Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Lampung menjadi provinsi dengan angka keberhasilan pengobatan tuberkulosis (TBC) tertinggi di Indonesia pada tahun 2024, dengan capaian 93%.
Adapun angka keberhasilan pengobatan atau Treatment Success Rate (TSR) merupakan indikator penting dalam evaluasi penanganan TBC. Indikator ini mengukur persentase pasien TBC yang sembuh dan menyelesaikan pengobatan secara lengkap dibandingkan dengan seluruh kasus yang diobati dan dilaporkan.
Setelah Lampung, Sumatra Selatan menduduki posisi kedua dengan angka keberhasilan 92%, disusul oleh Banten dan Gorontalo dengan persentase yang sama, yaitu 90,5%. Riau mencatatkan angka keberhasilan 90,4% dan berhasil masuk di peringkat lima besar sebagai provinsi yang paling berhasil dalam pengobatan pasien TBC.
Posisi keenam ditempati oleh Jawa Timur dengan angka 89%. Hanya berselisih tipis, bangku berikutnya diraih oleh Sulawesi Barat dan Nusa Tenggara Barat dengan capaian keberhasilan masing-masing adalah 88,9% dan 88,7%.
Jambi menjadi provinsi kesembilan dengan persentase sebesar 88,2%. Pemeringkatan ditutup oleh Nusa Tenggara Timur dengan proporsi keberhasilan pengobatan TBC sebesar 87,8%.
Meski menunjukkan angka yang relatif tinggi, capaian ini belum memenuhi target Rencana Strategis (Renstra) Kemenkes yang ditetapkan, yaitu sebesar 90%. Hanya lima provinsi yang telah berhasil mencapai atau melampaui target tersebut. Lampung, Sumatra Selatan, Banten, Gorontalo, dan Riau menjadi panutan bahwa program pengendalian TBC di wilayah tersebut sudah tergolong efektif.
Bagaimana Keberhasilan Pengobatan TBC Secara Nasional?
Secara nasional, angka keberhasilan pengobatan TBC di Indonesia cenderung stabil dalam sedekade terakhir, yaitu antara 80–86%. Menurut Kemenkes, tingkat keberhasilan pengobatan TBC pada tahun 2024 tercatat sebesar 85,5%, sedikit menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang sempat mencapai 86,5% pada 2022–2023.
Mulanya, angka keberhasilan pengobatan TBC pada 2015 mencapai 85,1%, kemudian sempat menurun ke titik terendah pada tahun 2020 sebesar 82,7%. Hal ini kemungkinan besarnya dipengaruhi oleh disrupsi layanan kesehatan akibat pandemi Covid-19 yang berdampak pada kepatuhan pasien dalam menyelesaikan pengobatan. Setelah itu, angka keberhasilan kembali tumbuh hingga mencapai puncaknya pada tahun 2022 dan 2023.
Angka keberhasilan yang belum memenuhi target Renstra Kemenkes yang minimal mencapai 90% dalam sedekade terakhir menunjukkan bahwa masih ada tantangan dalam memastikan seluruh pasien TBC menjalani dan melakukan pengobatan secara tuntas.
Diperlukannya upaya lanjutan dalam peningkatan angka keberhasilan dan kesembuhan pasien melalui penguatan pendampingan, pemantauan pengobatan, serta edukasi berkelanjutan agar Indonesia dapat mencapai target eliminasi TBC sesuai agenda nasional.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI, Benjamin Paulus Octavianus bertekad bahwa Kemenkes akan memperkuat kolaborasi lintas sektor dengan kementerian dan lembaga terkait sebagai upaya mengobati kasus TBC di Indonesia.
Ia juga menegaskan bahwa pasien TBC tidak boleh distigma atau dijauhi karena penyakit ini dapat disembuhkan sepenuhnya dengan pengobatan yang tepat. Adapun edukasi terhadap masyarakat juga penting dilaksanakan. Tempat umum seperti pasar, tempat ibadah, dan fasilitas umum rentan menjadi media penyebar penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis ini.
“TBC bisa disembuhkan, pengobatannya gratis, dan negara menjamin ketersediaan obat. Tapi kalau masyarakat tidak sadar untuk memeriksa diri, penularan akan terus terjadi,” ucapnya dalam acara temu media membahas program prioritas presiden, Jumat (17/10/2025).
Menurutnya, keberhasilan mengendalikan TBC merupakan salah satu indikator kemajuan suatu bangsa.
“Negara dengan angka TBC tinggi tidak bisa disebut negara maju. Edukasi, gizi, dan kesadaran masyarakat mencerminkan kualitas pembangunan. Saat ini, Indonesia masih berada di peringkat kedua dunia setelah India dalam jumlah kasus TBC. Ini menjadi tanggung jawab bersama agar dalam tiga tahun ke depan, angka TBC di Indonesia bisa turun drastis,” imbuhnya.
Baca Juga: Jawa Barat Jadi Provinsi dengan Kasus TBC Terbanyak Sepanjang 2024
Sumber:
https://kemkes.go.id/id/profil-kesehatan-indonesia-2024
https://kemkes.go.id/id/indonesia-harus-temukan-lebih-banyak-kasus-tbc-agar-penularan-bisa-dihentikan
https://kemkes.go.id/id/permenkes-ri-no-12-tahun-2025-tentang-rencana-strategis-kementerian-kesehatan-tahun-2025-2029
Penulis: Shahibah A
Editor: Editor