Kemiskinan masih menjadi salah satu tantangan dalam pembangunan di berbagai daerah, termasuk di Jawa Timur. Salah satu indikator yang digunakan untuk menggambarkan kondisi tersebut adalah jumlah penduduk miskin, yakni penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan berdasarkan metode penghitungan Badan Pusat Statistik (BPS).
Perlu dipahami bahwa data jumlah penduduk miskin menunjukkan jumlah orang, bukan persentase terhadap total penduduk. Oleh karena itu, daerah dengan jumlah penduduk yang besar cenderung memiliki jumlah penduduk miskin yang juga lebih tinggi dibandingkan daerah berpenduduk lebih sedikit. Dengan demikian, banyaknya penduduk miskin di suatu wilayah tidak selalu berarti tingkat kemiskinannya paling tinggi.
Menurut BPS Jawa Timur, Kabupaten Malang jadi wilayah dengan jumlah penduduk miskin terbanyak di Jawa Timur, mencapai 235,63 ribu jiwa pada 2025.
Baca Juga: Angka Garis Kemiskinan Indonesia Naik 6,19% pada 2025
Posisi kedua ditempati Kabupaten Jember dengan 216,76 ribu jiwa, disusul Kabupaten Sampang di peringkat ketiga dengan 213,98 ribu jiwa. Kabupaten Probolinggo berada di posisi keempat dengan 196,26 ribu jiwa penduduk miskin.
Urutan kelima ditempati Kabupaten Sumenep dengan 188,48 ribu jiwa, diikuti Kabupaten Bangkalan dengan 187,90 ribu jiwa.
Empat posisi berikutnya ditempati oleh Kabupaten Tuban dengan 168,86 ribu jiwa, Kabupaten Kediri sebanyak 157,47 ribu jiwa, Kabupaten Lamongan sebanyak 145,45 ribu jiwa, serta Kabupaten Bojonegoro dengan 144,90 ribu jiwa.
Sebaliknya, wilayah dengan jumlah penduduk miskin paling sedikit di Jawa Timur dipegang oleh Kota Batu, yang penduduk miskinnya hanya 6,22 ribu, diikuti Kota Madiun (6,96 ribu), Koa Mojokerto (6,77 ribu), Kota Blitar (9,69 ribu), hingga Kota Probolinggo (14,11 ribu).
Secara keseluruhan, jumlah penduduk miskin di Jawa Timur mencapai 3,87 juta jiwa pada 2025, berkurang dari tahun sebelumnya yang mencapai 3,98 juta jiwa.
Semua Kabupaten
Menariknya, seluruh daerah dalam daftar wilayah dengan jumlah penduduk miskin terbanyak di Jawa Timur merupakan kabupaten, tanpa ada satu pun kota yang masuk dalam peringkat tersebut.
Salah satu penyebabnya adalah kabupaten umumnya memiliki jumlah penduduk dan wilayah yang lebih luas dibandingkan kota. Dengan cakupan wilayah yang lebih besar serta jumlah penduduk yang lebih banyak, jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan secara absolut juga cenderung lebih tinggi.
Selain itu, struktur ekonomi kabupaten umumnya masih didominasi oleh sektor primer seperti pertanian, perkebunan, dan perikanan. Pendapatan masyarakat di sektor-sektor tersebut lebih rentan dipengaruhi oleh faktor seperti cuaca, hasil panen, maupun fluktuasi harga komoditas. Kondisi tersebut sangat memengaruhi tingkat kesejahteraan sebagian penduduk.
Di sisi lain, wilayah perkotaan biasanya memiliki aktivitas ekonomi yang lebih beragam, seperti perdagangan, industri, jasa, dan pariwisata. Keberagaman lapangan pekerjaan tersebut dapat memberikan lebih banyak pilihan sumber pendapatan bagi masyarakat, meskipun kota tetap memiliki penduduk miskin.
Baca Juga: Provinsi dengan Tingkat Kemiskinan Terendah
Sumber:
https://jatim.bps.go.id/id/statistics-table/2/NDIxIzI=/jumlah-penduduk-miskin-menurut-kabupaten-kota-di-jawa-timur.html