Prevalensi Stunting di Asia Tenggara Tinggi, Bagaimana dengan Kondisi di Indonesia?

Stunting adalah hasil dari kondisi malnutrisi pada balita. Lalu, bagaimana dengan tingkat prevalensi stunting di tanah air?

Prevalensi Stunting di Asia Tenggara Tinggi, Bagaimana dengan Kondisi di Indonesia? Ilustrasi dokter yang sedang memeriksa balita dengan kondisi malnutrisi | Mohammad Bash/Shutterstock

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada balita. Hal ini disebabkan oleh kurangnya gizi dalam jangka waktu yang lama, paparan infeksi berulang, dan kurangnya stimulasi. Kondisi malnutrisi ini dipengaruhi oleh kesehatan ibu saat hamil, status kesehatan remaja, serta ekonomi dan budaya hingga lingkungan, seperti sanitasi dan akses ke layanan kesehatan.

Mengacu pada laporan Organisasi Kesehatan Global (WHO), sekitar 149,2 juta atau 22% anak di bawah usia 5 tahun di seluruh dunia diperkirakan mengalami stunting pada tahun 2020 silam. Angka ini menurun sebesar 27% di bandingkan dua dekade lalu di tahun 2000.

Jika ditilik berdasarkan regional, Afrika merupakan wilayah dengan prevalensi tertinggi di tahun 2020 dengan persentase mencapai 31,7% menurut data WHO. Diikuti oleh wilayah Asia Tenggara dengan prevalensi stunting mencapai 30,1% dan wilayah Mediterania Timur dengan 26,2%.

Prevalensi penderita stunting usia balita di kawasan Asia Tenggara pada tahun 2020 | Goodstats

Adapun, Indonesia menjadi negara dengan prevalensi stunting tertinggi kedua di Asia Tenggara setelah Timor Leste. Berdasarkan laporan Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB), tingkat prevalensinya mencapai 31,8% pada tahun 2020.

Timor Leste berada di posisi pertama dengan tingkat prevalensi stunting balita mencapai 48,8%. Sementara, Laos berada di peringkat ketiga setelah Indonesia dengan prevalensi 30,2%. Disusul oleh Kamboja dengan 29,9%, Filipina 28,7%, Myanmar 25,2%, dan Vietnam 22,3%.

Selanjutnya ada Malaysia dengan prevalensi sebesar 20,9%, Brunei Darusssalam dengan tingkat 12,7%, dan Thailand dengan 12,3%. Adapun, Singapura menjadi negara dengan tingkat prevalensi stunting balita terendah di Asia Tenggara sebesar 2,8%.

Sementara itu, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menyebut, stunting tidak hanya mengenai tinggi badan, namun yang lebih berbahaya ialah rendahnya kemampuan anak dalam belajar dan kondisi keterbelakangan mental. Lebih lanjut, ia menargetkan prevalensi stunting anak di Indonesia menurun menjadi 14% pada tahun 2024 mendatang.

“Oleh sebab itu, target yang saya sampaikan 14% di tahun 2024. Ini harus bisa kita capai, saya yakin dengan kekuatan kita bersama semuanya bisa bergerak,” tuturnya seperti yang dikutip dari situs Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Penulis: Nada Naurah
Editor: Iip M Aditiya

Konten Terkait

Anggaran Bansos Nyaris Sentuh Rp500 T, Ini Program Prioritasnya

Berdasarkan keterangan dari Kemenkeu, program prioritas bansos 2024 di antaranya adalah BLT, PKH, dan bansos pangan.

Kilas Balik Pemilu 2024: Serba-Serbi Konflik Jelang Pemungutan Suara hingga Penghitungan Suara

Pemilu 2024 telah dilaksanakan tapi nyatanya masih banyak catatan merah pada pelaksanaannya, mulai dari persoalan kedisiplinan, intimidasi, dan sebagainya.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Dengan melakukan pendaftaran akun, saya menyetujui Aturan dan Kebijakan di GoodStats

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook