Remaja Perokok Indonesia Kian Bertambah

Persentase remaja perokok di Indonesia kembali meningkat dalam 2 tahun terakhir, mencapai 3,68% pada 2024.

Remaja Perokok Indonesia Kian Bertambah Ilustrasi Rokok | Unsplash
Ukuran Fon:

Jumlah perokok di kalangan remaja Indonesia terus meningkat, menjadi salah satu persoalan serius dalam isu kesehatan publik. Rokok yang dulu identik dengan orang dewasa kini dapat dengan mudah diakses oleh generasi muda, dengan harga yang terjangkau dan lingkungan sosial yang mendukung, membuat semakin banyak remaja yang terpapar asap rokok sejak dini.

Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan terdapat 3,68% penduduk berumur kurang dari sama dengan 18 tahun yang merokok tembakau selama sebulan terakhir ketika survei. Rinciannya, terdapat 0,14% penduduk usia 10-12 tahun yang merokok, 1,77% penduduk berusia 13-15 tahun, dan 9,29% penduduk berusia 16-18 tahun. Tingginya proporsi ini menggarisbawahi pentingnya pembinaan dini mengenai bahaya asap rokok bagi kesehatan. Bahkan, dari tahun ke tahun, proporsi remaja perokok di Indonesia terus meningkat.

Perkembangan proporsi remaja perokok Indonesia | GoodStats
Perkembangan proporsi remaja perokok Indonesia | GoodStats

Pada 2020, terdapat 3,81% remaja perokok di Indonesia, dengan rincian 0,13% penduduk usia 10-12, 1,64% penduduk usia 13-15 tahun, dan 10,07% penduduk usia 16-18 tahun yang merokok.

Tahun berikutnya, proporsinya sedikit turun menjadi 3,69%, dengan rincian 0,07% penduduk berusia 10-12 tahun, 1,44% penduduk usia 13-15 tahun, dan 9,59% penduduk usia 16-18 tahun.

Persentase remaja perokok kembali turun pada 2022 menjadi 3,44%, dengan rincian 0,11% penduduk berusia 10-12 tahun, 1,45% penduduk usia 13-15 tahun, dan 8,92% penduduk usia 16-18 tahun.

Meski begitu, pada 2023 persentasenya meningkat menjadi 3,65%, dengan rincian 0,14% penduduk berusia 10-12 tahun, 1,63% penduduk usia 13-15 tahun, dan 9,30% penduduk usia 16-18 tahun.

Peningkatan remaja perokok dalam dua tahun terakhir ini bukan tanpa alasan. Rokok semakin mudah dijangkau oleh remaja, dengan harganya yang murah dan aksesnya yang bisa ditemukan di mana-mana tanpa persyaratan khusus untuk membelinya.

Menurut Ketua Tim Kerja Pengendalian Penyakit Akibat Tembakau Kementerian Kesehatan Benget Saragih, lemahnya regulasi juga mendorong kenaikan remaja perokok. Survei dari Global Adult Tobacco (GaTS) menyebutkan bahwa 71,3% perokok anak membeli rokok secara mengecer, bahkan 60,6% perokok anak juga tidak dicegah sama sekali ketika membeli rokok.

Untuk saat ini, Kementerian Kesehatan tengah mendorong implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 dari berbagai pihak.

"Kekuatan regulasi hanya bermakna jika diterjemahkan ke dalam implementasi yang konsisten dan terukur di lapangan," tuturnya, Selasa (29/4/2025).

Baca Juga: 23% Pemuda Indonesia Merokok, Rata-Rata 12 Batang Per Hari

Sumber:

https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MTUzNSMy/persentase-penduduk-berumur-kurang-dari-sama-dengan-18-tahun-yang-merokok-tembakau-selama-sebulan-terakhir-menurut-kelompok-umur--persen-.html

https://www.tempo.co/politik/kemenkes-prevalensi-perokok-anak-di-indonesia-alami-peningkatan-1284891

Penulis: Agnes Z. Yonatan
Editor: Editor

Konten Terkait

60% Warganet X Punya Sentimen Negatif terhadap Penanganan Bencana Sumatra 2025

Menurut laporan Drone Emprit, sentimen publik di X didominasi sentimen negatif yaitu sebesar 60,2%.

Lamanya Waktu Tunggu Jadi Alasan Utama Publik Tak Pakai Jaminan Kesehatan

Sebanyak 35,59% peserta rawat jalan dan 27,14% rawat inap tidak menggunakan jaminan kesehatan karena waktu tunggu yang terlalu lama.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook