Bukan Remote, 71% Gen Z Ternyata Lebih Pilih Hybrid Working System!

Survei menunjukkan Gen Z lebih memilih hybrid working system dibanding remote. Temukan alasannya di sini!

Bukan Remote, 71% Gen Z Ternyata Lebih Pilih Hybrid Working System! Ilustrasi Pekerja | Vitaly Gariev/pexels.com
Ukuran Fon:

Pandemi COVID-19 menjadi titik balik besar dalam cara kita bekerja. Sistem kerja yang dulu identik dengan work from office (WFO) kini berubah drastis. Kehadiran remote working dan sistem kerja hybrid membuat pekerja memiliki lebih banyak pilihan. Namun menariknya, di tengah tren kerja fleksibel ini, Gen Z justru tidak sepenuhnya condong memilih remote working.

Alih-alih memilih kerja dari rumah sepenuhnya, generasi ini justru lebih menyukai kombinasi antara kantor dan rumah. Fenomena ini menunjukkan bahwa fleksibilitas bukan hanya soal lokasi, tapi juga soal pengalaman kerja yang lebih seimbang.

Baca Juga: Merasa Hilang Arah di Usia 20-an? Ini Tanda Kamu Mengalami Quarter Life Crisis

Hybrid Working System Jadi Favorit Gen Z

Preferensi Tempat Kerja Berdasarkan Generasi | GoodStats
Sebagian besar Gen Z, yaitu 71%, lebih memilih bekerja hybrid dibandingkan remote maupun on-site.

Berdasarkan Survei Gallup tahun 2025 tentang preferensi tempat kerja setiap generasi, mayoritas dari setiap generasi lebih memilih sistem kerja hybrid dibandingkan full WFH maupun WFO. Bahkan untuk Generasi Baby Boomers sekalipun, lebih dari setengah atau 54% memilih sistem kerja hybrid. Angka ini hampir sama dengan generasi selanjutnya, yaitu Gen X (56%).

Sementara itu, dua generasi termuda menempati peringkat kesatu dan kedua generasi yang lebih memilih kerja hybrid. Gen Milenial berada di posisi kedua dengan presentase 60% dan Gen Z di posisi pertama dengan presentase 71%.

Dari data tersebut, terlihat jelas bahwa Gen Z merupakan generasi yang paling menyukai sistem kerja hybrid. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan preferensi mereka terhadap kerja remote (23%) maupun full on-site (6%).

Survei Gallup juga mengungkap sebuah hal menarik. Ternyata, Gen Z tidak terlalu tertarik dengan kerja full remote. Mereka tetap ingin datang ke kantor beberapa kali seminggu. Namun, yang mereka inginkan adalah kebebasan menentukan kapan harus datang ke kantor, bukan jadwal yang kaku. Dengan kata lain, Gen Z mencari fleksibilitas dalam struktur kerja.

Di sisi lain, tren berbeda terlihat pada Gen Milenial. Generasi ini cenderung lebih menyukai kerja remote dengan intensitas lebih tinggi dibandingkan Gen Z. Survei Gallup bahkan mengungkap bahwa Gen Milenial cenderung mencari pekerjaan lain jika opsi remote dihilangkan.

Perbedaan ini memperlihatkan bahwa meskipun sama-sama menyukai fleksibilitas, Gen Z dan Milenial memaknai fleksibilitas dengan cara yang berbeda.

Alasan Gen Z Lebih Pilih Sistem Hybrid

1. Kebutuhan Interaksi Sosial

Gen Z adalah generasi yang tumbuh di era digital. Namun, hal ini bukan berarti mereka ingin sepenuhnya terisolasi di dunia nyata. Mereka tetap membutuhkan interaksi langsung untuk membangun relasi atau networking yang lebih efektif. Sistem kerja hybrid memberikan keseimbangan antara dunia digital dan interaksi di dunia nyata.

2. Adaptasi dan Pembelajaran yang Lebih Cepat

Bagi Gen Z yang masih berada di fase awal karir, kehadiran di kantor membantu mereka belajar dengan lebih cepat. Interaksi langsung dengan senior atau mentor sulit tergantikan oleh komunikasi secara virtual.

3. Menghindari Kebosanan Kerja Remote

Kerja remote dalam jangka panjang bisa terasa monoton. Hybrid memberikan variasi lingkungan kerja yang dapat membantu menjaga motivasi dan produktivitas.

4. Fleksibilitas Tanpa Kehilangan Struktur

Sistem kerja hybrid memungkinkan Gen Z untuk tetap memiliki rutinitas kerja tanpa merasa terikat sepenuhnya. Mereka bisa menikmati fleksibilitas kerja sekaligus tetap memiliki batas yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Baca Juga: Terlalu Sering Scroll? Waspadai Fenomena Brainrot

Makna Fleksibilitas Kerja bagi Gen Z

Berdasarkan Survei Gallup, dapat disimpulkan bahwa Gen Z merupakan generasi yang memprioritaskan fleksibilitas. Namun, fleksibilitas di sini bukan hanya tentang bisa kerja dari mana saja. Bagi Gen Z, fleksibilitas juga berarti memiliki kendali atas waktu, energi, dan cara mereka bekerja.

Konsep work-life balance bagi Gen Z juga mengalami pergeseran. Mereka tidak hanya ingin membagi waktu antara kerja dan kehidupan pribadi, tapi juga ingin memastikan bahwa pekerjaan mereka memiliki makna tanpa perlu mengorbankan kesehatan mental.

Dengan sistem kerja hybrid, Gen Z merasa bisa mengatur ritme kerja sesuai dengan produktivitas pribadi dan menghindari burnout. Lebih dari itu, mereka juga tetap bisa terhubung secara sosial tanpa kehilangan waktu pribadi.

Keunggulan Hybrid Working Sistem

1. Meningkatkan Produktivitas

Karyawan dapat memilih lingkungan kerja yang paling mendukung fokus mereka.

2. Fleksibilitas Kerja Lebih Tinggi

Sistem kerja hybrid memungkinkan kombinasi efektif antara kerja remote dan kerja di kantor. Hal ini memberikan lebih banyak kebebasan bagi karyawan untuk mengatur waktu.

3. Work-Life Balance

Melalui sistem hybrid, karyawan dapat menyeimbangkan waktu produktif kerja dengan waktu untuk kehidupan pribadi mereka.

4. Kolaborasi Tetap Terjaga

Berbeda dengan full remotehybrid tetap memungkinkan interaksi langsung. Hal ini penting terutama bagi karyawan yang sering bekerja dalam tim.

5. Efisiensi Biaya

Baik bagi perusahaan maupun karyawan, sistem hybrid bisa mengurangi biaya operasional dan transportasi.

6. Meningkatkan Kepuasan Kerja

Karyawan yang memiliki fleksibilitas cenderung lebih puas dan loyal terhadap perusahaan.

Tren kerja hybrid menunjukkan bahwa masa depan tidak lagi hitam-putih antara kantor dan rumah. Gen Z telah memberikan sinyal kuat bahwa mereka mengingkan sistem kerja yang lebih fleksibel, namun tetap terstruktur. Hal inilah yang menyebabkan sistem hybrid lebih banyak diminati dibandingkan full WFO atau WFH.

Baca Juga: Mengapa Gen Z Melakukan Quiet Quitting di Dunia Kerja?

Sumber:

https://www.gallup.com/workplace/692675/fully-remote-work-least-popular-gen-z.aspx#:~:text=Gen%20Z%20is%20the%20least%20likely%20generation,and%20what%20this%20means%20for%20workplace%20leaders

Penulis: Aisha Zahrany
Editor: Editor

Konten Terkait

Sentimen Publik terhadap Mens Rea di Netflix: Antara Satir Politik dan Kontroversi Etika

Acara Mens Rea di Netflix memicu debat panas, dari pujian keberanian hingga kritik etika publik.

5 Ancaman Global Terbesar 2025, Hoaks Paling Ditakuti

Penyebaran hoaks menjadi ancaman terbesar menurut publik global, disusul krisis ekonomi dan terorisme.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook