Tingkat Obesitas Anak di ASEAN: Pentingnya Edukasi Pola Makan

Pentingnya edukasi pola makan sehat dan real food untuk melawan obesitas anak di kawasan ASEAN. Jauhi junk food agar anak sehat dan tidak obesitas.

Tingkat Obesitas Anak di ASEAN: Pentingnya Edukasi Pola Makan Ilustrasi Anak Makan Kue | Shutterstock

Pada abad ke-15 hingga abad ke-17, kelebihan berat badan sempat menjadi standar kecantikan. Tubuh yang lebih berisi dianggap sebagai simbol kekayaan, kesehatan, dan status sosial yang tinggi. Bahkan hingga kini, anak kecil yang memiliki tubuh lebih gemuk pun sering kali dianggap lebih lucu. Anak yang kurus malah disebut kurang gizi.

Namun, faktanya, kelebihan berat badan memiliki risiko yang berbahaya terhadap kesehatan. Khususnya pada anak, obesitas bukan hanya masalah estetika, melainkan masalah kesehatan serius yang dapat memengaruhi kesejahteraan fisik dan mental. Anak dikatakan obesitas saat memiliki berat badan yang jauh di atas rata-rata untuk usia dan tinggi badannya.

Kondisi obesitas biasanya diukur menggunakan indeks massa tubuh (BMI) yang telah disesuaikan berdasarkan usia dan jenis kelamin. Secara medis, anak yang obesitas adalah anak-anak berusia 2 tahun ke atas yang memiliki BMI di atas persentil ke-95.

Prevalensi Obesitas Anak di 10 Negara ASEAN

Persoalan obesitas anak telah menjadi masalah global yang memengaruhi banyak negara di dunia. Di berbagai negara ASEAN, termasuk Indonesia, prevalensi obesitas anak terus meningkat setiap tahunnya. Fenomena ini biasanya dikaitkan dengan perubahan gaya hidup serta pola makan yang kurang sehat.

Indonesia Berada di Peringkat Ke-4 dengan Persentase Obesitas Anak Tertinggi di ASEAN | GoodStats
Indonesia Berada di Peringkat Ke-5 dengan Persentase Obesitas Anak Tertinggi di ASEAN | GoodStats

Grafik di atas memperlihatkan tingginya proporsi obesitas anak di ASEAN. Anak laki-laki cenderung memiliki persentase yang lebih tinggi ketimbang perempuan di seluruh negara ASEAN. Bahkan di Brunei Darussalam, sekitar 1 dari 4 anak laki-laki mengalami obesitas.

Indonesia sendiri menempati peringkat ke-5 dengan persentase di atas 10%. Jika dibandingkan negara lain, tidak terlihat selisih yang signifikan antara persentase obesitas anak laki-laki dan perempuan di Indonesia. Artinya, dalam program-program pencegahan dan penanganan obesitas anak di Indonesia, strategi yang berfokus pada jenis kelamin tertentu tidak terlalu diperlukan.

Real Food vs Junk Food

Obesitas anak berbahaya untuk kesehatan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Anak dengan obesitas berisiko lebih tinggi terkena penyakit kronis seperti diabetes tipe II, hipertensi, hingga penyakit jantung. Selain itu, secara psikologis obesitas pun berisiko mengakibatkan penurunan kepercayaan diri anak dan depresi. Untuk itu, penting untuk mencegah obesitas sejak dini.

Ilustrasi Fast Food (Junk) dan Healthy Food (Real) | Freepik
Ilustrasi Fast Food (Junk) dan Healthy Food (Real) | Freepik

Pola makan yang tidak sehat menjadi faktor utama munculnya obesitas, sehingga mengatur pola makan merupakan langkah pencegahan yang paling efektif. Konsumsi makanan cepat saji atau junk food seperti keripik, permen, dan minuman bersoda yang tinggi kalori, gula, dan lemak dapat menyebabkan penambahan berat badan yang cepat dan tidak sehat.

Sebaliknya, real food atau makanan asli, seperti buah-buahan, sayuran, dan protein tanpa lemak, menyediakan nutrisi yang dibutuhkan tubuh secara seimbang. Mengganti junk food dengan real food dalam diet anak dapat membantu mencegah obesitas dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.

Ilustrasi Isi Piringku | Shutterstock
Ilustrasi Isi Piringku | Shutterstock

Pemerintah Indonesia sendiri sedang mengupayakan gerakan Isi Piringku sebagai panduan porsi makan yang seimbang. Melalui gerakan tersebut, dijelaskan bahwa isi piring anak yang baik harus mencakup buah dan sayur (setengah piring), karbohidrat (seperempat piring), serta protein (seperempat piring).

Dengan mengikuti panduan Isi Piringku, diharapkan perbaikan gizi anak serta pencegahan obesitas di tanah air dapat terwujud. Selain itu, perlu juga ditekankan bahwa mengatasi obesitas anak membutuhkan pendekatan yang komprehensif. Kolaborasi semua pihak diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung gaya hidup sehat bagi anak-anak, sehingga generasi berikutnya dapat tumbuh menjadi individu yang lebih sehat dan produktif.

Baca Juga: Tren Kematian Akibat Obesitas di Indonesia Belum Ada Tanda Penurunan

Penulis: Afra Hanifah Prasastisiwi
Editor: Editor

Konten Terkait

10 Maskapai Penerbangan dengan Wi-Fi Terbaik, Garuda Indonesia Nomor 1

Garuda Indonesia terpilih menjadi maskapai dengan wi-fi terbaik di dunia. Sayangnya, tidak ada bandara Indonesia yang masuk daftar bandara koneksi terbaik.

10 Negara dengan Miliarder Terbanyak di Dunia

China menjadi negara dengan miliarder terbanyak di dunia, totalnya mencapai 814 orang. Di sisi lain, New York menjadi kota dengan miliarder terbanyak saat ini.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Dengan melakukan pendaftaran akun, saya menyetujui Aturan dan Kebijakan di GoodStats

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook