Kualitas Kelapa Menurun, 75% Publik Sebut Karena Usia Panen Terlalu Dini

Menurut publik, alasan utama para petani lakukan panen lebih awal karena desakan permintaan dari pemasok dan agen besar, capaiannya 57,5%.

Kualitas Kelapa Menurun, 75% Publik Sebut Karena Usia Panen Terlalu Dini Ilustrasi Kelapa | Couleur/Pixabay
Ukuran Fon:

Selain mengalami kenaikan harga, kualitas buah kelapa yang beredar di pasaran juga dinilai semakin menurun. Keluhan ini dirasakan oleh berbagai kalangan, mulai dari pelaku usaha hingga ibu rumah tangga. Banyak yang menilai ukuran, kesegaran, dan mutu kelapa tidak lagi sebanding dengan harga yang harus dibayar, sehingga menambah beban bagi konsumen dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kualitas buah kelapa yang memburuk terjadi karena beberapa hal. Menurut Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik (Kedai Kopi), 75,6% responden menduga hal ini diakibatkan kelapa dipanen sebelum waktunya. Untuk memperoleh kualitas sempurna, kelapa memang sebaiknya dibiarkan tumbuh dan dipanen hanya jika sudah memasuki musim panen.

Sementara itu, 29,3% lainnya berpendapat bahwa alasannya adalah karena pedagang, pemasok, atau petani tidak mempunyai stok kelapa bulat sehingga terpaksa menghabiskan stok kelapa dengan mutu yang rendah. Adapun 2,4% sisanya merasa aktivitas ekspor dan harganya yang mahal turut menjadi penyebab.

Meski demikian, mayoritas publik meyakini bahwa alasan utamanya adalah karena masa panen yang dipaksakan. Lantas, apa alasan para petani memanen kelapa lebih awal?

Kedai Kopi telah melakukan survei terhadap 40 penjual kelapa mengenai pandangan mereka terkait alasan para petani melakukan panen lebih awal. Survei dilakukan secara tatap muka di enam kota dengan metode stratified random sampling pada 24 November-1 Desember 2025.

Baca Juga: Harga Kelapa dan Produk Olahannya Naik, Apa Dampaknya Bagi UMKM?

Desakan Pasar Jadi Faktor Utama

Ragam Alasan Petani Lakukan Panen Lebih Awal
Ragam Alasan Petani Lakukan Panen Lebih Awal | GoodStats

Survei menunjukkan bahwa 57,5% responden merasa desakan permintaan kelapa dengan volume cepat dari pemasok atau agen jadi penyebab utama. Selain itu, lonjakan permintaan kelapa bulat dari eksportir juga turut mendorong tindakan panen yang lebih cepat, capaiannya 45%.

Temuan ini mencerminkan betapa besarnya pengaruh permintaan pasar terhadap aktivitas pertanian. Desakan permintaan dari berbagai pihak membuat publik petani terpaksa memanen kelapa meski belum tiba waktunya.

Selanjutnya, 37,5% publik juga meyakini alasan panen yang terlalu cepat karena ketidaktahuan petani tentang masa panen itu sendiri, menandakan bahwa pengetahuan akan karakteristik tumbuhan penting untuk dimiliki sebagai modal utama.

Di sisi lain, faktor alam seperti cuaca yang tidak bersahabat juga mendorong petani melakukan panen lebih cepat untuk mengurangi risiko dan menyesuaikan kondisi, capaiannya 7,5%.

Saat hujan turun dengan intensitas dan frekuensi yang tinggi, buah kelapa biasanya lebih cepat rusak karena rentan ditumbuhi jamur atau diserang hama. Oleh sebab itu, petani memilih panen lebih awal dibanding mendapati buah yang rusak seluruhnya.

Kemudian, 5% lainnya mengatakan bahwa beberapa petani tergiur dengan tingginya harga kelapa saat ini sehingga cenderung ingin memperoleh keuntungan yang besar.

Jenis Penurunan Mutu Kelapa dan Produk Olahannya

Jenis Penurunan Mutu Kelapa Menurut Pelaku UMKM dan IRT
Jenis Penurunan Mutu Kelapa Menurut Pelaku UMKM dan IRT | GoodStats

Dari 30 responden yang terdiri atas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta IRT, sebanyak 56,6% merasa ukuran kelapa yang dijual jadi lebih kecil dari biasanya, perubahan ini jadi yang paling banyak dialami dibanding yang lain.

Lalu, 16,7% publik merasa ketebalan daging kelapa juga kian berkurang seiring berjalannya waktu. Di samping itu, kesegaran buah kelapa juga menurun menurut 10% responden.

Adapun untuk produk olahannya, penurunan mutu terjadi pada konsistensi kekentalan santan (6,7%), kesegaran produk olahan (6,7%), dan cita rasa (3,3%).

Baca Juga: Indonesia Jadi Eksportir Kelapa Sawit Terbesar 2024

Sumber:

https://kedaikopi.co/flipbook/riset-ekonomi-survei-kondisi-kebutuhan-kelapa-di-indonesia/

Penulis: NAUFAL ALBARI
Editor: Editor

Konten Terkait

Head-to-Head Persik vs Persib, Persentase Victory Maung Bandung Capai 70 %

Dalam lima pertemuan terakhir, Persib menang tiga kali atas Persik.

Head-to-Head Bhayangkara FC vs Dewa United, Banten Warriors Mendominasi

Tuan rumah Bhayangkara FC tanpa kemenangan di empat laga belakangan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook