Padi merupakan komoditas pangan utama di Indonesia dan menjadi bahan baku beras yang dikonsumsi oleh sebagian besar penduduk. Selain berperan vital dalam ketahanan pangan, padi juga memiliki arti sosial dan ekonomi yang besar bagi jutaan petani di tanah air. Sebagai tanaman pangan strategis, produktivitas padi sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim, ketersediaan air, kualitas benih, serta kebijakan pertanian pemerintah.
Produksi padi nasional menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), capaian produksi yang sempat menyentuh lebih dari 59 juta ton pada 2018 kini terus merosot hingga berada di kisaran 53 juta ton pada 2024. Kondisi ini menjadi sinyal penting bagi upaya menjaga ketahanan pangan nasional di tengah perubahan iklim dan dinamika sektor pertanian.
Penurunan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Dalam tujuh tahun terakhir, data menunjukkan adanya fluktuasi produksi yang cenderung menurun meskipun sempat mengalami sedikit kenaikan pada tahun-tahun tertentu. Berikut gambaran perkembangan produksi padi nasional dari 2018 hingga 2024.
Pada tahun 2018, produksi padi nasional tercatat sebesar 59.20 juta ton. Angka tersebut turun tajam pada 2019 menjadi 54,60 juta ton, dan hanya naik tipis di 2020 menjadi 54,64 juta ton.
Tren penurunan berlanjut pada 2021 dengan produksi sebesar 54,41 juta ton, kemudian sedikit meningkat setahun berikutnya menjadi 54,74 juta ton. Namun pada 2023, produksi kembali melemah menjadi 53,98 juta ton, dan terus turun hingga 53,14 juta ton pada 2024.
Secara keseluruhan, dalam kurun waktu 2018-2024, produksi padi nasional mengalami penurunan sekitar 6 juta ton. Penurunan produksi tersebut tidak terlepas dari perubahan pada aspek hulu, terutama jangkauan dalam panen.
Luas Panen Padi 2018-2024
Selain melihat perubahan pada tingkat produksi, penting pula meninjau faktor-faktor yang memengaruhi kemampuan sektor pertanian dalam mempertahankan output, salah satunya adalah luas panen padi nasional.
Luas panen menjadi indikator kunci karena mencerminkan ketersediaan lahan produktif yang secara langsung menentukan kapasitas produksi. Dalam beberapa tahun terakhir, indikator ini menunjukkan tren penyusutan yang perlu dicermati lebih lanjut untuk memahami tantangan struktural yang dihadapi pertanian padi di Indonesia.
Berdasarkan data BPS, luas panen yang sempat mencapai lebih dari 11 juta hektare pada 2018 kini terus menurun hingga sekitar 10 juta hektare pada 2024.
Pada 2018, luas panen padi nasional tercatat sebesar 11,37 juta hektare. Setahun kemudian, luas panen turun menjadi 10,67 juta hektare. Pada 2020, angka tersebut kembali turun tipis ke 10,65 juta hektare, lalu menyusut lagi menjadi 10,41 juta hektare pada 2021.
Luas panen padi sempat mengalami sedikit kenaikan pada 2022 dengan 10,45 juta hektare, namun tren penurunan berlanjut pada tahun-tahun berikutnya. Pada 2023, luas panen padi turun menjadi 10,21 juta hektare dan akhirnya mencapai titik terendah dalam enam tahun terakhir, yakni 10,04 juta hektare pada 2024.
Secara keseluruhan, dalam periode 2018-2024, luas panen padi nasional menyusut sekitar 1,33 juta hektare. Penurunan yang konsisten ini menandakan adanya tekanan serius terhadap sektor pertanian, khususnya subsektor tanaman pangan.
Baca Juga: Produksi Beras RI Melonjak, Proyeksi Capai 34,77 Juta Ton di 2025
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MTQ5OCMy/luas-panen-produksi-dan-produktivitas-padi-menurut-provinsi.html
Penulis: Prayogi Hadi Santoso
Editor: Editor