Saat ini Indonesia telah memasuki periode musim kemarau. Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), mayoritas wilayah di Indonesia diprediksi mengalami awal kemarau lebih cepat. Puncaknya juga diperkirakan akan terjadi lebih awal pada bulan Agustus 2026. Sebagian besar wilayah akan mengalami musim kemarau lebih panjang dari periode normal.
Selain kekeringan, terdapat ancaman lain saat kemarau datang. Periodenya yang berlangsung cukup lama memberikan dampak yang besar bagi masyarakat dan lingkungan. Hal yang perlu diwaspadai saat musim kemarau adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Masalah ini mengancam hutan-hutan Indonesia setiap tahunnya, mengingat jumlah hutan negeri ini mencapai jutaan hektare (ha).
Berdasarkan data Kementerian Kehutanan dalam situs SiPongi, luas area karhutla di Indonesia pada empat bulan pertama tahun 2026 naik 1.779% dibanding tahun 2025. Pada periode Januari-Mei 2026, luas karhutla telah mencapai 72.564,13 ha.
Di urutan pertama, Kalimantan Barat memiliki luas karhutla tertinggi per Mei 2026. Luasnya mencapai 27.904,53 ha. Sementara itu, di cakupan geografis yang sama, Kalimantan Tengah menduduki nomor lima dengan luas karhutla sebesar 2.818,78 ha. Pulau ini dikenal dengan hutannya yang begitu luas, mencapai 77,4% dari daratan Kalimantan. Luasnya kawasan hutan Kalimantan menjadikan wilayah ini rentan terhadap kebakaran, terutama saat kemarau datang.
Tepat di posisi kedua, luas karhutla di Riau mencapai 14.854,94 ha. Selain Riau, provinsi lainnya dari pulau Sumatra juga masuk daftar, yakni Kepulauan Riau (5.281,05 ha) di posisi ketiga, Lampung (3.366,43 ha) di posisi keempat, dan Aceh (2.079,49 ha) di posisi kesembilan.
Maluku di nomor enam mengalami kebakaran hutan dan lahan seluas 2.277,54 ha dan di urutan kedelapan terdapat Papua Tengah dengan 2.101,21 ha. Bergeser ke pulau Sulawesi, terdapat dua provinsi dengan tingkat karhutla tinggi yaitu Sulawesi Tengah (2.110,05 ha) di nomor tujuh dan Sulawesi Selatan (1.430,63) di urutan terakhir.
Data di atas menunjukkan Kalimantan dan Sumatra mendominasi jumlah keseluruhan fenomena karhutla, di mana luas total karhutla Kalimantan menyentuh 30.723,31 ha dan Sumatra mencapai 25.581,91 ha.
Baca Juga: 10 Provinsi dengan Karhutla Terluas per Maret 2026
Seputar Kahutla
Sebagian besar sumber terjadinya karhutla dari aktivitas manusia, baik secara sengaja maupun karena kecerobohan. Pembakaran untuk membuka lahan baru, membuang putung rokok sembarangan, membakar sampah di area terbuka, sampai lupa mematikan api saat beraktivitas di hutan menjadi contoh ulah manusia yang menyebabkan karhutla. Selain itu, fenomena alam juga turut memengaruhi seperti musim kemarau berkepanjangan, sambaran petir yang memicu kebakaran di hutan yang kering, serta aktivitas vulkanik.
Kebakaran yang terjadi di lahan yang luas akan memakan waktu panjang untuk memadamkannya. Tidak hanya mengancam ekosistem, tetapi juga berdampak buruk terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat yang berada di sekitarnya.
Baca Juga: Rekor Suhu Terpanas di Indonesia
Sumber:
https://sipongi.gakkum.kehutanan.go.id/indikasi-luas-kebakaran
Penulis: Alifia Ayu Fitriana
Editor: Editor