Kilas Balik Pemilu 2024: Serba-Serbi Konflik Jelang Pemungutan Suara hingga Penghitungan Suara

Pemilu 2024 telah dilaksanakan tapi nyatanya masih banyak catatan merah pada pelaksanaannya, mulai dari persoalan kedisiplinan, intimidasi, dan sebagainya.

Kilas Balik Pemilu 2024: Serba-Serbi Konflik Jelang Pemungutan Suara hingga Penghitungan Suara Sumber: Teguh/Info Publik

Pesta demokrasi belum usai, masyarakat masih menanti keputusan babak baru presidensial Indonesia. Segala tagar dan topik pemberitaan maupun perbincangan masih mengarah kepada harapan, tanggapan, dan tidak terhindari pernyataan kemenangan hingga pesan penenang mengenai kekalahan.

Para pasangan calon presiden dan wakil presiden “pasang badan” menghadapi dan menasihati setiap pendukungnya menghadapi segala kenyataan yang akan terjadi, sembari berterimakasih terhadap setiap kisah maupun kasih selama masa kampanye, masa tenang, hingga pencoblosan.

“Semua penghitungan, semua lembaga survei termasuk lembaga-lembaga yang berada di pihak-pihak paslon lain menunjukkan angka-angka yang memang paslon Prabowo-Gibran menang sekali putaran” ujar Prabowo optimis di hadapan para pendukung dan tim pemenangannya saat bersama-sama menghadiri Gelora Bung Karno (14/02/2024).

Optimisme pihak Prabowo-Gibran berlandaskan penghitungan cepat yang sejauh ini memang masih menjadi satu-satunya landasan untuk masyarakat menerka pemilik suara terbanyak pasca pencoblosan Capres-Cawapres Indonesia.

Namun, keteguhan para paslon lainnya juga tidak serta meredup menjelang proses rekapitulasi pengitungan pasti oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), seperti yang terjadi pada kubu AMIN (Anis-Imin) dan Ganjar-Mahfud.

“Kita masih panjang perjalanannya, jangan pernah berpikir, oh kita sedang jeda. Tidak, kita sedang jalan terus dan kita Inshaallah bikin perubahan. Jadi saya bilang, kita dan tidak perlu merasa harus membesarkan hati, tidak pernah ada hati yang kecil. Tidak ada yang perlu dibesarkan karena hati kita selalu besar” pesan Anies Baswedan di hadapan para relawan dan pendukungnya.

Ujaran Anies tersebut tentu menyiratkan bahwa segala penghitungan selama masih belum keputusan mutlak pihak penyelenggara Pemilu 2024 seperti KPU maupun Mahkamah Konstitusi (MK) maka baginya, tidak perlu ada sesal yang perlu diutarakan.

Dirinya juga merasa bahwa perjuangan yang telah ditorehkannya bersama tim AMIN tersebut merupakan suatu langkah yang memang dinobatkan bagi perjuangan perbaikan rakyat, bukan sekadar pilihan atau sekadar opsional kontestasi semata.

“Apapun hasil Pilpres ini, saya akan terus berjuang untuk demokrasi dan keadilan. Jalan perjuangan untuk demokrasi dan keadilan bukan hanya Pemilu. Pemilu hanya salah satu ekspresi demokrasi” jelas Mahfud MD sebagai Cawapres Ganjar kepada para pewarta.

Keterangan Mahfud tersebut juga sarat menggabarkan optimisme penegakan demokrasi sepanjang waktu dan kelapangan terhadap hasil dari proses perjuangan yang telah dilaluinya bersama tim pemenangan maupun pendukung. Suatu pernyataan yang tidak jauh beda maknanya dengan ujaran Anies Baswedan sebelumnya.

Berdasarkan keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU), akhir proses rekapitulasi suara terjadi pada 20 Maret 2024. Maka, masyarakat masih dapat melakukan pengawalan suara sepanjang dilakukannya proses rekapitulasi tersebut.

Catatan Merah Pelaksanaan Pemilu 2024: Tragedi Selama Proses Pemungutan Suara dan Penghitungan Suara

Pengawalan terhadap rekapitulasi suara tentu suatu hal krusial dikarenakan per 15 Februari 2024 saja telah ditemukan ragam permasalahan pada pelaksanaan Pemilu 2024 pada Tempat Pemungutan Suara (TPS) setempat hingga penghitungan suara masyarakat.

Data permasalahan yang terjadi selama pelaksanaan Pemilu 2024 khususnya saat pencoblosan atau pemungutan suara dilaksanakan perlu menjadi catatan merah bagi penyelenggaraan Pemilu 2024.

Persoalan kedisiplinan waktu pelaksanaan masih menjadi tugas besar masyarakat maupun aparatur Negara dalam melaksanakan Pemilu 2024. Total pelanggaran terhadap aturan ini berjumlah hingga 37,466 kasus.

Kasus kedisiplinan waktu pelaksanaan kemudian disusul permasalahan inklusivitas, khususnya kelengkapan fasilitas ramah difabel sebagai pemilih pada Pemilu 2024, mencapai 12,884 kasus. Dilansir melalui Goodstats, padahal tahun ini tercatat pemilih difabel pada Pemilu 2024 berjumlah 1.101.178.

Catatan merah lainnya yang cukup menyedihkan yaitu masih adanya kasus-kasus mengenai pemungutan suara ganda, surat suara tertukar, pemilih tidak terdata, mengarahkan pilihan pemilih hingga munculnya gangguan dari petugas atau petugas pemungutan suara sendiri kepada pemilih.

Data di atas tentu sangat merepresentasikan jelas hal-hal yang terjadi di lapangan seperti temuan yang dilansir Goodstats perihal kurangnya surat suara di daerah Kota Batam, Kepulauan Riau sehingga sebanyak delapan TPS perlu melakukan pemungutan suara susulan.

Selain tragedi pada pemungutan suara, permasalahan lainnya masih ditemukan Bawaslu pada proses penghitungan suara.

Permasalahan yang terjadi pada penghitungan suara masih tidak jauh berbeda dengan permasalahan yang terjadi pada saat pemungutan suara, hanya jenis permasalahannya juga ditambah dengan permasalahan pada ruang digital khususnya penggunaan Sirekap.

Sirekap merupakan alat bantu berbasis aplikasi digital bagi penghitungan suara Pemilihan Umum (Pemilu). Namun tercatat bahwa permasalahan akses Sirekap justru menjadi masalah utama pada proses penghitungan suara Pemilu 2024.

Intimidasi dan kedisiplinan waktu masih “mewarnai” catatan permasalahan pada proses penghitungan suara, sama halnya dengan tragedi pada proses pemungutan suara Pemiu 2024.

Kesalahan-kesalahan dan catatan evaluasi pada Pemilu 2024 tercatat masih didominasi oleh persoalan peran pelaku atau aktor pada Pemilu 2024, termasuk aparatur penegaknya maupun partisipannya yaitu pemilih Pemilu 2024.

Situasi tersebut menegaskan bahwa catatan merah Pemilu 2024 perlu mendapatkan perhatian dan proses berlanjut agar penegakan demokrasi dapat segera progresif. Memulai pergerakan penuh kemajuan, siap mempersiapkan Pemilu yang lebih ramah inklusivitas, siap siaga bencana, dan digitalisasi bukan lagi-lagi persoalan pada human capital yang ada.

Penulis: Andini Rizka Marietha
Editor: Iip M Aditiya

Konten Terkait

"Badarawuhi di Desa Penari" vs "Siksa Kubur", Mana yang Lebih Banyak Mendapatkan Penonton?

Perbedaan jumlah penonton antara kedua film ini mencerminkan variasi preferensi dan ekspektasi penonton terhadap genre horor yang beragam dan dinamis.

Lebih Dari Setengah Gen Z Puas dengan Pekerjaannya

Tengah memasuki masa-masa produktif, Gen Z dihadapkan dengan dinamika di dunia pekerjaan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Dengan melakukan pendaftaran akun, saya menyetujui Aturan dan Kebijakan di GoodStats

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook
Student Diplomat Mobile
X