Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah mendistribusikan perangkat Interactive Flat Panel (IFP) ke sekolah-sekolah di berbagai daerah. Program ini bertujuan mendukung digitalisasi pendidikan serta meningkatkan efektivitas pembelajaran di ruang kelas.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq menegaskan hingga Senin (10/11/2025), terdapat 150.000 IFP yang sudah disalurkan ke sekolah-sekolah di Indonesia.
"Bahwa hingga 10 November 2025, sudah terdistribusi 150.000 IFP atau papan Interaktif Digital ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia, dengan target 288.000 unit pada akhir tahun," kata Fajar seperti yang dilansir dari Kompas, Rabu (12/11/2025).
IFP sendiri merupakan perangkat layar sentuh berukuran besar yang menggabungkan teknologi display modern dengan kemampuan interaktif seperti touchscreen, stylus digital, hingga fitur canggih lainnya. Teknologi ini memungkinkan para siswa untuk belajar lebih praktis, interaktif, dan bahkan bisa membantu pembelajaran jarak jauh.
Namun, bagaimana sentimen publik mengenai program pendistribusian IFP ini? Drone Emprit melakukan analisis sentimen publik terhadap program IFP di platform daring. Data percakapan publik diambil dari Twitter (X), Facebook, YouTube, TikTok, dan media online pada 1 Mei-20 November 2025. Kata kunci yang banyak digunakan seperti "IFP", "Smart Board", hingga "Papan Interaktif".
Berdasarkan hasil analisis tersebut, ditemukan bahwa 96% publik memiliki sentimen positif terhadap program penyaluran IFP ke sekolah-sekolah di Indonesia. Sentimen positif ini didukung dengan narasi terkait IFP sebagai digitalisasi pendidikan, pemerataan pendidikan modern, hingga IFP sebagai investasi generasi emas. Selain itu, program ini juga diapresiasi sebagai media pembelajaran yang menyenangkan dan interaktif.
Hanya sebesar 1% warganet yang memiliki sentimen negatif terhadap program IFP,hal ini dipicu oleh kritik terkait pemborosan anggaran dan salah prioritas, potensi korupsi dalam pengadaan, hingga nilai hitungan awal Rp133 juta/unit yang dinilai terlalu mahal.
Sementara itu, terdapat 3% warganet yang memiliki sentimen netral.
Analisis Emosi Warganet terhadap IFP
Adapun emosi yang mendominasi terkait program penyaluran IFP ke sekolah-sekolah di tanah air adalah antisipasi, dengan total 421 postingan di media sosial. Emosi ini muncul sebagai harapan pemerataan ke daerah 3T. Selain itu, publik juga berharap dana sitaan koruptor digunakan untuk pengadaan IFP dan perbaikan sekolah.
Emosi terbanyak kedua merupakan senang dengan total 384 postingan. Rasa senang muncul dari siswa yang akhirnya menikmati belajar interaktif serta dapat memudahkan guru mengelola media pembelajaran yang visual dan menarik.
Emosi terkejut turut mendominasi dengan total 71 postingan. Hal ini didukung oleh keterkejutan terkait distribusi IFP yang mendadak, bahkan ke sekolah elit.
Baca Juga: 93% Warganet Punya Sentimen Positif terhadap Program Kedaulatan Pangan
Sumber:
https://pers.droneemprit.id/sentimen-publik-terhadap-program-ifp/
Penulis: Salamah Harahap
Editor: Editor