Jika melihat peta perkeretaapian Yogyakarta saat ini, masyarakat mungkin hanya mengenal jalur utama yang menghubungkan Yogyakarta dengan Solo, Kutoarjo, hingga berbagai kota besar di Pulau Jawa. Namun lebih dari seabad lalu, wajah transportasi rel di Yogyakarta jauh berbeda.
Pada era kolonial Hindia Belanda, Yogyakarta memiliki jaringan kereta api yang jauh lebih luas dan menjangkau berbagai kawasan yang kini tidak lagi dilayani kereta. Jalur-jalur tersebut membentang dari wilayah utara di Sleman, melintasi pusat Kota Yogyakarta, sampai menuju Bantul dan kawasan pesisir selatan.
Baca Juga: 10 Stasiun Kereta Favorit Turis Asing 2025
Penelusuran data yang dilakukan Jogjastats berdasarkan arsip PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan dokumen kolonial Staatsspoorwegen (SS) menunjukkan bahwa kawasan Sleman-Bantul dan sekitarnya pernah memiliki tiga jalur rel utama dengan sedikitnya 37 stasiun maupun halte yang kini telah nonaktif.
Kala itu, pada tahun 1910-an, terdapat tiga koridor utama yang melayani wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.
Jalur pertama membentang dari kawasan Yogyakarta menuju utara hingga Sleman dan Ambarawa. Di sepanjang lintasan tersebut terdapat sejumlah stasiun dan halte seperti Kricak, Kutu, Mlati, Beran, Pangukan, Sleman, Medari, Ngebong, hingga Tempel.
Jalur kedua bergerak ke arah selatan dari pusat Kota Yogyakarta menuju Bantul hingga Sewugalur. Rute ini melewati sejumlah titik seperti Ngabean, Dongkelan, Winongo, Cepit, Bantul, Palbapang, Bajang, Batikan, Pekojo, Mangiran, Srandakan, Brosot, Pasar Kranggan, dan berakhir di Sewugalur.
Sementara jalur ketiga menghubungkan pusat kota menuju kawasan timur dan tenggara hingga Pundong. Jalur ini melewati sejumlah lokasi seperti Timuran, Sindikan, Pasar Gede-Basen, Kuncen, Bintaran, Kedaton Plered, Wonokromo, Ngentak, Jetis, Barongan, Patalan, Petrobayan, hingga Pundong.
Jika dihitung secara keseluruhan, jumlah halte dan stasiun yang pernah beroperasi di jaringan ini mencapai lebih dari 30 titik.
Dikelola NISM
Ketika itu, jaringan kereta api tersebut dikelola langsung oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), perusahaan kereta api swasta pertama di Hindia Belanda, sekaligus yang membangun jalur kereta pertama yang menghubungkan Semarang dengan Vorstenlanden (Solo dan Yogyakarta).
Selain NISM, pengembangan jaringan kereta api di Hindia Belanda juga melibatkan Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik pemerintah kolonial yang mengoperasikan banyak jalur utama di Pulau Jawa.
Mengapa Sekarang Hilang?
Lantas, mengapa jalur-jalur tersebut kini menghilang? Dalam berbagai publikasi sejarah perkeretaapian Indonesia, banyak jalur cabang yang mengalami penurunan fungsi pada masa pendudukan Jepang pada 1942-1945.
Pada periode tersebut, sejumlah rel dibongkar dan materialnya digunakan untuk kepentingan perang Jepang. Proses pembongkaran banyak melibatkan tenaga kerja paksa atau romusha yang dikerahkan oleh pemerintah pendudukan Jepang.
Akibatnya, sejumlah lintasan yang sebelumnya aktif tidak pernah kembali beroperasi setelah perang berakhir. Seiring waktu, bekas jalur rel berubah fungsi menjadi permukiman, jalan lingkungan, area pertanian, hingga kawasan komersial.
Baca Juga: Seberapa Panjang Jalan Raya dan Jalur Kereta di Indonesia?
Sumber:
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/0/04/Officieele_reisgids_der_spoor-_en_tramwegen_en_aansluitende_automobieldiensten_op_Java_en_Madoera_%281935%29.pdf
Penulis: Agnes Z. Yonatan
Editor: Editor