Di balik gemerlap lampu kota yang tak pernah padam dan padatnya aktivitas masyarakat urban, ternyata tersimpan sebuah fakta emosional yang cukup mengejutkan pada tahun 2025. Berdasarkan hasil riset terbaru mengenai tingkat kesejahteraan psikologis, beberapa kota besar di Indonesia mencatatkan angka kerentanan kesepian yang cukup tinggi.
Fenomena ini kini menjadi perhatian penting para ahli, karena kesepian bukan lagi sekadar perasaan sedih biasa yang datang dan pergi, melainkan telah menjadi indikator krusial bagi kesehatan mental dan stabilitas sosial warga kota.
Secara mengejutkan, Kota Yogyakarta menempati urutan pertama sebagai kota dengan indeks kerentanan kesepian tertinggi di Indonesia, dengan angka mencapai 74,94. Padahal, selama ini Jogja begitu lekat dengan citra kota yang ramah, santai, dan penuh kehangatan warganya.
Namun, data ini berbicara lain. Keramaian di luar ternyata tidak selalu menjamin kedamaian atau rasa terhubung di dalam hati para penduduknya. Menyusul di posisi kedua, wilayah Jakarta Pusat (Jakpus) mencatatkan skor 65,61. Sebagai pusat bisnis dan pemerintahan dengan kepadatan penduduk yang sangat tinggi, warga Jakarta Pusat rupanya sangat rentan merasa terasing justru di tengah hiruk-pikuk pusat peradaban.
Fenomena kesepian ini pun merata di berbagai kota besar lainnya. Berdasarkan indeks yang disusun menggunakan 12 variabel berbeda pada kota dengan kepadatan di atas 4.500 jiwa/km², berikut adalah daftar lengkapnya.
Baca Juga: Mengintip Kualitas Hidup Orang Indonesia 2025
Mengapa Banyak Warga Kota Merasa Kesepian?
Fenomena ini muncul bukan tanpa alasan. Secara nasional, hampir 20% warga Indonesia mengaku merasa kesepian setidaknya satu kali dalam sepekan. Bahkan, yang lebih memprihatinkan, sekitar sepertiga dari jumlah tersebut mengalami perasaan terasing ini hampir setiap hari.
Hal ini menunjukkan bahwa kesepian telah bertransformasi menjadi masalah kolektif yang mendesak untuk dicarikan solusinya, bukan lagi sekadar urusan pribadi masing-masing individu.
Ada beberapa faktor kunci yang dinilai sangat berpengaruh terhadap tingkat kesepian warga kota. Faktor pertama adalah ketersediaan dan kualitas ruang publik. Ruang terbuka hijau atau taman kota yang memungkinkan orang untuk berinteraksi secara santai, spontan, dan tanpa biaya menjadi sangat penting di tengah tekanan hidup perkotaan.
Tanpa ruang publik yang memadai, warga cenderung mengurung diri di ruang-ruang privat yang tertutup. Selain itu, perubahan struktur rumah tangga dan pola hubungan antar tetangga yang semakin individualis di kota besar turut memperlebar jarak emosional antar manusia.
Di kota besar, banyak orang hidup berdampingan namun tidak saling mengenal, menciptakan situasi "kesepian di tengah keramaian". Layanan kesehatan jiwa yang mudah diakses serta dukungan komunitas yang aktif juga menjadi variabel penentu. Kota-kota yang mampu menyediakan sistem pendukung sosial yang kuat terbukti memiliki tingkat kesepian yang jauh lebih rendah.
Data ini pada akhirnya menjadi pengingat bahwa di tengah majunya teknologi dan infrastruktur fisik, aspek kemanusiaan dan koneksi sosial yang tulus tetap tidak boleh diabaikan. Kesepian di kota-kota padat seperti Yogyakarta dan Jakarta adalah tantangan nyata bagi pemerintah dan masyarakat dalam membangun kota yang benar-benar layak huni, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara mental dan spiritual.
Baca Juga: Jakarta Pimpin Kemampuan Bahasa Inggris di Indonesia 2025
Penulis: Emily Zakia
Editor: Editor