Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laporan Statistik Objek Daya Tarik Wisata 2024 pada Rabu (31/12/2025). Laporan ini memberi gambaran tentang kondisi dan struktur objek wisata di Indonesia, salah satunya dari sisi usia usaha. Data tersebut menunjukkan bahwa lanskap pariwisata nasional tengah mengalami fase pertumbuhan yang cukup dinamis, ditandai dengan dominasi objek wisata berusia relatif muda.
Objek daya tarik wisata memiliki peran strategis dalam membentuk pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan. Keberadaannya bukan hanya menarik kunjungan wisatawan, tetapi juga berkontribusi terhadap perputaran ekonomi daerah, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan identitas lokal. Dalam konteks global, kualitas dan keberagaman objek wisata juga menjadi salah satu faktor penentu daya saing pariwisata suatu negara.
Hal ini tercermin dari peningkatan peringkat Indonesia dalam Travel and Tourism Development Index (TTDI) 2024 yang naik ke posisi 22 dari 119 negara. Capaian tersebut menandakan adanya kemajuan signifikan dalam pengembangan sektor pariwisata nasional. Meski demikian, tantangan seperti infrastruktur, aksesibilitas, dan layanan pendukung masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu dibenahi secara konsisten.
Dari sisi ketersediaan objek wisata, BPS mencatat jumlah objek daya tarik wisata di Indonesia tumbuh sebesar 17,18% pada 2024. Pertumbuhan ini menunjukkan geliat investasi dan kreativitas daerah dalam mengembangkan destinasi baru. Tidak hanya menambah jumlah, tren ini juga membuka peluang pemerataan pariwisata ke wilayah-wilayah yang sebelumnya kurang terekspos.
Baca Juga: 10 Provinsi dengan Pendapatan Wisata Terbesar 2024
Jika dilihat berdasarkan kelompok usia usaha, objek wisata berusia 1–5 tahun mendominasi dengan porsi 31,64%, disusul oleh objek wisata berusia 6–10 tahun sebesar 24%, kemudian 11–20 tahun sebesar 22,58%, dan lebih dari 20 tahun sebesar 19,68%. Sementara itu, objek wisata yang beroperasi kurang dari satu tahun tercatat hanya 2,1%. Struktur ini menunjukkan bahwa sebagian besar objek wisata nasional masih berada pada fase awal hingga menengah dalam siklus hidupnya.
Menariknya, pola usia objek wisata berbeda antar provinsi. Di daerah yang telah lama dikenal sebagai destinasi unggulan seperti Bali dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), distribusi usia objek wisata cenderung lebih merata. Di Bali, objek wisata berusia 1–5 tahun mencapai 22,08%, sementara usia 6–10 tahun justru lebih tinggi di angka 33,44%. Adapun objek wisata berusia lebih dari 20 tahun masih memiliki porsi signifikan sebesar 19,98%.
Kondisi serupa terlihat di DIY. Objek wisata berusia 1–5 tahun tercatat sebesar 23,85%, diikuti usia 6–10 tahun sebesar 27,85%, dan usia di atas 20 tahun sebesar 24,98%. Sebaran yang relatif seimbang ini mencerminkan kematangan sektor pariwisata di kedua daerah tersebut, di mana destinasi lama tetap bertahan dan berkembang berdampingan dengan objek wisata baru.
Sebaliknya, beberapa provinsi menunjukkan konsentrasi yang cukup besar pada objek wisata berusia muda. Di Lampung, sebanyak 41,76% objek wisata berada pada rentang usia 1–5 tahun. Bengkulu bahkan mencatat proporsi yang lebih tinggi, yakni 57,58%. Sementara di Kalimantan Selatan, objek wisata berusia 1–5 tahun mencapai 54,63% dari total yang ada.
Dominasi objek wisata berusia muda di daerah-daerah tersebut mengindikasikan percepatan pengembangan destinasi dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini bisa menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi lokal, namun sekaligus menjadi tantangan dalam menjaga kualitas, keberlanjutan, dan daya saing jangka panjang. Tanpa pengelolaan yang matang, lonjakan jumlah destinasi baru berisiko tidak diiringi dengan standar layanan dan infrastruktur yang memadai.
Baca Juga: 10 Provinsi dengan Wisatawan Terbanyak 2024
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/publication/2025/12/31/172e6ca95600a420b528a1bb/statistik-objek-daya-tarik-wisata-2024.html
Penulis: izzul wafa
Editor: Editor