Indonesia Penyumbang Sampah Sisa Makanan Terbesar di ASEAN

Indonesia menyumbang sampah sisa makanan sebanyak 20,93 juta kg setiap tahunnya, setara dengan kerugian sekitar Rp231-551 triliun.

Indonesia Penyumbang Sampah Sisa Makanan Terbesar di ASEAN Sampah makanan yang menumpuk | Pixabay

Sampah makanan merupakan salah satu masalah global yang sangat penting. Sampah makanan bertanggung jawab atas sekitar 8-10% emisi gas rumah kaca. Mengurangi sampah makanan dapat meningkatkan ketersediaan pangan bagi mereka yang membutuhkan.

Pada tahun 2021, United Nations Environment Programme (UNEP) menerbitkan laporan Food Waste Index yang menyoroti besarnya sampah makanan dan prevalensi sampah makanan sampah makanan rumah tangga di semua benua, terlepas dari tingkat pendapatan negaranya.

Banyak sampah sisa makanan negara-negara di ASEAN | Goodstats

Di Asia Tenggara, Indonesia menjadi negara yang produksi sampah makanan terbanyak mencapai 20,93 juta kilogram (kg) setiap tahunnya. Secara global, Indonesia menduduki posisi keempat terbesar setelah China, India, dan Nigeria.

Jika dibandingkan dengan negara-negara di ASEAN, sampah makanan di Indonesia terhitung sangat banyak. Filipina yang menjadi menjadi negara penyumbang sampah makanan terbesar kedua di ASEAN, menyumbang sebanyak 9,3 juta kg sampah memiliki selisih yang jauh dengan Indonesia yang berada di urutan pertama.

Di urutan ketiga, Vietnam menyumbang sampah sisa makanan sebesar 7,3 juta kg disusul oleh Thailand sebesar 5,4 juta kg. Brunei menjadi penyumbang terkecil yaitu hanya sebesar 34,7 ribu kg sampah.

Setiap warga Indonesia rata-rata membuang sekitar 300 kg sampah makanan per tahunnya. Berdasarkan data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2022, sampah sisa makanan menjadi penyumbang terbesar di Indonesia yaitu sebesar 41,5%.

Tak hanya bermasalah bagi lingkungan, dari sisi ekonomi makanan yang terbuang ini memberikan kerugian sekitar Rp231 - 551 triliun per atau setara dengan kontribusi ke Produk Domestik Bruto sebesar 4% - 5% per tahunnya. Jumlah tersebut harusnya bisa memberi makan 30% - 40% populasi kita.

Dari segi sosial, banyak ditemui masalah stunting pada balita yang mencapai lebih dari 8 juta anak. Tanpa disadari, masalah sampah makanan nyatanya berpengaruh terhadap berbagai segi di kehidupan.

Bagi sebagian besar masyarakat, sampah sisa makanan mungkin masih dianggap sepele. Namun, jika tidak ditangani dengan serius hal ini akan menyebabkan masalah yang lebih besar ke depannya.

Perubahan perilaku konsumsi dan pengelolaan sisa makanan menjadi kunci dalam menangani masalah ini. Edukasi mengenai pentingnya pengurangan sampah makanan perlu ditingkatkan di semua lapisan masyarakat. Selain itu, dukungan pemerintah dan sektor swasta dalam mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang efisien dan berkelanjutan juga sangat dibutuhkan.

Penulis: Icen Ectefania Mufrida
Editor: Iip M Aditiya

Konten Terkait

Jaya Ancol Alami Penurunan Pendapatan pada Kuartal I 2024

Momen puasa dan bulan Ramadan menyebabkan berkurangnya jumlah pengunjung, yang berperan signifikan dalam penurunan pendapatan dan laba Jaya Ancol.

Bea Cukai Mendapatkan 705 Aduan dari Masyarakat Sepanjang Tahun 2023

Berbagai jenis aduan mulai dari pelanggaran bea cukai, hingga pelayanan yang dinilai kurang, menjadi sorotan untuk perbaikan sistem pelayanan bea cukai.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Dengan melakukan pendaftaran akun, saya menyetujui Aturan dan Kebijakan di GoodStats

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook
Student Diplomat Mobile
X