NTT Jadi Provinsi yang Paling Banyak Membakar Sampah

Perlu adanya upaya intensif dalam edukasi dan penyediaan fasilitas guna mendukung pengelolaan sampah yang lebih baik di provinsi-provinsi ini.

NTT Jadi Provinsi yang Paling Banyak Membakar Sampah Ilustrasi Pembakaran Sampah | iStockphoto

Masalah pengelolaan sampah di Indonesia masih menjadi tantangan besar yang memerlukan perhatian serius. Banyak masyarakat yang mengelola sampah dengan cara yang tidak tepat. Hal ini tidak hanya berpotensi merusak ekosistem, tetapi juga dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius bagi manusia.

Salah satu contoh pengelolaan sampah yang salah dan berdampak fatal adalah dengan membakar sampah. Meskipun terlihat sebagai solusi yang mudah dan cepat untuk mengurangi volume sampah, pembakaran sampah sebenarnya membawa risiko besar.

Proses pembakaran menghasilkan emisi gas beracun seperti dioxin dan furan yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Selain berdampak pada kualitas udara, pembakaran sampah juga dapat mencemari tanah dan air di sekitarnya yang mengancam kehidupan hewan dan tumbuhan serta memengaruhi kualitas sumber daya alam yang diandalkan setiap hari.

Sayangnya, kesadaran masyarakat tentang bahaya pembakaran sampah masih rendah. Banyak warga yang terus melakukan praktik ini karena kurangnya pengetahuan tentang dampak buruk yang ditimbulkannya serta minimnya alternatif pengelolaan sampah yang lebih aman dan ramah lingkungan.

Provinsi dengan Warga yang Paling Banyak Membakar Sampah | GoodStats

Menurut data dari Survei Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2023, Nusa Tenggara Timur menempati posisi tertinggi dalam hal persentase warga yang masih membakar sampah, dengan angka mencapai 83,6%. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat di provinsi ini masih menggunakan metode yang berbahaya tersebut sebagai solusi untuk mengelola sampah mereka.

Di Lampung, persentase warga yang membakar sampah juga sangat tinggi, yaitu sebesar 81,1%. Praktik ini menjadi masalah yang serius mengingat dampak negatifnya terhadap kesehatan dan lingkungan.

Aceh berada di urutan ketiga dengan 77,3% warga yang masih membakar sampah. Hal ini mencerminkan perlunya peningkatan edukasi dan sosialisasi mengenai metode pengelolaan sampah yang lebih aman dan berkelanjutan. 

Gorontalo mengikuti dengan 77,1% warganya yang membakar sampah. Angka ini hampir sama dengan Aceh, menunjukkan bahwa praktik ini masih umum dilakukan. 

Kalimantan Barat mencatat 72,6% warga yang membakar sampah, menempatkannya di urutan kelima. Tingginya persentase ini mengindikasikan perlunya intervensi lebih lanjut dari pemerintah daerah untuk mengurangi praktik ini dan mempromosikan metode pengelolaan sampah yang lebih baik.

Selanjutnya, 72,4% warga Riau tercatat masih membakar sampah. Meski sedikit lebih rendah dibandingkan Kalimantan Barat, angka ini tetap menunjukkan bahwa praktik pembakaran sampah terus menjadi solusi utama bagi banyak orang di provinsi ini.

Sulawesi Tengah dengan 69,1% dan Sulawesi Barat dengan 68,3% warga yang membakar sampah menunjukkan bahwa di kedua provinsi ini, pembakaran sampah masih menjadi metode yang dominan. Perlu perhatian khusus dari pihak berwenang untuk mengatasi masalah ini melalui program-program edukasi dan peningkatan fasilitas pengelolaan sampah.

Di Papua Pegunungan, 67,3% warga masih menggunakan cara pembakaran untuk mengelola sampah mereka. Dengan kondisi geografis yang menantang, pendekatan khusus mungkin diperlukan untuk menyediakan alternatif pengelolaan sampah yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Jawa Tengah, dengan 66,4% warga yang membakar sampah, menunjukkan bahwa meskipun berada di Pulau Jawa yang lebih maju, masih banyak masyarakat yang belum beralih ke metode pengelolaan sampah yang lebih modern dan aman.

Melihat data-data ini, jelas bahwa pembakaran sampah masih menjadi masalah besar di berbagai provinsi di Indonesia. Upaya kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, dan organisasi non-pemerintah diperlukan untuk mengurangi praktik ini dan memperkenalkan metode pengelolaan sampah yang lebih baik dan berkelanjutan.

Baca Juga: Indonesia Penyumbang Sampah Sisa Makanan Terbesar di ASEAN

Penulis: Brilliant Ayang Iswenda
Editor: Editor

Konten Terkait

Pencurian Jadi Aktivitas Kejahatan Paling Masif di Indonesia

Kasus pencurian menjadi kasus kejahatan tertinggi di Indonesia, totalnya melebihi 50.000 kasus.

Kekerasan Berbasis Gender di Indonesia Capai 12 Ribu di Tahun 2024

Kasus kekerasan berbasis gender masih saja terjadi, bahkan merambat ke lingkup pejabat negara.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Dengan melakukan pendaftaran akun, saya menyetujui Aturan dan Kebijakan di GoodStats

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook