Istilah parenting VOC sempat ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak orang mengaitkannya dengan pola asuh yang identik dengan disiplin tinggi serta aturan yang ketat dan cenderung kaku.
Di satu sisi, pendekatan ini dianggap mampu membentuk karakter anak yang tangguh, mandiri, dan tahan terhadap tekanan. Namun, di sisi lain, tidak sedikit yang menilai gaya ini sudah kurang relevan dengan kebutuhan perkembangan anak di era modern yang lebih menekankan aspek emosional dan komunikasi.
Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan gaya parenting VOC? Mengapa pola asuh ini masih digunakan hingga sekarang, dan bagaimana dampaknya terhadap tumbuh kembang anak?
Apa Itu Parenting VOC?
Parenting VOC merujuk pada gaya pengasuhan yang keras, tegas, dan penuh kontrol dari orang tua terhadap anak. Istilah “VOC” sendiri berasal dari Vereenigde Oostindische Compagnie, yaitu perusahaan dagang Belanda pada masa kolonial yang identik dengan sistem otoriter dan disiplin tinggi.
Analogi ini kemudian digunakan untuk menggambarkan pola asuh yang cenderung kaku dan menuntut kepatuhan mutlak.
Gaya ini sangat dekat dengan konsep parenting otoriter, di mana kontrol orang tua sangat dominan dibandingkan kehangatan emosional.
Menariknya, beberapa studi menunjukkan bahwa pola asuh yang tegas (strict parenting) tidak selalu berdampak negatif. Sebuah penelitian dari Institute for Family Studies menemukan bahwa anak yang dibesarkan dengan disiplin tinggi justru bisa memiliki hubungan yang lebih kuat dengan orang tua, selama tetap disertai konsistensi dan keadilan.
Ciri-Ciri Parenting VOC
Agar lebih mudah dikenali, berikut ciri-ciri utama pola asuh VOC:
- Aturan Mutlak: Orang tua menetapkan standar tanpa kompromi
- Komunikasi Satu Arah: Anak jarang diberi ruang untuk berpendapat
- Disiplin Tinggi: Kesalahan kecil bisa berujung hukuman
- Minim Validasi Emosi: Perasaan anak sering dianggap tidak penting
- Fokus pada Hasil: Prestasi dan kepatuhan lebih diutamakan dibanding proses
Selain itu, orang tua dengan gaya ini biasanya percaya bahwa “anak harus dibentuk dengan keras agar sukses di masa depan”.
Faktor yang Memengaruhi Gaya Parenting di Indonesia
Gaya pengasuhan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang membentuk bagaimana orang tua mendidik anak. Setiap pola asuh yang digunakan biasanya berkaitan erat dengan pengalaman pribadi, nilai yang diyakini, serta lingkungan tempat mereka tumbuh dan berinteraksi.
Berikut merupakan lima faktor yang memengaruhi pola asuh anak di Indonesia.
Baca Juga: Pilih Tak Childfree, Begini Gaya Gen Z & Milenial Ketika Jadi Orang Tua
Berdasarkan data survei dari Jakpat (2025) mengungkapkan faktor yang paling besar memengaruhi pola asuh anak di Indonesia adalah pengalaman orang tua itu sendiri saat dibesarkan, dengan persentase mencapai 67%.
Artinya, banyak orang tua cenderung mereplikasi gaya pengasuhan yang mereka terima di masa kecil baik secara sadar maupun tidak.
Selain itu, nilai etika dan moral agama juga menjadi faktor penting dengan angka 60%. Hal ini menunjukkan bahwa norma dan ajaran yang dianut keluarga masih memiliki peran kuat dalam membentuk cara orang tua mendidik anak.
Di sisi lain, perkembangan informasi turut memberi pengaruh, di mana pengetahuan dari media menyumbang 57%. Ini menandakan bahwa konten parenting di media sosial maupun platform digital mulai membentuk perspektif baru dalam pengasuhan.
Tidak kalah penting, lingkungan sekitar juga berkontribusi sebesar 55%. Interaksi sosial, budaya lokal, hingga tekanan dari komunitas turut memengaruhi keputusan orang tua dalam menerapkan pola asuh tertentu.
Sementara itu, buku parenting berada di angka 41%, yang menunjukkan bahwa meskipun literasi pengasuhan berkembang, pengaruhnya lebih kecil dibanding pengalaman langsung dan faktor sosial lainnya.
Melihat data ini, dapat disimpulkan bahwa kemunculan fenomena parenting VOC di Indonesia tidak lepas dari kuatnya pengaruh pola asuh lintas generasi serta nilai-nilai budaya yang sudah mengakar.
Kelebihan Parenting VOC
Meskipun sering dikritik, parenting VOC tetap memiliki beberapa keunggulan:
1. Membentuk Anak yang Disiplin dan Taat Aturan
Gaya parenting VOC menekankan aturan yang ketat dan terstruktur. Penerapan pola asuh ini membuat anak terbiasa mengikuti aturan yang jelas sehingga lebih mudah memahami batasan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan rutinitas yang konsisten, anak juga belajar pentingnya keteraturan dalam menjalani aktivitas.
Namun, efektivitas pola ini sangat bergantung pada konteks dan cara penyampaian orang tua. Jika dilakukan dengan pendekatan yang terlalu keras tanpa penjelasan, anak bisa patuh karena takut, bukan karena memahami makna dari aturan tersebut.
2. Mengajarkan Tanggung Jawab Sejak Dini
Dengan tuntutan yang konsisten, anak belajar bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan. Hal ini membantu anak memahami bahwa keputusan yang mereka ambil tidak terlepas dari akibat tertentu, baik positif maupun negatif.
Di sisi lain, pembelajaran tanggung jawab akan lebih optimal jika disertai penjelasan yang rasional. Tanpa itu, anak mungkin hanya menjalankan kewajiban secara mekanis tanpa benar-benar memahami nilai tanggung jawab itu sendiri.
3. Membantu Anak Memahami Konsekuensi dari Tindakan
Pola asuh yang tegas membuat anak lebih cepat menyadari hubungan antara tindakan dan akibat yang ditimbulkan. Misalnya, ketika anak melanggar aturan, mereka langsung menerima konsekuensi yang sudah ditetapkan sebelumnya.
Namun demikian, penting bagi orang tua untuk memastikan bahwa konsekuensi yang diberikan bersifat mendidik, bukan sekadar hukuman. Jika tidak, anak bisa merasa tertekan dan justru mengembangkan rasa takut yang berlebihan.
4. Cocok dalam Situasi yang Membutuhkan Struktur yang Jelas
Gaya ini cocok diterapkan dalam situasi yang membutuhkan keteraturan tinggi karena anak memiliki pedoman yang pasti. Dalam kondisi tertentu, seperti lingkungan dengan tuntutan disiplin tinggi, pola ini dapat membantu anak beradaptasi lebih cepat.
Meski begitu, penerapan yang terlalu kaku dapat menghambat fleksibilitas anak dalam berpikir dan bertindak. Oleh karena itu, keseimbangan antara aturan dan ruang eksplorasi tetap diperlukan.
5. Mempersiapkan Anak Menghadapi Tekanan
Selain itu, dalam beberapa kasus, anak yang dibesarkan dengan aturan tegas cenderung lebih siap menghadapi tantangan dan tekanan di dunia nyata. Mereka terbiasa dengan standar yang tinggi sehingga tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Akan tetapi, jika tekanan yang diberikan berlebihan, justru dapat berdampak pada kesehatan mental anak. Oleh sebab itu, penting bagi orang tua untuk tetap memperhatikan kondisi emosional anak agar ketahanan yang terbentuk tidak disertai beban psikologis yang berlebihan.
Selain itu, dalam beberapa kasus, anak yang dibesarkan dengan aturan tegas cenderung lebih siap menghadapi tekanan di dunia nyata.
Kekurangan Parenting VOC
Di sisi lain, pola asuh ini memiliki kekurangan yang tidak bisa diabaikan. Beberapa diantaranya adalah:
1. Anak Cenderung Takut, Bukan Memahami
Dalam parenting VOC, kepatuhan anak sering kali muncul karena rasa takut terhadap hukuman atau konsekuensi yang diberikan. Anak mengikuti aturan bukan karena memahami alasan di baliknya, melainkan untuk menghindari kesalahan.
Akibatnya, anak bisa kehilangan kesempatan untuk mengembangkan pemahaman yang lebih dalam tentang nilai dan tanggung jawab. Dalam jangka panjang, mereka mungkin kesulitan mengambil keputusan secara mandiri karena terbiasa hanya mengikuti perintah.
2. Risiko Gangguan Emosional
Gaya pengasuhan yang keras dapat membuat anak kesulitan mengekspresikan perasaan mereka. Ketika emosi tidak divalidasi, anak cenderung memendam perasaan seperti marah, sedih, atau kecewa.
Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, hal tersebut dapat berdampak pada kesehatan mental anak. Mereka bisa tumbuh menjadi individu yang kurang mampu mengelola emosi atau bahkan mengalami kecemasan berlebih.
3. Kurangnya Kepercayaan Diri
Anak yang selalu diarahkan dan dikontrol cenderung kurang memiliki ruang untuk mencoba dan belajar dari kesalahan. Akibatnya, mereka bisa merasa ragu terhadap kemampuan diri sendiri.
Selain itu, minimnya kesempatan untuk mengambil keputusan membuat anak kurang percaya diri dalam menghadapi situasi baru. Mereka mungkin menjadi terlalu bergantung pada arahan orang lain.
4. Hubungan Orang Tua dan Anak Renggang
Minimnya komunikasi dua arah dalam pola asuh VOC dapat mengurangi kedekatan emosional antara orang tua dan anak. Interaksi yang terjadi lebih bersifat instruktif daripada dialog terbuka.
Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa membuat anak merasa tidak didengar atau tidak dipahami. Akibatnya, hubungan yang seharusnya hangat justru menjadi kaku dan berjarak.
5. Potensi Pemberontakan di Masa Depan
Anak yang terlalu dikontrol berisiko mengalami dorongan untuk memberontak, terutama saat memasuki usia remaja. Keinginan untuk mendapatkan kebebasan bisa muncul sebagai reaksi terhadap aturan yang terlalu ketat.
Di sisi lain, pemberontakan ini sering kali terjadi karena anak tidak memiliki ruang untuk mengekspresikan diri sejak awal. Jika tidak diimbangi dengan komunikasi yang sehat, konflik antara orang tua dan anak bisa semakin meningkat.
Apakah VOC Style Masih Relevan Saat Ini?
Studi terbaru dari Kiddie Academy menunjukkan adanya pergeseran pola asuh, terutama di kalangan orang tua muda seperti Gen Z. Mereka mulai meninggalkan pendekatan yang terlalu keras maupun terlalu lembut, lalu beralih ke gaya hybrid parenting yang dianggap lebih seimbang dan adaptif dengan kebutuhan anak masa kini.
Hybrid parenting merupakan gaya pengasuhan yang menggabungkan beberapa pendekatan sekaligus, yakni ketegasan dalam menetapkan aturan, empati dalam membangun komunikasi, serta konsistensi dalam memberikan konsekuensi.
Dalam praktiknya, orang tua tetap memiliki kendali dan batasan yang jelas, namun tidak mengabaikan kebutuhan emosional anak. Dengan pendekatan ini, komunikasi berlangsung dua arah sehingga anak merasa didengar sekaligus tetap diarahkan.
Dengan kata lain, anak tidak hanya belajar disiplin, tetapi juga memahami alasan di balik setiap aturan yang diterapkan. Pendekatan ini membantu anak mengembangkan rasa tanggung jawab sekaligus kemampuan berpikir kritis, karena mereka diajak untuk mengerti, bukan sekadar patuh.
Oleh karena itu, banyak orang tua muda kini tidak lagi sepenuhnya menerapkan pola pengasuhan lembut maupun keras, melainkan mengombinasikannya dengan pendekatan yang lebih tegas tetapi tetap empatik.
Pendekatan ini dipilih agar anak tidak hanya merasa didengar, tetapi juga belajar menghadapi konsekuensi serta memahami tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Kegiatan Parenting Lebih Bebani Perempuan Dibanding Laki-laki
Sumber:
https://insight.jakpat.net/parenting-trends-in-indonesia/
Penulis: Helni Sadiyah
Editor: Firda Wandira