Unjuk Gigi di G20, Indonesia Serius Kembangkan Metaverse

Berbanding terbalik dengan tren pembahasannya, menurut Populix, hanya ada 29 persen masyarakat Indonesia yang familiar dengan istilah Metaverse.

Unjuk Gigi di G20, Indonesia Serius Kembangkan Metaverse Ilustrasi Metaverse I thinkhubstudio/Shutterstock

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika kini kian serius untuk mengembangkan teknologi dunia virtual atau Metaverse di Indonesia. Terlihat dari pembahasan dalam pertemuan Presidensi G20 Indonesia mengenai isu teknologi salah satunya aset kripto dan Metaverse . Adapun salah satu teknologi Metaverse yang ditampilkan dalam Presidensi G20 Indonesia berupa Reality Chain untuk melakukan pertemuan dengan perwakilan industri lainnya di dunia secara virtual.

Mengutip okezone, CEO Reality Chain Adam Ardisasmita mengatakan, Reality Chain sudah lebih jauh sudah memikirkan potensinya untuk menciptakan nilai ekonomi dan inovasi di dunia digital.

"Potensi ekonomi di Reality Chain saja bisa mencapai 1 juta dolar AS per bulannya. Jika kita berkaca kepada transaksi di NEAR yang bisa 6 juta dolar AS per bulan, angka itu masih masuk akal," sebut Adam, pada Sabtu (16/7).

Adam menyebut, syarat untuk menjadi developer Metaverse tidak boleh dijalankan sendiri, melainkan harus berkolaborasi dengan pelaku bisnis lainnya.

Bentuk kolaborasi tersebut sudah dijalankan oleh para investor di Indonesia. Melalui program Next Indonesia Unicorn (Nexticorn) pada 31 Agustus - 2 September 2022 mendatang di Bali.

Melihat potensi ini banyak negara di dunia yang mulai mengembangkan teknologi Metaverse . Namun, seiring dengan wacana dan gagasannya menurut Populix, hanya ada 29 persen masyarakat Indonesia yang familiar dengan istilah Metaverse. Sementara itu, sebagian besar masih ragu-ragu bahkan mengetahui Metaverse.

Meski kehadirannya yang belum ada, tetapi perusahaan ternama seperti Microsoft tidak pernah berhenti membicarakannya. Lantas, sebenarnya apa yang dimaksud dengan Metaverse dan apakah dapat diterapkan di Indonesia?

Apa itu Metaverse?

Dilansir dari berbagai sumber, secara umum Metaverse didefinisikan sebagai alam semesta virtual yang memngkinkan para penggunanya dapat ‘hidup’ di dunia digital tersebut. Di dunia Metaverse, para pengguna dapat terhubung dengan teman, berdagang, hingga menjanjikan dunia futuristik.

Secara teknis, Metaverse merupakan dunia virtual yang terdiri dari teknologi yang dapat dioperasikan seperti virtual reality (VR), dan augmented reality (AR), serta melakukan kegiatan ekonomi digital fungsional oleh mata uang digital atau cryptocurrency.

Teknologi yang terlibat yang dalam pengembangan Metaverse dibagi dalam beberapa kategori. Newzoo membaginya ke dalam lima bagian. Pertama, Metaverse gateways yang merupakan pintu bagi konsumen untuk masuk ke Metaverse . Contohnya perusahaan yang menyediakan teknologi ini adalah Fortnite, Minecraft, Animal Crossing, Roblox, dan The Sandbox

Kedua, avatar dan identitas yang menawarkan jasa membuat avatar atau identitas dunia virtual. Contohnya, Avatar SDK, The Fabricant, Tafi, dan lain-lain.

Ketiga, teknologi user interface dan immersion seperti perusahaan gim dan teknologi seperti Samsung, Apple, Microsoft HoloLens, Xbox, PlayStation, Nintendo Switch, dan lain-lain.

Keempat, adalah teknologi yang berperan dalam perekonomian, kegiatan jual-beli, dan pembayaran. Contohnya, PayPal, OpenSea, DMarket, Elixir, dan juga perusahaan crypto wallet dan NFT.

Kelima, elemen sosial yang banyak bergerak dalam bidang media sosial seperti Facebook, Line, Discord, TikTok, dan lain-lain.

Kategori teknologi Metaverse yang terakhir adalah game play-to-earn atau play-to-collect, seperti DeltaTime dan Exceedme.

Dari pengertian tersebut, dinilai Metaverse dapat mendatangkan banyak keberuntungan. Tidak heran, dalam survei yang dilakukan oleh Populix, 93 persen responden mengatakan ingin bergabung di Metaverse .

Metaverse dapat menjanjikan kebebasan

Survei Populix yang bertajuk Social Media Habit and Internet Safety menjelaskan ada banyak alasan masyarakat ingin bergabung di Metaverse. Alasan utama dari 44 persen responden menilai bahwa Metaverse akan menjadi platform media sosial yang lebih maju dan menawarkan kebebasan yang lebih besar.

Alasan masyarakat bergabung di dunia Metaverse 2022 I GoodStats

Selain itu, 43 persen responden memiliki pandangan bahwa Metaverse adalah cara baru untuk berkomunikasi dengan dukungan teknologi yang lebih canggih. Lalu kemudian 42 persen responden mengatakan bahwa Metaverse dapat membuka peluang pemasaran baru.

Sebagai informasi, survei Populix dilakukan secara daring mulai dari 30 Maret - 1 April 2022 melalui aplikasi Populix terhadap 1.023 responden laki-laki dan perempuan yang berusia 18-55 tahun di Indonesia. Mayoritas, berstatus belum menikah dan sudah bekerja.

Dari beberapa keuntungan yang ditawarkan, Populix menilai wisata virtual keliling dunia menunjukkan persentase tertinggi yang paling diminati para responden.

Kegiatan serba virtual menarik masyarakat Indonesia menjajal Metaverse 

Merilis data yang sama, Populix menyebut kegiatan yang ingin dilakukan oleh masyarakat di dunia Metaverse salah satunya adalah tur virtual dengan total persentase 44 persen.

Kegiatan yang ingin dilakukan oleh masyarakat di Metaverse 2022 I GoodStats

Kegiatan tur virtual sempat diwujudkan di Indonesia bahkan hingga viral di media sosial. Pada 2020 lalu banyak tempat wisata di Indonesia yang membagikan link gratis bagi pengunjung untuk berwisata hanya lewat layar handphone.

Hal tersebut dilakukan untuk mengobati rasa rindu para pelancong karena keterbatasan kegiatan pertemuan kala pandemi. Kegiatan ini tentu menjadi potensi baru untuk mengenalkan pariwisata Indonesia kepada dunia.

Kegiatan lain yang ingin dilakukan oleh masyarakat di Metaverse, yakni melakukan pembelajaran di rumah (34 persen responden), berbelanja di mall virtual (34 persen), hingga merasakan ‘ngantor’ secara virtual (26 persen).

Metaverse memang merupakan inovasi yang akan menciptakan pasar baru dari segala aspek, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi. Namun, hal tersebut dapat berjalan dengan optimal jika infrastruktur dan literasi masyarakat sudah berjalan dengan merata.

Penulis: Nabilah Nur Alifah
Editor: Iip M Aditiya

Artikel Sebelumnya Kabar Baik Bagi Ibu Hamil, Jokowi Resmi Teken Inpres Jampersal
Artikel Selanjutnya Meninjau Peluang Pasar Kripto di Indonesia, Apakah Menjanjikan?
Konten Terkait