Investasi jangka panjang kini bukan lagi topik asing bagi Generasi Z. Di tengah tren investasi anak muda yang terus meningkat, semakin banyak investor muda yang mulai menyadari pentingnya literasi keuangan sejak dini.
Tren investasi anak muda di Indonesia menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Platform digital yang semakin ramai pengguna membuat investasi untuk pemula terasa lebih mudah dan terjangkau.
Saat ini, berinvestasi tak perlu lagi datang ke kantor atau menyiapkan modal besar. Cukup dengan ponsel dan koneksi internet, siapa pun bisa menjadi investor muda.
Namun, kemudahan ini juga menghadirkan tantangan, salah satunya informasi yang melimpah yang tak selalu diiringi pemahaman mendalam. Banyak yang tertarik karena ikut-ikutan tren semata saja, bukan karena strategi jangka panjang.
Padahal, investasi jangka panjang menuntut adanya konsistensi, kesabaran, dan literasi keuangan yang baik. Di sinilah pentingnya memahami data dan alasan di balik lonjakan investor muda saat ini.
Baca Juga: Usia Berapa Sebaiknya Mulai Investasi?
Tren Investor Muda
Data dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per Agustus 2025 menunjukkan bahwa investor di pasar modal Indonesia didominasi oleh kelompok usia muda.
Sebanyak 54,12% investor berada di rentang usia di bawah 30 hingga 30 tahun. Angka ini jauh melampaui kelompok usia 31-40 tahun yang berada di angka 24,89%. Sementara itu, usia 41-50 tahun sebesar 12,31%, usia 51-60 tahun 5,74%, dan di atas 60 tahun hanya 2,94%.
Dari sisi pendidikan, mayoritas investor didominasi lulusan di bawah SMA hingga SMA sebesar 44,52%. Lulusan D3 tercatat 5,05%, S1 sebesar 21,33%, S2 dan di atasnya 1,96%, serta kategori lainnya 27,14%.
Data ini memperlihatkan satu hal penting, yaitu pasar modal tidak lagi eksklusif bagi kalangan mapan atau berpendidikan tinggi saja. Akses yang terbuka membuat siapa pun bisa masuk ke dunia investasi, termasuk mahasiswa dan fresh graduate.
Artinya, tren investasi anak muda bukan sekadar sensasi, melainkan pergeseran struktur demografis investor di Indonesia.
Kenapa Gen Z Lebih Cepat Masuk Dunia Investasi?
Ada beberapa faktor yang mendorong Gen Z lebih cepat terjun ke dunia investasi jangka panjang.
- Kemudahan Akses Digital
Aplikasi investasi kini hadir dengan tampilan yang sederhana, proses pendaftaran cepat, dan nominal awal yang rendah. Bahkan, pembelian aset seperti reksa dana atau emas bisa dilakukan mulai dari belasan ribu rupiah.
- Meningkatnya Literasi Keuangan
Konten edukasi finansial di media sosial berkembang pesat. Banyak kreator membahas mengenai saham, reksa dana, hingga crypto dengan bahasa yang ringan. Walaupun kualitas informasinya perlu disaring, setidaknya ada kesadaran baru untuk belajar mengelola uang.
- Kesadaran akan Masa Depan Finansial
Gen Z tumbuh di tengah ketidakpastian ekonomi global, pandemi, dan isu inflasi. Pengalaman kolektif ini membentuk pola pikir yang lebih waspada. Mereka tidak ingin hanya mengandalkan satu sumber penghasilan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa generasi muda bukan hanya aktif sebagai pengguna teknologi, tetapi juga mulai cerdas memanfaatkannya untuk membangun pondasi finansial.
Jika edukasi terus diperkuat dan ekosistem pasar keuangan semakin inklusif, peran investor muda di Indonesia diprediksi akan semakin dominan.
Baca Juga: Emas Jadi Aset Paling Terpercaya di Indonesia 2026
Instrumen Investasi Jangka Panjang Terbaik
Di antara berbagai instrumen investasi, emas menjadi salah satu yang paling diminati. Berdasarkan survei Populix, sebanyak 80% responden memilih emas sebagai instrumen favorit. Sementara itu, 7% memilih cash, 6% properti, dan 7% lainnya tersebar pada instrumen lain. Mengapa emas begitu populer?
Kelebihan emas
Emas dikenal relatif aman terhadap inflasi. Nilainya cenderung stabil dalam jangka panjang, sehingga sering dijadikan aset lindung nilai. Likuiditasnya juga tinggi dan mudah dijual kapan saja, baik dalam bentuk fisik maupun digital. Modal awalnya pun terjangkau. Dengan nominal sekitar Rp10.000, investor sudah bisa mulai membeli emas digital.
Tak heran jika platform transaksi emas digital mencatat lonjakan signifikan, terutama di kalangan usia muda. Bagi Gen Z yang mencari investasi jangka panjang dengan risiko moderat, emas terlihat sebagai pilihan rasional.
Bukan berarti tanpa resiko!
Emas tidak memberikan dividen atau imbal hasil rutin. Keuntungan hanya berasal dari selisih harga beli dan jual. Artinya, jika harga stagnan dalam waktu lama, investor tidak memperoleh arus kas tambahan. Selain itu, risiko kehilangan tetap ada, baik untuk emas fisik maupun digital jika memilih platform yang kurang kredibel.
Emas juga kurang ideal untuk jangka pendek. Kenaikan harga yang signifikan biasanya baru terasa setelah 3-5 tahun berlalu. Karena itu, emas lebih cocok untuk tujuan jangka panjang seperti dana pensiun atau perlindungan nilai aset, bukan untuk kebutuhan cepat.
Bagi Gen Z, emas bisa menjadi fondasi portofolio. Namun, tetap perlu dipadukan dengan instrumen lain agar potensi pertumbuhan lebih optimal dan risiko lebih terdiversifikasi.
Lonjakan investor muda di Indonesia menjadi sinyal positif bahwa literasi keuangan semakin membaik. Investasi jangka panjang bukan lagi topik eksklusif kalangan tertentu, melainkan sudah menjadi bagian dari gaya hidup Gen Z yang ingin mandiri secara finansial.
Namun, memilih instrumen investasi tidak bisa hanya berdasarkan tren semata saja. Emas memang menawarkan stabilitas dan kemudahan akses, tetapi bukan berarti cocok untuk semua tujuan. Setiap individu memiliki profil risiko, kebutuhan, dan target waktu yang berbeda.
Pada akhirnya, kunci investasi jangka panjang bukan terletak pada seberapa cepat memulai, melainkan seberapa konsisten menjalankannya.
Gen Z sudah membuktikan bahwa mereka berani masuk ke pasar. Tantangan berikutnya adalah memastikan langkah tersebut dilakukan dengan strategi yang matang, bukan sekadar ikut arus.
Baca Juga: Usia Berapa Sebaiknya Mulai Investasi?
Sumber:
https://web.ksei.co.id/files/Statistik_Publik_Agustus_2025.pdf
Penulis: Raka Adichandra
Editor: firda wandira