Produksi Padi RI Diprediksi Menurun, Apa Sebabnya?

El Nino jadi salah satu alasan produksi padi Indonesia menyusut

Produksi Padi RI Diprediksi Menurun, Apa Sebabnya? Potret seorang petani sedang duduk di sawah yang mengering | kalilipatvideoart/Shutterstock

Produksi padi di Indonesia diperkirakan akan menurun hingga 5 juta ton karena efek adanya El Nino yang terjadi pada tahun ini. Perkiraan ini disampaikan langsung oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa dalam rapat kerja (raker) bersama Komisi XI DPR RI.

Mengutip dari laman BMKG NTB, El Nino diartikan sebagai fenomena pemanasan suhu muka laut di atas kondisi normalnya yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah. Pemanasan ini berpotensi menambah pertumbuhan awan hingga mengurangi curah hujan sehingga memicu terjadinya kekeringan.

“Biasanya, El Nino berdasarkan data yang kami miliki pada 1990-2020, itu menunjukkan penurunan produksi secara konsisten setiap kejadian El Nino, yakni produksi padi 1-5 juta ton tergantung intensitas El Nino,” terang Menteri PPN/Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa dikutip dari CNN Indonesia pada Senin(5/6).

Selaras dengan pernyataan Menteri PPN/Kepala Bappenas, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam 6 tahun terakhir ini terjadi dua kali penurunan jumlah produksi padi gabah kering giling (GKG).

Volume produksi padi pada tahun 2018-2022 | Goodstats

Mengacu pada data diatas, terlihat bahwa produksi padi dalam negeri pernah menyentuh angka 81.07 juta ton GKG di tahun 2017.

Akan tetapi, pada 2018 produksi padi di Indonesia hanya mencapai 59.2 juta ton GKG saja. Jumlah produksi ini berkurang sebanyak 21.8 juta ton GKG atau menurun 72% dibandingkan tahun 2017.

Tak hanya itu, produksi padi juga kembali menurun pada 2019. Indonesia hanya mampu memproduksi 54,604 juta GKG, atau menyusut setinggi 4,5 juta ton GKG.

Sejak 2019 hingga 2022 lalu, jumlah produksi padi di Indonesia hanya berkisar di angka 54 juta ton GKG saja yang tentu tetap mengalami adanya penurunan di angka puluhan hingga ratusan kilo GKG.

Selain menyampaikan proyeksi penurunan produksi padi, Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan bahwa perubahan iklim ini memang harus diantisipasi jauh-jauh hari sebelumnya.

Tak hanya Menteri PPN/Kepala Bappenas yang menyoroti soal El Nino, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan juga turut menanggapi terkait permasalahan dengan memberikan pilihan untuk membuka peluang impor beras guna menghadapi kondisi El Nino ini.

“Iya (impor beras) kalau diperlukan. KIta harus siap-siap menghadapi segala kemungkinan, dengan cara apa? Misalnya beras kita harus G2G (government to goverment) memesan barang dari sekarang, agar itu menjadi stok kita, sehingga nanti-nanti kalau kita kurang (stok) itu tersedia,” kata Zulkifli Hasan di Istana Kepresidenan, dikutip dari CNN Indonesia pada Senin (22/5).

 

Penulis: Mela Syaharani
Editor: Iip M Aditiya

Konten Terkait

Realisasi Investasi Migas Tembus Rp243,27 T Pada 2023, Naik 12%

Kementerian ESDM mencatat bahwa realisasi investasi migas tembus US$15,6 miliar atau setara Rp245,27 triliun di tahun 2023.

Tahun Baru Imlek Disambut dengan Lonjakan Harga Bahan Pokok

Perlu adanya langkah-langkah strategis untuk mengatasi dampak ekonomi yang mungkin berlanjut setelah perayaan Imlek.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Dengan melakukan pendaftaran akun, saya menyetujui Aturan dan Kebijakan di GoodStats

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook