Wilayah Penghasil Nikel Terbesar 2024: Sulawesi hingga Maluku Utara

Sulawesi Tenggara menjadi daerah penghasil nikel terbesar di Indonesia.

Wilayah Penghasil Nikel Terbesar 2024: Sulawesi hingga Maluku Utara Ilustrasi Tambang Nikel | Karl Gerber/pexels.com
Ukuran Fon:

Indonesia merupakan salah satu negara dengan komoditas tambang yang besar. Salah satu produksi tambang tersebut adalah nikel. Berdasarkan berbagai laporan industri dan kajian kebijakan, Indonesia menyumbang lebih dari 40% produksi nikel dunia dalam beberapa tahun terakhir. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai produsen nikel terbesar di dunia, melampaui negara-negara lain seperti Filipina dan Rusia.

Lonjakan produksi ini tidak terlepas dari besarnya cadangan nikel yang tersebar di berbagai wilayah, terutama di kawasan timur Indonesia. Selain itu, kebijakan hilirisasi yang terus didorong pemerintah turut mempercepat eksploitasi dan pemanfaatan nikel, baik untuk kebutuhan industri baja tahan karat maupun baterai kendaraan listrik.

Lalu, provinsi mana saja yang memiliki wilayah penghasil nikel terbesar di Indonesia pada tahun 2024?

Baca Juga: Indonesia Punya Cadangan Nikel Terbesar di Dunia

Provinsi Penghasil Nikel Terbesar di Indonesia 2024

6 Provinsi Penghasil Nikel Terbesar di Indonesia 2024 | GoodStats
Sulawesi Tenggara merupakan wilayah penghasil nikel terbesar di Indonesia dengan luas 198.624,66 hektare.

Data tahun 2024 menunjukkan bahwa Sulawesi Tenggara menjadi provinsi dengan wilayah penghasil nikel terbesar di Indonesia, dengan luas mencapai 198.624,66 hektare. Selain memiliki wilayah tambang yang sangat luas, provinsi ini juga didukung oleh sekitar 154 IUP OP (Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi) yang aktif. Dominasi Sulawesi Tenggara tidak lepas dari kawasan pertambangan di Konawe dan Kolaka yang telah lama menjadi pusat eksploitasi nikel nasional.

Di posisi kedua, Maluku Utara mencatat luas wilayah tambang sebesar 156.197,04 hektare dengan sekitar 44 IUP OP. Jika dibandingkan dengan Sulawesi Tenggara, terdapat selisih wilayah sebesar 42.427,62 hektare. Meski lebih kecil, Maluku Utara menjadi salah satu wilayah dengan pertumbuhan industri nikel tercepat, terutama dengan hadirnya kawasan industri berbasis smelter yang menarik banyak investasi asing.

Selanjutnya, Sulawesi Tengah berada di posisi ketiga dengan luas wilayah tambang mencapai 115.397,37 hektare dan sekitar 85 IUP OP. Dibandingkan dengan Maluku Utara, selisih luasnya mencapai 40.799,67 hektare. Sulawesi Tengah, khususnya kawasan Morowali, telah berkembang menjadi pusat industri nikel terintegrasi yang menghubungkan sektor hulu hingga hilir.

Papua Barat menempati posisi keempat dengan luas wilayah tambang sebesar 22.636 hektare dan sekitar 3 IUP. Jika dibandingkan dengan Sulawesi Tengah, terdapat selisih yang cukup jauh, yakni 92.761,37 hektare. Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi utama tambang nikel masih berada di kawasan Sulawesi dan Maluku.

Di posisi berikutnya, Papua memiliki luas wilayah tambang sekitar 16.470 hektare dengan sekitar 1 IUP. Selisih dengan Papua Barat mencapai 6.166 hektare. Meski skalanya lebih kecil, Papua tetap menyimpan potensi sumber daya nikel yang dapat dikembangkan di masa depan.

Terakhir, Maluku berada di posisi keenam dengan luas wilayah tambang sebesar 4.389 hektare dan sekitar 2 IUP. Jika dibandingkan dengan Papua, selisihnya mencapai 12.081 hektare. Angka ini menempatkan Maluku sebagai provinsi dengan kontribusi terkecil dalam daftar ini, meskipun tetap memiliki potensi eksplorasi lebih lanjut.

Sebagai produsen nikel terbesar dunia, Indonesia memiliki distribusi wilayah tambang yang terkonsentrasi di kawasan timur, terutama Sulawesi dan Maluku. Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, dan Sulawesi Tengah menjadi tulang punggung produksi nasional dengan selisih luas wilayah yang masih cukup signifikan dibandingkan provinsi lain.

Perbedaan luas wilayah tambang dan jumlah IUP OP mencerminkan tingkat eksploitasi serta kesiapan infrastruktur di masing-masing daerah. Wilayah dengan IUP OP lebih banyak cenderung memiliki aktivitas produksi yang lebih intensif dan terintegrasi dengan industri hilir.

Ke depannya, tantangan utama bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memastikan pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan. Dengan strategi yang tepat, Indonesia tidak hanya akan mempertahankan posisinya sebagai raksasa nikel global, tetapi juga mampu mengoptimalkan nilai tambah ekonomi sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan.

Baca Juga: Nikel Jadi Komoditas Unggulan Investasi Hilirasi 2025


Penulis: Aisha Zahrany
Editor: Muhammad Sholeh

Konten Terkait

Hasil Pertandingan Piala Dunia 2026: Skor 3-2 Belgia vs Senegal, Penalti Tielemans Bikin De Rode Duivels Lolos 16 Besar

Belgia melangkah ke 16 besar usai menang atas Senegal di 32 besar.

Hasil Pertandingan Piala Dunia 2026: Skor 2-1 Inggris vs Republik Demokratik Kongo, Kombinasi Kane-Gordon Beri Victory The Three Lions

Inggris menang dramatis atas RD Kongo di pertemuan pertama kedua negara.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan SSO GNFI Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook