Akses terhadap fasilitas sanitasi yang memadai masih menjadi persoalan serius di banyak daerah di Indonesia, terutama di kawasan perdesaan dengan infrastruktur terbatas. Kualitas sanitasi yang rendah dalam rumah tangga dapat memengaruhi kualitas hidup masyarakat, menurunkan produktivitas kerja, hingga membebani ekonomi keluarga.
Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2025, beberapa provinsi di Indonesia masih memiliki akses sanitasi rendah di bawah rata-rata nasional 85,37%.
Mengacu pada standar SDGs, BPS menilai rumah tangga dengan akses sanitasi layak apabila memiliki fasilitas buang air besar (BAB) yang digunakan sendiri atau bersama rumah tangga tertentu, ataupun mandi, cuci, kakus (MCK) komunal dengan jenis kloset leher angsa. Rumah tangga dengan akses sanitasi layak harus memiliki tangki septik atau instalasi pengolahan air limbah (IPAL), dan juga di lubang tanah jika tinggal di pedesaan sebagai tempat pembuangan akhir tinja.
Berdasarkan indikator tersebut, terdapat beberapa provinsi di Indonesia yang masih belum mencapai rata-rata nasional 85%, salah satunya Jawa Barat.
Baca Juga: 82,36% Rumah Tangga di Indonesia Sudah Miliki Akses Sanitasi Layak
Menurut data dari Susenas, Jawa Barat menempati posisi kelima sebagai provinsi dengan akses sanitasi layak terendah dengan 76,20%. Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) turut mengungkapkan, terdapat 3,11 juta kepala keluarga yang belum memiliki akses sanitasi layak pada 2025. Tercatat terdapat 233.400 kg/hari tinja yang belum terkelola dengan layak di Jawa Barat.
Kondisi tersebut memengaruhi kondisi kesehatan masyarakat, salah satunya diare dan stunting. Mantan Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Jawa Barat, Indra Maha mengatakan bahwa kasus diare di Jawa Barat mencapai 1,3 juta pada 2023. Sementara itu, prevalensi stunting di Jawa Barat mencapai 15,9% pada 2024 akibat kurangnya akses air bersih dan sanitasi.
Di sisi lain, provinsi dengan akses sanitasi layak terendah pada 2025 adalah Papua Pegunungan dengan hanya 16,34% rumah tangga yang punya akses sanitasi layak. Kondisi geografisnya menjadi salah satu tantangan bagi implementasi infrastruktur sanitasi. Tidak hanya itu, tingginya kesenjangan di bidang kesehatan memengaruhi faktor kebersihan masyarakat Pegunungan Papua.
Di posisi kedua terdapat Papua Tengah dengan akses sanitasi layak sebesar 39,73%, dilanjut Papua Selatan (65,06%) dan Sumatra Barat (74,59%).
Pemprov Jabar Target Sanitasi Layak 100% pada 2045
Saat ini, persentase masyarakat yang memiliki akses sanitasi layak di Jawa Barat sebanyak 75,10% atau 9,38 juta kepala keluarga, dengan akses sanitasi aman sebesar 10,54%. Meski demikian, masih ada 76,20% wilayah belum memiliki akses sanitasi memadai. Maka dari itu, Pemprov Jabar menargetkan akses sanitasi layak meraih 100% pada tahun 2045.
“Untuk mengatasinya, Pemprov Jabar menata sanitasi lingkungan dengan cara membuat sarana mandi, cuci, kakus di lingkungan pemukiman sekitar daerah aliran sungai. Dengan begitu, dapat terwujud kondisi bebas buang air besar sembarangan,” ungkap Indra Maha dalam webinar Klinik Sanitasi Jawa Barat, pada Rabu (17/9/2025), dilansir dari laman Citarum Harum.
Baca Juga: Ribuan Desa Masih Buang Air Besar Sembarangan, Papua Pegunungan Tertinggi
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/ODQ3IzI=/persentase-rumah-tangga-menurut-provinsi-dan-memiliki-akses-terhadap-sanitasi-layak.html
Penulis: Talita Aqila Shafidhya
Editor: Editor