Apa Saja Media Penggalangan Dana Filantropi di Indonesia?

Metode penggalian dana filantropi menggunakan platform atau media digital kian eksis utamanya sejak pandemi Covid-19 berlangsung di Indonesia.

Apa Saja Media Penggalangan Dana Filantropi di Indonesia? Ilustrasi menolong sesama | BlurryMe/Shutterstock

Dalam diskusi publik bertajuk Giat Berbagi di Kala Pandemi pada Sabtu (28/5/2022), Kunto Adi Wibowo selaku Direktur Eksekutif Lembaga Survei KedaiKOPI mengungkapkan bahwa Indonesia merupakan negara paling dermawan di dunia. Hal ini menyebabkan aktivitas filantropi begitu populer di tanah air.

Filantropi sendiri merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan sebuah kedermawanan yang dilandasi nilai kasih sayang untuk peduli terhadap sesama manusia. Untuk pertama kalinya, Lembaga Survei KedaiKOPI bersama dengan Filantropi Indonesia merilis hasil survei mengenai filantropi di Indonesia bertajuk Philanthropy Outlook 2022.

Salah satu temuan hasil survei ini ialah inovasi dalam penggalangan dana filantropi di tanah air. Berdasarkan data yang dihimpun dalam Philanthropy Outlook 2022, tren media atau alat penggalangan dana filantropi di Indonesia masih didominasi oleh platform non digital dengan persentase sebesar 76,6 persen.

Meskipun persentase platform digital masih lebih rendah dibandingkan platform non digital, namun perkembangannya menunjukkan tren yang positif. Hingga tahun 2020, persentase penggalangan dana filantropi melalui platform atau media digital mencapai 55,3 persen.

Media atau sarana digital yang digunakan dalam penggalian dana filantropi di Indonesia tahun 2018 - 2020 | GoodStats

Media sosial atau website jadi media digital utama penggalangan dana filantropi di Indonesia dengan persentase sebesar 57,7 persen. Penggunaan media sosial sebagai sarana untuk menggali dana sendiri dinilai kian populer di tengah masa pandemi Covid-19.

Sementara itu, Kitabisa menempati posisi ke-2 dengan persentase sebesar 53,8 persen sebagai media yang paling sering digunakan untuk menggalang dana filantropi. Posisi berikutnya diraih oleh Omaprakash, Aplikasi fintech (Gopay, Tokopedia, Shopee, Ovo, dll), dan Benefity dengan persentase yang sama yakni sebesar 7,7 persen.

Beberapa media lainnya turut digunakan dalam penggalangan dana filantropi dengan persentase sebesar 3,8 persen. Media-media tersebut di antaranya Tabungamal, NUCare, ACT, sharinghappiness, Bantoo.id, Globalgiving, Fundrazr, Launchgood, Benih baik, dan amalsholeh.com.

Lebih lanjut dalam diskusi publik, Kunto Adi Wibowo mengungkapkan bahwa penggalangan dana filantropi di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan di antaranya potongan persentase cost-operasional untuk platform crowdfunding harus didiskusikan, periode penggalangan dana terbatas, serta adanya isu segmented (biasanya berupa charity).

Penulis: Diva Angelia
Editor: Iip M Aditiya

Artikel Sebelumnya Persepsi Masyarakat terhadap Isu Lingkungan dan Sosial di Indonesia
Artikel Selanjutnya Jawa Barat dan Jawa Timur Miliki Sekolah Dasar Terbanyak
Konten Terkait