Merujuk pada Buku II Nota Keuangan beserta Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027, pemerintah mencanangkan kenaikan pagu yang signifikan pada alokasi pendanaan untuk Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kemen ESDM).
Kementerian strategis ini direncanakan akan mendapatkan kucuran anggaran sebesar Rp27.372,8 miliar. Nominal pagu belanja tersebut melonjak hampir tiga kali lipat, dengan tingkat persentase kenaikan mencapai 170,5% jika dibandingkan dengan APBN 2026 yang hanya menyentuh angka Rp10.118 miliar.
Jika dirinci berdasarkan programnya, program energi dan ketenagalistrikan mendapatkan pagu terbesar. Program ini dicanangkan meraup dana sebesar Rp23.053,4 miliar dalam RAPBN 2027. Angka tersebut tumbuh 287,2%, atau naik hampir empat kali lipat dari kucuran APBN 2026 yang besarnya Rp5.954 miliar.
Selain program energi dan ketenagalistrikan, program dukungan manajemen juga menerima alokasi pagu di atas angka Rp1 triliun dalam RAPBN 2027. Kendati bernominal besar, laju pertumbuhan untuk pos pengeluaran manajerial ini tergolong stagnan, yaitu dengan kenaikan 1,9%.
Tercatat, alokasi program dukungan manajemen Kemen ESDM yang awalnya sebesar Rp3.524,2 miliar pada APBN 2026, kini menjadi Rp3.591,8 miliar pada rancangan tahun depan.
Beralih ke sektor edukasi, program pendidikan dan pelatihan vokasi di Kemen ESDM dicanangkan mendapat pagu sebesar Rp492,8 miliar. Nominal tersebut mencatatkan pertumbuhan 44,7% dibandingkan dengan APBN 2026 yang berada di angka Rp340,6 miliar.
Tren penyusutan anggaran terjadi pada program mitigasi dan pelayanan geologi. Pada tahun depan, program ini hanya akan dijatuhi dana sebesar Rp160,6 miliar. Alokasi tersebut mengalami pemangkasan 23% dari besaran APBN 2026 yang dipatok senilai Rp208,7 miliar.
Sementara itu, program pertambangan mineral dan batu bara direncanakan mengalami kenaikan pagu sebesar 25,6%, tumbuh dari yang sebelumnya sebesar Rp53,2 miliar dalam postur APBN 2026 menjadi Rp66,8 miliar pada RAPBN 2027.
Ironisnya, porsi pagu terkecil dari keseluruhan postur anggaran Kemen ESDM ini dimiliki oleh program penegakan dan pelayanan hukum. Bukan hanya itu, program ini juga mengalami pengurangan dana paling besar pada tahun mendatang.
Baca Juga: 10 Provinsi dengan Indeks Kesiapan Transisi Energi Tertinggi
Jika pada APBN 2026 program ini masih dijatuhi dana sebanyak Rp37,2 miliar, kini alokasinya menyusut hingga 80,1%, menyisakan anggaran yang hanya sebesar Rp7,4 miliar dalam RAPBN 2027.
Dari postur belanja ini, Kemen ESDM tampaknya memfokuskan kerjanya pada program energi dan ketenagalistrikan, serta program pendidikan dan pelatihan vokasi sebagai motor penggerak jangka panjang demi keberlanjutan sektor energi di Indonesia.
Di sisi lain, sangat minimnya kucuran dana untuk program penegakan dan pelayanan hukum di tengah meroketnya anggaran program lainnya dalam Kemen ESDM, mengindikasikan adanya ketimpangan prioritas lembaga yang cenderung mengesampingkan penegakan dan pelayanan hukum dalam isu krusial keenergian negara.
Dengan rancangan anggaran sebesar Rp27,4 triliun pada tahun 2027, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa sebagian besar anggaran tersebut akan diarahkan untuk mendukung program-program yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Sejumlah program prioritas yang disiapkan antara lain converter kit untuk petani, pembangunan jaringan gas kota, proyek pipa gas Dumai-Sei Mangkei (Dusem), pipa transmisi gas Semarang-Solo dan Cirebon-Bandung, serta program listrik desa dan bantuan pasang baru listrik (BPBL).
"Jadi hanya 13% dari pagu anggaran Kementerian ESDM saja yang dipergunakan untuk operasional ESDM, karena semua anggaran yang ada kita fokuskan untuk menyentuh pada program-program yang ada di masyarakat," terangnya dalam rapat kerja bersama Komisi XII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI di Jakarta, Senin (15/6/2027).
Ia menuturkan, pengadaan converter kit untuk petani akan memakan dana sebesar Rp158,50 miliar. Sementara itu, proyek jaringan gas kota yang dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap elpiji direncanakan dipagu Rp5.212,62 miliar.
Adapun pembangunan pipa gas Dusem diberikan anggaran sebesar Rp3.948,16 miliar yang akan mengalirkan gas dari daerah yang surplus ke wilayah yang membutuhkan antara Pulau Sumatra dan Jawa.
Di sisi lain, pihaknya juga bertekad melanjutkan pembangunan infrastruktur energi strategis melalui proyek pipa transmisi gas Semarang-Solo yang dialokasikan sebesar Rp702,38 miliar dan pipa transmisi gas Cirebon-Bandung sebesar Rp577,56 miliar.
Selanjutnya, pembangunan infrastruktur listrik desa memperoleh alokasi sebesar Rp9,746 triliun, sementara program BPBL bagi keluarga kurang mampu mendapat dukungan anggaran sebesar Rp520 miliar.
Baca Juga: Gelar Doktor Bahlil Bermasalah, UI Minta Perbaiki Disertasi
Sumber:
https://drive.google.com/file/d/1mUbNLalcb6aOhgPhOHW-QSiczOs8yb-Z/view