Pengangguran masih menjadi salah satu masalah sosial terbesar di Indonesia, khususnya bagi angkatan kerja yang berisi pemuda produktif. Minimnya lapangan kerja formal, maraknya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), hingga ketidaksesuaian lulusan pendidikan dengan kebutuhan industri menjadi faktor yang melatarbelakangi fenomena pengangguran.
Per November 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia sebesar 4,74%, turun 0,11% poin dari Agustus 2025. Adapun data TPT November 2025 terdiri dari 4,75% laki-laki dan 4,71% perempuan.
“Jumlah orang yang menganggur pada November 2025 sebanyak 7,35 juta orang atau turun sebesar 0,109 juta orang dibandingkan Agustus 2025. Dengan demikian jumlah orang yang menganggur mengalami penurunan,” ujar Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers pada Kamis (5/2/2026).
Meski mengalami penurunan secara berkala, masih ada 7,35 juta orang yang menganggur per November 2025.
Mendapat pekerjaan menjadi mimpi banyak orang sehingga tak sedikit memutuskan untuk pindah ke daerah pusat ekonomi seperti perkotaan. Realitanya, BPS mencatat bahwa daerah tinggal perkotaan memiliki persentase pengangguran lebih tinggi dibandingkan perdesaan.
Baca Juga: Tingkat Pengangguran Pemuda Indonesia 2020-2025
Menurut data BPS pada November 2025, daerah perkotaan menjadi wilayah dengan tingkat pengangguran tertinggi sebanyak 5,65% dibandingkan desa yang sebesar 3,31%.
BPS mengatakan, angka pengangguran di perkotaan bisa lebih tinggi karena jumlah penduduk lebih banyak dari lapangan pekerjaan yang tersedia.
Pertumbuhan ekonomi di perkotaan yang lebih cepat membuat banyak orang akhirnya bermigrasi ke kota untuk menunjang kehidupannya. Namun, surplus tenaga kerja hasil dari migrasi tak beringinan dengan peningkatan jumlah lapangan kerja, sehingga memunculkan angka pengangguran.
Adapun kelompok pengangguran terbanyak menurut pendidikan terakhir berasal dari Sekolah Menengah Atas (SMA) sebanyak 29,61%, disusul Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebesar 25,78%, dan Sekolah Dasar (SD) ke bawah sebanyak 16,10%.
Strategi Pemerintah Mengatasi Pengangguran Indonesia
Kepala Pusat Pasar Kerja Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), Surya Lukita Warman mengatakan salah satu tantangan pasar kerja Indonesia adalah pertumbuhan tenaga kerja baru yang besar per tahunnya, seperti dilansir dari Tribratanews.
Selain pertumbuhan angkatan kerja, ketidaksesuaian kompetensi atau mismatch seperti soft skill yang belum memenuhi standar perusahaan turut menjadi tantangan meskipun pelamar mungkin memenuhi kualifikasi pendidikan.
Surya juga mengatakan bahwa masih maraknya lulusan terakhir SMP hingga perkembangan teknologi dan AI juga memengaruhi kondisi pasar kerja Indonesia.
Adapun upaya yang dilakukan Kemnaker untuk membuat ekosistem pasar kerja lebih baik adalah mendorong pemberi kerja untuk mematuhi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 57 Tahun 2023 tentang Wajib Lapor Lowongan Pekerjaan (WLLP), serta digitalisasi layanan ketenagakerjaan agar dapat diakses gratis semua lapisan masyarakat.
Baca Juga: Bagaimana Kinerja Pemerintah Atasi Pengangguran 1 Tahun Terakhir?
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/02/05/2547/november-2025--tingkat-pengangguran-terbuka--tpt--sebesar-4-74-persen-dan-rata-rata-upah-buruh-sebesar-3-33-juta-rupiah-.html
Penulis: Talita Aqila Shafidhya
Editor: Editor