Jumlah Cadangan Emas Negara Asia Tenggara, Indonesia Peringkat Berapa?

Emas telah menjadi salah satu logam paling berharga di dunia berkat perpaduan keunikan fungsinya baik secara praktikal maupun dari segi estetika.

Jumlah Cadangan Emas Negara Asia Tenggara, Indonesia Peringkat Berapa? Ilustrasi cadangan emas | thisdesign/Shutterstock

Sepanjang tahun 2021, estimasi total produksi emas di dunia diperkirakan mencapai angka 3.561 ton. Emas telah menjadi salah satu logam paling berharga berkat perpaduan keunikan fungsinya secara praktikal dan estetika.

Meskipun memiliki manfaat yang tinggi, jumlah emas di alam relatif langka. Fakta itu justru memperkuat nilai emas menjadi semakin berharga. Berdasarkan data dari World Gold Council, Thailand memegang peringkat pertama negara di Asia Tenggara dengan total cadangan emas terbanyak di dunia.

Jumlah cadangan emas negara di Asia Tenggara tahun 2021 | GoodStats

Adapun jumlah cadangan emas yang dimiliki Thailand hingga tahun 2021 ialah sebanyak 244,16 ton. Singapura menyusul di posisi ke-2 dengan 153,74 ton dan Filipina 143,03 ton cadangan emas sepanjang tahun 2021.

Sementara itu, Indonesia berada di posisi ke-4 dengan total 78,57 ton cadangan emas pada tahun 2021. Indonesia merupakan salah satu negara pemasok emas terbesar di dunia.

Tambang emas terbesar di Indonesia sekaligus ke-3 di dunia yakni Grasberg di Papua memproduksi 1.370.000 ons emas sepanjang tahun 2021 yang mana angka ini mencakup 1,2 persen total produksi emas di seluruh dunia.

Di sisi lain, Kamboja menempati posisi ke-5 negara di Asia Tenggara dengan jumlah cadangan emas terbesar. Adapun jumlah cadangan emas yang dimiliki oleh Kamboja ialah sebesar 50,45 ton pada tahun 2021.

Secara berurutan di posisi ke-6 hingga terakhir diraih oleh Malaysia (38,88 ton), Myanmar (7,27 ton), Timor Leste (1,96 ton), dan Laos (0,88 ton) sepanjang tahun 2021.

Emas telah digunakan sebagai alat penukaran sejak zaman purbakala yang mana hal ini memimpin pembentukan standar emas di kemudian hari. Emas banyak digunakan secara luas pada abad ke-19 dan ke-20. Namun dewasa ini, standar emas menjadi semakin kurang praktikal bagi pertumbuhan ekonomi sebagaimana perannya sudah semakin tertinggal dari uang kertas maupun alat penukaran lainnya.

Penulis: Diva Angelia
Editor: Iip M Aditiya

Artikel Sebelumnya Survei Goodstats: Kereta Api Jadi Transportasi Massal Paling Banyak Digemari Untuk Liburan
Artikel Selanjutnya Gulai Hingga Sayur Lodeh Masuk Jajaran 100 Best Rated Soup in The World
Konten Terkait