Lembaga riset internasional IMD kembali merilis laporan komprehensif bertajuk IMD World Competitiveness Ranking 2026. Salah satu pilar fundamental yang menjadi tolak ukur vital dalam menilai daya saing suatu negara adalah Infrastruktur.
Lebih lanjut, faktor ini mengevaluasi sejauh mana ketersediaan sumber daya dasar, teknologi, sains, serta sumber daya manusia di suatu negara mampu memenuhi kebutuhan dunia usaha secara optimal. Guna memberikan penilaian yang menyeluruh, pilar ini ditopang oleh lima sub-faktor esensial, yaitu infrastruktur dasar, infrastruktur teknologi, infrastruktur sains, kesehatan lingkungan, serta edukasi.
Berdasarkan data rilis terbaru dari laporan tersebut, kesiapan fasilitas penunjang bisnis di kawasan Asia Tenggara memperlihatkan jurang pemisah yang cukup lebar di antara anggotanya.
Singapura Peringkat Pertama Negara dengan Tingkat Infrastruktur Terbaik
Baca Juga: 10 Proyek Infrastruktur dengan Nilai Investasi Terbesar
Singapura kembali menduduki peringkat atas di tingkat regional sekaligus meraih peringkat kelima dunia dengan raihan skor tinggi sebesar 84,57. Di posisi kedua regional, Malaysia mengamankan urutan ke-33 dunia dengan skor 59,76. Selanjutnya, Tailan (45,43) dan Vietnam (45,15) bersaing sangat ketat di papan tengah global dengan masing-masing menempati peringkat ke-45 dan ke-46 dunia.
Sementara itu, Indonesia berada di posisi kelima untuk skala regional ASEAN dan harus puas menduduki peringkat ke-58 di tingkat dunia dengan capaian skor sebesar 31,92. Posisi Indonesia berada tipis di atas Filipina yang membuntuti di peringkat keenam ASEAN atau peringkat ke-60 global dengan raihan skor 31,20.
Lebih jauh, di era fragmentasi global dan disrupsi digital yang masif, ketahanan infrastruktur teknologi dan penguatan kapasitas ilmu pengetahuan (sains) menjadi pembeda utama yang menentukan seberapa cepat sebuah negara dapat beradaptasi.
Negara yang tertinggal dalam mentransformasikan infrastruktur dasar mereka ke arah digitalisasi, teknologi hijau, serta investasi pada peningkatan mutu sumber daya manusia lewat pendidikan akan mengalami tantangan berat dalam mempertahankan daya saing korporasi lokal di panggung internasional.
Baca Juga: Bagaimana Tingkat Kepuasan terhadap Kualitas Infrastruktur di Indonesia?
Metodologi
World Competitiveness Ranking membagi lingkungan nasional suatu negara ke dalam empat faktor utama, yaitu performa ekonomi, efisiensi pemerintah, efisiensi bisnis, dan infrastruktur. Setiap pilar utama ini kemudian dibagi lagi menjadi lima sub-faktor, sehingga total terdapat dua puluh sub-faktor secara keseluruhan. Uniknya, masing-masing sub-faktor tersebut memiliki bobot yang sama besar dalam konsolidasi hasil akhir, yaitu sebesar 5%.
Secara keseluruhan, pemeringkatan ini melibatkan ratusan kriteria yang dikelompokkan ke dalam dua jenis data utama. Jenis pertama adalah hard data atau data keras yang mengukur statistik objektif di lapangan, seperti produk domestik bruto dan angka inflasi, dengan porsi bobot yang dominan sebesar dua per tiga dari total penilaian.
Jenis kedua adalah soft data atau data lunak yang berasal dari hasil survei opini eksekutif untuk menangkap persepsi realitas iklim usaha di lapangan, di mana data survei ini memegang porsi bobot sebesar satu per tiga dari penilaian akhir.
Sumber:
https://www.imd.org/centers/wcc/world-competitiveness-center/rankings/world-competitiveness-ranking/