yang dipaksakan. Lantas, apa alasan para petani memanen kelapa lebih awal?
Kedai Kopi telah melakukan survei terhadap 40 penjual kelapa mengenai pandangan mereka terkait alasan para petani melakukan panen lebih awal. Survei dilakukan secara tatap muka di enam kota dengan metode stratified random sampling pada 24 November-1 Desember 2025.
Baca Juga: Harga Kelapa dan Produk Olahannya Naik, Apa Dampaknya Bagi UMKM?
Desakan Pasar Jadi Faktor Utama
Survei menunjukkan bahwa 57,5% responden merasa desakan permintaan kelapa dengan volume cepat dari pemasok atau agen jadi penyebab utama. Selain itu, lonjakan permintaan kelapa bulat dari eksportir juga turut mendorong tindakan panen yang lebih cepat, capaiannya 45%.
Temuan ini mencerminkan betapa besarnya pengaruh permintaan pasar terhadap aktivitas pertanian. Desakan permintaan dari berbagai pihak membuat publik petani terpaksa memanen kelapa meski belum tiba waktunya.
Selanjutnya, 37,5% publik juga meyakini alasan panen yang terlalu cepat karena ketidaktahuan petani tentang masa panen itu sendiri, menandakan bahwa pengetahuan akan karakteristik tumbuhan penting untuk dimiliki sebagai modal utama.
Di sisi lain, faktor alam seperti cuaca yang tidak bersahabat juga mendorong petani melakukan panen lebih cepat untuk mengurangi risiko dan menyesuaikan kondisi, capaiannya 7,5%.
Saat hujan turun dengan intensitas dan frekuensi yang tinggi, buah kelapa biasanya lebih cepat rusak karena rentan ditumbuhi jamur atau diserang hama. Oleh sebab itu, petani memilih panen lebih awal dibanding mendapati buah yang rusak seluruhnya.
Kemudian, 5% lainnya mengatakan bahwa beberapa petani tergiur dengan tingginya harga kelapa saat ini sehingga cenderung ingin memperoleh keuntungan yang besar.
Jenis Penurunan Mutu Kelapa dan Produk Olahannya
Dari 30 responden yang terdiri atas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta IRT, sebanyak 56,6% merasa ukuran kelapa yang dijual jadi lebih kecil dari biasanya, perubahan ini jadi yang paling banyak dialami dibanding yang lain.
Lalu, 16,7% publik merasa ketebalan daging kelapa juga kian berkurang seiring berjalannya waktu. Di samping itu, kesegaran buah kelapa juga menurun menurut 10% responden.
Adapun untuk produk olahannya, penurunan mutu terjadi pada konsistensi kekentalan santan (6,7%), kesegaran produk olahan (6,7%), dan cita rasa (3,3%).
Baca Juga: Indonesia Jadi Eksportir Kelapa Sawit Terbesar 2024
Sumber:
https://kedaikopi.co/flipbook/riset-ekonomi-survei-kondisi-kebutuhan-kelapa-di-indonesia/
Penulis: NAUFAL ALBARI
Editor: Editor