Aglomerasi merupakan pengelompokan atau pemusatan aktivitas, penduduk, hingga industri pada satu wilayah tertentu. Hal ini terbentuk karena mobilitas masyarakatnya yang tidak lagi terbatas oleh wilayah administratif. Salah satu bentuknya yakni aglomerasi kota, di mana kota induk dan kota-kota satelit di sekitarnya saling terhubung baik secara fisik maupun fungsional, sehingga batas-batas antardaerah menjadi kabur.
Sebagai pusat aktivitas ekonomi nasional, DKI Jakarta juga menerapkan konsep aglomerasi. Wilayah yang berbatasan dengan Jakarta antara lain Bekasi, Bogor, Tangerang, Cianjur, Depok, dan Tangerang Selatan menjadi daerah penyangga ibu kota. Konsep pemusatan wilayah ini tidak hanya terkait tata kelola transportasi antardaerah, tetapi juga pembangunan sosial dan penguatan ekonomi masyarakat.
Tidak hanya di Indonesia, konsep ini juga diterapkan di beberapa kota di dunia dan diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan yang besar. Lantas, kota apa saja dengan proyeksi pertumbuhan aglomerasi terbesar di dunia?
Berdasarkan data dari World Urbanization Prospect 2025, terdapat beberapa kota yang akan mengalami pemusatan wilayah. Sebanyak 10 di antaranya diperkirakan akan menjadi aglomerasi terbesar.
Jakarta menjadi wilayah dengan proyeksi pertumbuhan aglomerasi paling besar di dunia pada 2025–2050. Pada 2025, jumlah penduduk aglomerasi Jakarta sebesar 41,9 juta. Jumlahnya diperkirakan tumbuh 23,6% atau menyentuh 51,8 juta pada 2050 mendatang.
Baca Juga: 30 Kota dengan Populasi Terbanyak di Dunia, Jakarta Nomor 1!
Fenomena ini tidak terlepas dari Jakarta dan beberapa wilayah di sekitarnya yang bertindak sebagai pusat aktivitas ekonomi nasional. Belum lagi adanya kemudahan mobilitas secara komuter lewat jaringan transportasinya.
Tepat di bawahnya terdapat Dhaka yang merupakan salah satu kota dari Bangladesh, di mana angka aglomerasinya pada 2025 sebesar 36,6 juta penduduk dan diproyeksikan menjadi 52,1 juta jiwa pada 2050. Jumlahnya ditaksir naik 42,3% dalam kurun waktu seperempat abad.
Berbeda dengan dua posisi teratas yang mengalami peningkatan, Tokyo yang berada di posisi ketiga justru diperkirakan akan mengalami penurunan aglomerasi. Besaran jumlah penduduk aglomerasinya pada 2025 sebesar 33,4 juta, sementara pada 2050 mendatang diproyeksikan hanya mencapai 30,7 juta.
Daftar 10 kota di dunia dengan proyeksi pertumbuhan aglomerasi terbesar juga dilengkapi oleh New Delhi (12,3%), Shanghai (17,9%), Guangzhou (5,8%), Cairo (26,6%), Manila (9,7%), dan Kolkata (5,3%). Sama seperti Tokyo, penurunan aglomerasi juga diperkirakan akan dialami oleh ibu kota Korea Selatan yaitu Seoul.
Penurunan jumlah penduduk di wilayah aglomerasi dapat dipicu oleh berbagai hal, antara lain lonjakan harga properti yang ekstrem, rendahnya angka kelahiran, atau bahkan terkait dengan mitigasi risiko bencana terutama di wilayah yang rawan seperti di Tokyo, Jepang.
Metodologi
Penelitian World Urbanization Prospects 2025 dikembangkan oleh United Nations Department of Economic and Social Affairs (UN DESA) yang mengintegrasikan metode Degree of Urbanization (DEGURBA) dan definisi perkotaan nasional untuk mendapatkan data yang dapat dibandingkan secara global.
Untuk mengidentifikasi dan mengukur perkembangan wilayah perkotaan, perdesaan, dan permukiman, digunakan data populasi berbasis grid serta luas kawasan terbangun (built-up area).
Penerapan metode DEGURBA tidak sepenuhnya menggambarkan perkembangan urbanisasi karena keterbatasan pada wilayah kepulauan dan daerah dengan populasi kecil. Selain itu, proyeksi menggunakan satu skenario varian menengah sehingga belum sepenuhnya mencerminkan seluruh kemungkinan ketidakpastian perkembangan urbanisasi.
Baca Juga: 10 Kota dengan Waktu Tempuh Perjalanan Satu Arah Terlama di Asia, Ada Jakarta!
Sumber:
https://population.un.org/wup/