Di Mana Hoaks Biasa Beredar?

Arus informasi yang bergerak sangat cepat dewasa ini rentan memuat hoaks. Di mana biasanya hoaks ditemukan dan isu apa yang sering memuat hoaks?.

Di Mana Hoaks Biasa Beredar? Ilustrasi hoaks | r.classen/Shutterstock

Arus informasi bergerak dengan sangat cepat dewasa ini seiring dengan perkembangan teknologi. Di antara banyaknya informasi yang beredar, tidak sedikit yang memuat berita bohong atau kerap disebut sebagai hoaks. Tentunya hal ini meresahkan serta menimbulkan kerugian bagi masyarakat.

Jenis hoaks yang beredar sangat beragam dan meliputi berbagai macam sektor. Sebagian masyarakat ada yang percaya, namun terdapat juga yang tidak percaya. Tanggapan yang diberikan oleh masyarakat dalam menyikapi hoaks pun juga beragam. Ada yang membaca informasi secara detail, melakukan verifikasi, maupun yang langsung menyebarkan hingga mengabaikan informasi hoaks.

Sebuah survei dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama dengan Katadata Insight Center (KIC) bertajuk Status Literasi Digital di Indonesia 2021. Di dalam laporan survei tersebut diungkapkan paparan serta sikap masyarakat Indonesia terhadap hoaks.

Mayoritas hoaks berasal dari sektor politik

Berdasarkan hasil survei, ditemukan bahwa isu politik menempati peringkat pertama sektor dengan informasi hoaks terbanyak. Adapun sebesar 69,3 persen responden mengakui hal tersebut.

Sektor yang paling banyak memuat hoaks atau berita bohong tahun 2021 | GoodStats

Posisi ke-2 sektor yang paling banyak mengandung hoaks diduduki oleh sektor kesehatan dengan raihan 39,7 persen responden menemukan hoaks di sektor ini. Sementara itu, agama menempati posisi ke-3 dengan raihan sebesar 29,2 persen responden pada tahun 2021.

Adapun sektor-sektor lainnya yang sering ditemui mengandung hoaks atau berita bohong di antaranya ialah lingkungan (21,4 persen), kerusuhan (13,4 persen), bencana alam (10,9 persen), dan lainnya.

Hoaks paling sering ditemukan di Facebook

Kemudian berdasarkan media penyebaran hoaks, Facebook menduduki peringkat pertama dengan raihan sebesar 62,6 persen responden pada tahun 2021. Adapun raihan ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang memiliki persentase sebesar 71,9 persen.

Media yang paling banyak memuat hoaks atau berita bohong tahun 2021 | GoodStats

WhatsApp menduduki peringkat ke-2 media yang paling banyak memuat hoaks atau berita bohong. Adapun persentasenya mencapai 20,5 persen pada tahun 2021 dan raihan ini menurun dibandingkan tahun 2020 yang memiliki persentase sebesar 31,5 persen.

Posisi ke-3 diraih oleh YouTube dengan persentase sebesar 16,4 persen. Adapun sebaran hoaks di YouTube pada tahun 2021 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat memiliki persentase sebesar 14,9 persen.

Posisi ke-4 dan ke-5 diraih oleh televisi (TV) dan portal berita online dengan raihan masing-masing sebesar 16,3 persen dan 14,9 persen. Lagi-lagi, sebaran hoaks di kedua media ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain itu, media lainnya yang kerap ditemukan hoaks menurut responden di antaranya ialah Instagram, Twitter, radio, koran atau majalah, dan Line. Adapun sebesar 1,1 persen responden menyatakan tidak tahu.

Masyarakat semakin pandai verifikasi hoaks

Mulya Amri selaku Panel Ahli KIC mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia saat ini mengalami peningkatan kemampuan dalam melakukan klarifikasi hoaks atau berita bohong. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa semakin banyak masyarakat yang rajin mencari kebenaran informasi melalui mesin pencari di dunia maya.

Hal ini selaras dengan temuan hasil survei yang mengungkapkan bahwa mayoritas responden akan mencari di internet apabila mendapatkan informasi yang memuat hoaks. Adapun persentasenya mencapai 59,6 persen responden pada tahun 2021.

Rujukan responden dalam melakukan klarifikasi hoaks atau berita bohong tahun 2021 | GoodStats

Berikutnya, langkah klarifikasi hoaks yang juga banyak dilakukan oleh responden ialah mencari kebenaran informasi lewat keluarga dan saudara dengan raihan sebesar 47,6 persen. Di posisi berikutnya, sebesar 17,1 persen responden menglarifikasi hoaks atau berita bohong lewat warga lingkungan atau tetangga.

Beberapa langkah klarifikasi hoaks atau berita bohong lainnya yang dilakukan oleh responden antara lain mencari di situs pemerintah, menanyakan teman sekolah/kuliah/alumni/kantor, menanyakan ketua RT/RW, menanyakan tokoh agama, tokoh pemuda, dan lainnya.

Adapun di sisi lain, sebesar 12,2 persen responden memiliki untuk membiarkan saja atau tidak mencari rujukan saat memperoleh informasi yang mengandung hoaks.

Secara umum, langkah yang dilakukan masyarakat untuk mencegah penyebaran hoaks atau berita bohong ialah dengan mencari kebenaran dari setiap informasi yang diterima. Adapun persentasenya mendominasi sebeasr 83,8 persen responden pada tahun 2021.

Selain itu beberapa langkah lainnya yang dilakukan responden untuk mencegah penyebaran hoaks atau berita bohong antara lain menegur oknum yang menyebarkan hoaks, mengabaikan atau langsung menghapus informasi hoaks, serta melaporkan oknum yang menyebarkan hoaks.

Mari menjadi bagian responden survei GoodStats mengenai "Preferensi Liburan Masyarakat Indonesia" dengan mengisi link survei berikut.

https/LiburanSobatGoodstats

Hadiah saldo eMoney bagi responden terpilih

 

Penulis: Diva Angelia
Editor: Iip M Aditiya

Artikel Sebelumnya Salip Malaysia dan Thailand, Indonesia Naik 12 Peringkat dalam "Global Tourism Index 2022"
Artikel Selanjutnya Paspor Singapura Terkuat Se-ASEAN, Indonesia Peringkat Berapa?
Konten Terkait