Rencana merger 15 BUMN logistik menjadi salah satu langkah strategis pemerintah untuk meningkatkan efisiensi rantai pasok nasional. Konsolidasi ini tidak hanya bertujuan memperkuat daya saing, tetapi juga mengatasi fragmentasi layanan logistik yang selama ini tersebar di berbagai entitas.
Menariknya, sebelum merger dilakukan, kondisi keuangan perusahaan-perusahaan tersebut ternyata tidak seragam. Ada yang mencatat laba konsisten, ada yang masih merugi, dan ada pula yang statusnya belum terinci secara detail.
Baca Juga: Rencana Merger BUMN Transportasi & Logistik, Dorong Pemangkasan BUMN jadi 30
Daftar Perusahaan Kelompok Laba Konsisten
Kelompok perusahaan dengan laba konsisten menjadi tulang punggung rencana merger 15 BUMN logistik. Berdasarkan laporan keuangan terbuka, terdapat enam perusahaan yang termasuk dalam kelompok ini.
Salah satu perusahaan ini adalah Pelindo Terminal Petikemas yang bergerak di bidang operasional Terminal Petikemas. Sejak tahun 2023, perusahaan ini telah mencatat laba yang konsisten di angka Rp1,79 T - Rp2,59 T. Sebagai bagian dari ekosistem pelabuhan, perusahaan ini memiliki kontribusi yang krusial dalam menjaga efisiensi logistik nasional.
Selanjutnya, ASDP Indonesia Ferry yang bergerak di bidang logistik penyeberangan kapal juga mencatat laba konsisten. Pada tahun 2022, laba perusahaan berada di angka Rp540,09 M. Angka ini naik di tahun berikutnya menjadi Rp605,03 M. Sementara pada tahun 2024, laba sempat turun meskipun tidak signifikan menjadi Rp436,07 M.
Pada bidang angkutan laut kargo dan tol laut, PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) juga memiliki laba konsisten. Pada tahun 2024, laba perusahaan tercatat sebesar Rp198,92 M. Pelni sendiri memiliki peran penting dalam distribusi logistik ke daerah terpencil. Selain itu, program tol laut yang didudkung pemerintah juga turut memperkuat pendapat perusahaan ini.
Laporan keuangan PT Pos Indonesia juga menunjukkan laba yang konsisten. Pada pertengahan awal 2025, PT Pos Indonesia mencatat laba sebesar Rp144,32 M. Transformasi digital yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir membantu perusahaan ini tetap relevan di tengah persaingan industri logistik modern.
Pada bidang transportasi, PT KAI menjadi bagian dari rencana merger BUMN Danatara. Perusahaan ini mencatat laba Rp92,04 M pada tahun 2024. Stabilitas perusahaan ini berasal dari efisiensi biaya transportasi yang lebih rendah dibanding moda lain. Selain itu, pengembangan layanan logistik terpadu semakin memperkuat posisinya.
Selain itu, Integrasi Logistik Cipta Solusi juga menjadi salah satu perusahaan yang masuk kategori laba konsisten dalam merger BUMN logistik. Perusahaan ini berbasis sistem informasi digital logistik. Pada 2023, laba perusahaan tercatat sebesar Rp25,71 M. Di tahun berikutnya, laba naik cukup signifikan dengan jumlah Rp56,67 M.
Daftar Perusahaan Kelompok Rugi
Di sisi lain, beberapa perusahaan yang menjadi bagian dari program merger 15 BUMN logistik BPI Danatara termasuk dalam kondisi rugi. Pupuk Indonesia Logistik misalnya, memiliki inti bisnis distribusi pupuk dan amoniak. Meskipun perannya vital dalam sektor pertanian, tantnagan seperti fluktuasi harga komoditas dan biaya distribusi yang tinggi membuat kinerjanya belum optimal.
Hal serupa juga dialami oleh Semen Indonesia Logistik. Perusahaan ini bergerak dalam rantai pasok bahan bangunan. Ketergantungan pada industri konstruksi membuat perusahaan ini rentan terhadap siklus ekonomi. Ketika permintaan sektor properti melemah, kinerja logistik ikut terdampak.
Pada 2023, Pupuk Indonesia Logistik mencatat kerugian sebesar Rp12,05 M sementara Semen Indonesia Logistik Rp11,07 M. Angka kerugian ini mengalami tren kenaikan di tahun berikutnya, dengan kerugian Pupuk Indonesia Logistik sebesar Rp90,52 M dan Semen Indonesia Logistik sebanyak Rp30,29 M.
Daftar Perusahaan Kelompok Belum Terinci
Beberapa perusahaan yang termasuk merger BUMN masih mendapatkan status laba belum terinci. Salah satunya adalah Pelindo Solusi Logistik yang berfokus pada pengembangan area penyangga pelabuhan. Peran ini sangat strategis, namun membutuhkan investasi besar sehingga dampaknya terhadap laba belum sepenuhnya terlihat.
Garuda Indonesia Logistik juga menjadi salah satu perusahaan dalam kategori ini. Perusahaan ini bergerak dalam layanan pengiriman kargo udara. Sektor ini memiliki potensi besar, terutama untuk pengiriman cepat, tetapi juga menghadapi tantangan biaya operasional tinggi, terutama terkait bahan bakar dan perawatan armada.
Kemudian, Varuna Tirta Praksya yang menyediakan jasa freight forwarding maritim. Jasa ini mengoptimalkan pengiriman kargo dalam hal ekspor, impor, dan transportasi domestik lewat jalur laut.
Sementara itu, Djakarta Lloyd juga menjadi bagian dari kelompok ini. Perusahaan ini berfokus pada angkutan kargo curah laut yang sangat bergantung pada kondisi perdagangan global.
BGR Logistik Indonesia bergerak di manajemen pergudangan komoditas. Perusahaan ini menjadi elemen penting dalam supply chain. Sedangkan Angkasa Pura Kargo mengelola terminal kargo bandara dan berperan dalam distribusi barang berbasis udara.
Terakhir, Aerojasa Cargo menyediakan jasa kurir logistik udara. Hal ini merupakan inti bisnis yang kian relevan di era e-commerce. Namun, seperti perusahaan lain di kelompok ini, kinerja keuangan mereka masih memerlukan evaluasi lebih lanjut untuk memastikan kontribusinya dalam merger.
Rencana merger 15 BUMN logistik memperlihatkan gambaran kompleks tentang kondisi sektor logistik nasional. Di satu sisi, terhadap perusahaan dengan kinerja solid yang dapat menjadi fondasi kuat. Di sisi lain, ada perusahaan yang masih menghadapi tantangan finansial, serta beberapa yang memerlukan tranparansi lebih lanjut.
Keberhasilan merger ini sangat bergantung pada bagaimana sinergi antarperusahaan dapat diwujudkan. Integrasi sistem, efisiensi operasional, serta strategi bisnis yang tepat menjadi kunci utama. Jika dikelola dnegan baik, merger ini berpotensi menciptakan ekosistem logistik yang lebih efisien, terintegrasi, dan kompetitif di tingkat global.
Baca Juga: Simak Performa Perusahaan Ekspedisi dan Kurir di Indonesia
Penulis: Aisha Zahrany
Editor: Muhammad Sholeh