Kualitas Udara Jakarta Memburuk dalam Beberapa Hari Terakhir, Bagaimana Grafiknya?

Menurut pantauan IQAir pada Jumat (17/6) pukul 10 pagi WIB, indeks kualitas udara (AQI US) Jakarta berada di angka 169.

Kualitas Udara Jakarta Memburuk dalam Beberapa Hari Terakhir, Bagaimana Grafiknya? Foto udara kawasan Jakarta dipotret dari halaman Jakarta International Stadium, Jakarta Utara | bangoland/Shutterstock

Perusahaan yang membidangi teknologi kualitas udara asal Swiss, IQAir menilai udara Jakarta dalam beberapa hari terakhir ini memburuk. Bahkan, dalam empat hari terakhir ini secara beruntun udara Jakarta teridentifikasi ke dalam indikator tidak sehat serta masuk ke dalam jajaran kota dengan kualitas udara terburuk di dunia.

IQ Air memiliki sistem yang terus memantau kualitas udara di suatu kota dalam beberapa menit sekali. Menurut pantauan IQAir pada Jumat (17/6) pukul 10 pagi WIB, indeks kualitas udara (AQI US) Jakarta berada di angka 169 dan menjadi kota dengan kualitas udara terburuk kedua di dunia setelah Johannesburg, Afrika Selatan yang berada di angka 192.

Nilai konsentrasi partikulat (PM 2.5) Jakarta berada di angka 97 µg per meter kubik atau berada 19,4 kali di atas nilai panduan kualitas udara tahunan WHO. Bahkan, dalam beberapa waktu AQI US Jakarta sempat berada di posisi tertinggi, tetapi statusnya terus bersifat fluktuasi.

Selain Jakarta, kota-kota lain yang kerap berada di jajaran tertinggi dengan AQI US terburuk di dunia antara lain Dubai, Uni Emirat Arab; Riyadh, Arab Saudi; Jerusalem, Israel; Sao Paulo, Brasil; Santiago, Chile; Beijing, China; Ho Chi Minh, Vietnam; hingga Kuala Lumpur, Malaysia.

Grafik kualitas udara ibu kota 10 hari terakhir

Grafik kualitas udara Jakarta dalam 10 hari terakhir menurut IQAir | GoodStats

Menurut catatan IQAir, kualitas udara di Jakarta dalam sebulan ke belakang tidak pernah menyentuh predikat sehat. Terlebih, dalam 10 hari terakhir indeks kualitas udara di ibu kota cenderung semakin memburuk.

Pada 8 Juni, indeks kualitas udara di Jakarta menyentuh angka 103. Sedikit membaik, dua hari selanjutnya indeks kualitas udara ibu kota menurun ke angka 99 dan 93. Kemudian, kualitas udara Jakarta kembali naik ke angka 120-an selama tiga hari berturut-turut.

Dalam empat hari terakhir, kualitas udara di Jakarta mendapat predikat tidak sehat dengan nilai indeks 152 (14/6), 163 (15/6), 153 (16/6), dan 166 (17/6). Menurut laporan IQAir berdasarkan pantauan kualitas udara di beberapa daerah ibu kota, kualitas udara yang paling berpolusi berada di daerah TJ Depo Pesing, Wisma Barito Pacific, Wisma Matahari Power, AHP - Capital Place, dan Wisma 76.

Tanggapan otoritas terkait

Menanggapi hal ini, Humas Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Yogi Ikhwan mengungkapkan penyebab tidak sehatnya udara di Jakarta dalam beberapa hari terakhir. Dilansir Kompas Rabu (15/6), dirinya menyebut bahwa kelembapan udara di Jakarta terbilang cukup tinggi, sedangkan suhunya terhitung rendah.

Hal ini menyebabkan polutan pencemar udara terakumulasi di lapisan troposfer. Lebih lanjut, kondisi kualitas udara di ibu kota akan terlihat seperti kabut, yang kemudian didukung juga dengan cuaca yang mendung.

Lebih lanjut, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria mengatakan bahwa salah satu penyebab utama buruknya kualitas udara di Jakarta saat ini karena penggunaan kendaraan bermotor di Jakarta telah kembali normal. Fenomena ini menjadi perhatian dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dan pihaknya akan mengevaluasi dalam waktu dekat.

"Itu akan kami cek kembali informasi. Tentu ini menjadi perhatian, kami akan melakukan evaluasi dan mengatasi masalah ini," kata Riza di Balai Kota DKI Jakarta dilansir Tempo (16/4).

Selain itu, dirinya juga menyebut bahwa Pemprov DKI Jakarta telah memiliki beberapa strategi dalam penanganan kualitas udara di ibu kota. Namun, hal tersebut tentunya membutuhkan proses dan waktu untuk mendapatkan hasil yang optimal.

"Semua itu perlu waktu, semua program itu kita akan laksanakan. Teman-teman tahu program banjir transportasi, taman, dan polusi. Semua program kepastian pangan dan sebagainya penanganan Covid semua akan kami laksakanakan, tapi itu perlu waktu proses," sambung Riza.

Seberapa tinggi indeks kualitas udara disebut tidak sehat?

Indikator kualitas udara menurut IQAir | GoodStats

Dalam situsnya, IQAir mengklasifikasikan indikator indeks kualitas udara disebut berbahaya. Kualitas udara disebut baik apabila berada pada angka indeks 0-50, sedangkan bila indeksnya menyentuh angka 51-100 disebut sedang.

Angka indeks 101-150 disebut tidak sehat bagi kelompok yang sensitif, sedangkan kualitas udara disebut tidak sehat apabila indeksnya berada di angka 151-200. Lebih lanjut, kualitas udara disebut sangat tidak sehat apabila angkanya menyentuh 201-300 dan disebut berbahaya apabila angkanya menyentuh 301 ke atas.

Lebih lanjut, IQAir juga menyebut bahwa polusi udara diperkirakan telah menyebabkan 4.900 kematian di Jakarta pada 2021 lalu. Selain itu, polusi udara juga telah menyebabkan kerugian materi hingga 1,3 miliar dolar AS di Jakarta pada tahun yang sama.

Untuk melindungi diri dari polusi udara di Jakarta, IQAir merekomendasikan para masyarakat untuk mengenakan masker selama di luar, menutup jendela untuk menghindari udara luar yang kotor, menyalakan pemurni udara, dan menghindari aktivitas di luar.

Penulis: Raihan Hasya
Editor: Iip M Aditiya

Artikel Sebelumnya Kian Populer, Siapa Penggemar Terbesar eSports?
Artikel Selanjutnya Bahaya Polusi Udara Bisa Kurangi Angka Harapan Hidup Manusia Dua Tahun
Konten Terkait