Bijak Dalam Bermedia Sosial, Instagram Medsos Rawan Cyber Bullying

Kasus cyber-bullying banyak terjadi di media sosial. Berikut sosial media yang memiliki kasus cyber-bullying terbanyak.

Bijak Dalam Bermedia Sosial, Instagram Medsos Rawan Cyber Bullying Komentar di media sosial (pexels.com/@cottonbro)

Kasus bullying semakin banyak tidak hanya secara langsung, tetapi juga lewat internet. Istilah bullying lewat internet lebih dikenal dengan cyber bullying. Menurut Think Before Text, cyber bullying adalah perilaku agresif secara berulang-ulang dari waktu ke waktu dari seseorang yang lebih berkuasa kepada seseorang yang dianggap tidak mudah melakukan perlawanan dengan media elektronik.

Berbeda dengan bullying secara langsung, cyber bullying memiliki jejak digital yang dapat dilihat sewaktu-waktu. Bahkan, cyber bullying dapat dilakukan secara anonim. Inilah yang menyebabkan waktu yang lebih lama untuk mencari pelaku cyber bullying.

Cyber bullying cukup banyak dilakukan di platform media sosial. Media sosial menjadi sarana yang memudahkan orang untuk berjejaring jarak jauh dengan temannya. Namun, media sosial juga dapat menjadi sarang untuk menebar kebencian. Berikut adalah sosial media yang memiliki kasus cyber bullying terbanyak.

Instagram menjadi media sosial yang memiliki kasus cyber-bullying terbanyak. Dilansir dari Broadband Search, 42 persen kasus cyber-bullying berasal dari platform instagram. Kemudian disusul dengan Facebook sebesar 37 persen, lalu Snapchat dengan presentase 31 persen.

Hasil ini menunjukkan pergeseran tren dibandingkan 10 tahun yang lalu. Tahun 2013, Facebook menjadi media sosial dengan kasus cyber-bullying tertinggi, yaitu sebanyak 87 persen.

Facebook dan Instagram termasuk dalam media sosial yang paling banyak digunakan di dunia. Tahun 2022, jumlah pengguna aktif Facebook di seluruh dunia mencapai 2,9 miliar, sedangkan pengguna aktif Instagram mencapai 1,4 miliar. Artinya, sebagian besar orang aktif menggunakan Facebook dan Instagram untuk mengabadikan momen sehari-hari.

Berbeda dengan media sosial lainnya, Whatsapp adalah media sosial yang diperuntukkan khusus untuk mengirim pesan dan telepon. Walaupun sekarang sudah ada fitur Whatsapp Story, tetapi story tersebut hanya bisa dilihat oleh orang yang saling menyimpan nomor.

Perbedaan penggunaan media sosial ini membuat pola cyber-bullying di media sosial Whatsapp menjadi berbeda pula. Pelaku cyber-bullying di Whatsapp dilakukan dengan menyebarkan pesan kebencian melalui grup-grup yang dimiliki.

Untuk mencegah terjadinya cyber-bullying, platform media sosial sudah menyediakan fitur untuk membatasi komentar-komentar ataupun kata-kata yang sekiranya dapat berpotensi terjadinya cyber-bullying. Terdapat pula fitur report jika ditemukan akun yang melakukan tindakan bully.

Kasus-kasus cyber-bullying hendaknya juga menjadi perhatian khusus bagi keluarga, kerabat, maupun instansi. Jika terdapat orang di lingkungan sekitar yang menjadi korban cyber-bullying, hendaknya difokuskan dalam memulihkan mental korban.

Cyber-bullying tidak dapat dianggap sepele, karena dampak yang dihasilkan sama seperti bullying secara langsung. Dan hendaknya pendidikan mengenai bahaya bullying diajarkan sejak dini, untuk mencegah seseorang menjadi pelaku bullying, baik secara langsung atau lewat siber.

Penulis: Kristina Jessica
Editor: Iip M Aditiya

Konten Terkait

10 Kota Paling Toleran di Indonesia, Kota Bekasi Tempati Posisi Runner Up

Setara Institute mengeluarkan Laporan Indeks Kota Toleran (IKT) 2023 di awal Tahun 2024. Dari 94 Kota, Kota Bekasi meraih 3 posisi terbesar.

Ketimpangan Gender Indonesia Makin Tipis, Kesetaraan di Depan Mata

Apakah kesetaraan gender di Indonesia dapat dicapai dalam waktu dekat?

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Dengan melakukan pendaftaran akun, saya menyetujui Aturan dan Kebijakan di GoodStats

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook
Student Diplomat Mobile
X