Bahasa daerah merupakan salah satu identitas budaya terpenting yang mencerminkan kekayaan serta keberagaman suatu bangsa. Dalam konteks pelestariannya, lingkungan keluarga dan rumah tangga memegang peranan paling krusial sebagai tempat pertama penyemaian tutur kata antargenerasi.
Penggunaan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari di rumah bukan sekadar alat komunikasi internal, melainkan fondasi utama agar tatanan nilai, etika, dan kebudayaan lokal tidak tergerus oleh laju modernisasi serta arus urbanisasi yang kian masif. Tingkat kebiasaan masyarakat dalam tutur kata domestik ini menjadi indikator penting untuk mengukur sejauh mana bahasa ibu masih bertahan di tengah gempuran penggunaan bahasa nasional maupun bahasa asing.
Berdasarkan data Statistik Sosial Budaya 2025 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Mei 2026, Pulau Jawa memperlihatkan dinamika daya tahan bahasa daerah yang cukup bervariasi antarprovinsi. Jawa Timur dan Jawa Tengah menunjukkan penggunaan bahasa daerah di rumah yang paling dominan dan hampir merata, dengan selisih yang sangat tipis yaitu hanya 0,34 poin persentase.
Provinsi di Jawa yang Paling Sering Gunakan Bahasa Daerah
Baca Juga: Bahasa Daerah dengan Penutur Terbanyak di Tiap Pulau
Jawa Timur (Jatim) memimpin di posisi puncak dengan persentase mencapai 95,13%, disusul rapat oleh Jawa Tengah (Jateng) di peringkat kedua dengan angka 94,79%. Sementara itu, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengunci posisi tiga besar dengan mencatatkan angka sebesar 88,81%. Tingginya angka di Jatim, Jateng, dan DIY mengindikasikan bahwa bahasa daerah masih sangat kuat diwariskan melalui komunikasi sehari-hari dalam keluarga.
Memasuki kawasan bagian barat Pulau Jawa, persentase penggunaan bahasa daerah mulai mengalami penurunan yang bertahap seiring makin kuatnya pengaruh pembauran budaya dan urbanisasi perkotaan. Jawa Barat menempati peringkat keempat dengan persentase sebesar 70,48%, menunjukkan bahwa bahasa Sunda masih memiliki basis penutur domestik yang relatif terjaga di mayoritas wilayahnya.
Selanjutnya, Banten berada di urutan kelima dengan porsi penggunaan bahasa daerah sebesar 53,8%. Kesenjangan paling mencolok terlihat antara Banten dan DKI Jakarta yang mencapai 51,81 poin persentase, meski keduanya berada dalam satu jangkauan kawasan metropolitan yang saling berhubungan erat.
Posisi juru kunci diduduki oleh DKI Jakarta dengan angka yang sangat kontras jika dibandingkan dengan lima provinsi lainnya di Pulau Jawa, yakni hanya sebesar 1,99%. Rendahnya angka di Jakarta menegaskan posisinya sebagai melting pot heterogen tempat bertemunya berbagai etnis, sehingga bahasa Indonesia maupun bahasa gaul perkotaan secara alami menggantikan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari di rumah. Perbedaan tajam antarwilayah ini menjadi pengingat penting mengenai pentingnya menjaga kelestarian tutur kata lokal agar tidak punah ditelan zaman.
Baca Juga: 10 Kabupaten/Kota dengan Warisan Budaya Tak Benda Terbanyak di Jawa Barat
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/publication/2026/05/29/07e7729b9936b34122db0589/statistik-sosial-budaya-2025.html