Perkara Inflasi dan Subsidi, Pertamina Jual Rugi BBM

Pemerintah berupaya menekan harga BBM tetap terkendali di tengah lonjakan harga minyak dunia lewat subsidi. Sementara itu, Pertamina menjual rugi produknya.

Perkara Inflasi dan Subsidi, Pertamina Jual Rugi BBM Potret SPBU Pertamina | akuditaputri/Shutterstock

Untuk menekan harga bahan bakar minyak (BBM) tetap terkendali di tengah lonjakan harga minyak dunia yang masih berlangsung, pemerintah menggelontorkan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) untuk subsidi BBM masyarakat. Adapun nominalnya mencapai Rp502,4 triliun dan diprediksi terus meningkat hingga akhir tahun 2022 mendatang.

Kendati pemerintah menahan harga BBM domestik agar tetap murah, Presiden Joko Widodo mengungkapkan bahwa pemerintah relatif kesulitan untuk menjaga beban subsidi yang berpotensi semakin melebar.

Lebih lanjut, Jokowi mengungkapkan bahwa beban subsidi BBM negara telah melampaui kebutuhan anggaran pembangunan ibu kota negara (IKN) yang dipatok sebesar Rp 446 triliun. Meskipun demikian, pemerintah akan tetap memprioritaskan pengalihan APBN untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat.

Pertamina sebagai holding BUMN minyak dan gas (migas) dituntut untuk memenuhi kewajiban pelayanan publik atau public service obligation (PSO). Oleh karena subsidi yang terus membengkak, Pertamina terdesak untuk menjual BBM lebih rendah dibandingkan harga pasar. Bahkan, perbandingan harga jual dengan harga beli BBM Pertamina dapat dikatakan jomplang.

Pertamina jual rugi BBM dan LPG hingga lebih dari 3 kali lipat

Pertamina menetapkan harga jual yang rendah pada 4 lini produk migas di antaranya ialah solar, Pertalite, Pertamax, dan LPG. Dimulai dari solar, saat ini Pertamina masih menekan harga jual solar di angka Rp5.150 per liter. Sementara itu, harga beli solar sendiri telah mencapai Rp18.150 per liter di pasaran, selisih hingga 3,5 kali lipat.

Perbandingan harga jual dan beli produk Pertamina per Juli 2022 | GoodStats

Berikutnya, harga jual Pertalite yang ditetapkan saat ini masih tetap di angka Rp7.650 per liter, kendati harga beli Pertalite atau BBM dengan Research Octane Number (RON) 90 di pasaran telah mencapai Rp17.200 per liter.

Di sisi lain, meskipun Pertamax mengalami kenaikan harga jual per liter menjadi Rp12.500 sejak April 2022, harga jual yang ditetapkan Pertamina ini pun masih lebih rendah dibandingkan dengan harga beli BBM RON 92 di pasaran yang menembus Rp17.950 per liter.

Kejomplangan tertinggi ada pada harga jual dan beli LPG subsidi. Harga beli LPG di pasaran saat ini menyentuh angka Rp15.698 per kilogram (kg), sementara itu Pertamina mematok harga LPG subsidi di Indonesia sebesar Rp4.250 per kg yang mana angka ini lebih rendah 3,7 kali lipat dibandingkan harga beli.

Mengutip Liputan6.com, Nicke Widyawati selaku Direktur Utama Pertamina menuturkan bahwa penguatan harga minyak mentah terjadi akibat penurunan suplai global, terutama dari Libya dan Ekuador serta terbatasnya kemampuan produksi OPEC+ berdampak terhadap harga keekonomian bahan bakar minyak dan elpiji di Indonesia.

Kendalikan distribusi BBM lewat MyPertamina, mayoritas masyarakat tidak setuju

Dalam upaya mengantisipasi pelebaran anggaran subsidi BBM yang tidak terkendali, pemerintah dan Pertamina akan menerapkan distribusi BBM jenis solar dan Pertalite melalui sistem digital. Masyarakat diwajibkan untuk melakukan pembelian BBM subsidi lewat aplikasi MyPertamina bagi yang menggunakan kendaraan roda empat.

Penggunaan aplikasi MyPertamina ini diharapkan mampu memastikan penyaluran BBM subsidi jenis solar dan Pertalite tepat sasaran serta meminimalisir penyimpangan.

Untuk dapat membeli BBM subsidi, masyarakat diminta untuk melakukan pendaftaran diri lewat aplikasi MyPertamina dan melengkapi sejumlah persyaratan di antaranya kartu identitas, surat tanda nomor kendaraan (STNK), hingga foto kendaraan.

Usai mendaftar, masyarakat menunggu proses verifikasi yang berlangsung kurang lebih 1 minggu untuk memastikan apakah kendaraanya layak membeli BBM subsidi.

Menelusuri tanggapan masyarakat, hasil survei yang dilakukan Litbang Kompas mengungkapkan bahwa mayoritas responden tidak setuju jika pembelian BBM subsidi harus dilakukan lewat aplikasi MyPertamina. Adapun angkanya mencapai 82,6 persen responden, sebuah persentase yang dominan.

Tanggapan masyarakat terkait pembelian BBM subsidi melalui aplikasi MyPertamina tahun 2022 | GoodStats

Alasannya, terdapat banyak tahapan yang harus dilalui serta proses yang memakan waktu lama untuk memperoleh BBM subsidi melalui aplikasi menyebabkan sebagian besar masyarakat kontra dengan kebijakan tersebut.

Sementara itu, hanya 16,1 persen responden yang menyatakan setuju untuk melakukan pembelian BBM subsidi lewat aplikasi. Sisanya, sebesar 1,3 persen responden menyatakan tidak tahu.

Saat ini, pembelian BBM subsidi jenis solar dan Pertalite melalui aplikasi MyPertamina telah diujicobakan di 11 daerah pada 5 provinsi yaitu Sumatra Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Jawa Barat, dan DI Yogyakarta. Uji coba tersebut telah dilakukan sejak 1 Juli 2022.

“Sampai kapan kita bisa bertahan dengan subsidi sebesar ini? Kalau kita tidak mengerti angka-angka kita tidak akan merasakan betapa sangat besar persoalan saat ini,” tutur Presiden Joko Widodo dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PDIP di Lenteng Agung, Jakarta pada Selasa (21/6/2022) dikutip dari Bisnis.com.

Penulis: Diva Angelia
Editor: Iip M Aditiya

Artikel Sebelumnya Melihat Statistik Wabah PMK di Indonesia Hingga Awal Juli
Artikel Selanjutnya Tren Penjualan Motor di Indonesia: Honda Kuasai Pasar, Suzuki di Ujung Tanduk
Konten Terkait