Intip Pola Perilaku Pembelian Hewan Kurban Jelang Iduladha!

Mayoritas umat Muslim membeli hewan kurban langsung dari peternak. Tidak hanya itu, pembelian offline masih lebih digemari dibanding online.

Intip Pola Perilaku Pembelian Hewan Kurban Jelang Iduladha! Ilustrasi Hewan Kurban | Freepik/vecstock

Menjelang perayaan Iduladha yang jatuh pada Senin (17/6/2024) mendatang, sejumlah persiapan mulai dilakukan. Salah satunya adalah dengan membeli hewan kurban, hewan ternak yang dikorbankan dan dagingnya dibagikan pada keluarga maupun mereka yang membutuhkan.

Menghimpun survei Jajak Pendapat (JakPat) dalam laporannya bertajuk Eid Al-adha Preparation and Celebration, sebanyak 34% responden mengaku merayakan Iduladha dengan berkurban.

Kambing dan sapi masih menjadi hewan ternak pilihan untuk kurban di Indonesia. Hanya segelintir yang menggunakan domba, kerbau, hingga unta.

Menilik pola perilaku pembelian hewan kurban, maka mayoritas umat Muslim membeli hewan kurban langsung dari peternak.

Mayoritas umat Muslim membeli hewan kurban langsung dari peternak.
Mayoritas umat Muslim membeli hewan kurban langsung dari peternak | GoodStats

Sebanyak 59% responden mengaku membeli hewan kurban langsung dari peternaknya. Adapun proporsinya terbagi menjadi 51% berpenghasilan rendah, 58% berpenghasilan menengah, dan 62% berpenghasilan tinggi.

Sementara itu, 31% responden memilih membeli dari pasar hewan dan 16% dari arisan. Terdapat perbedaan perilaku pembelian hewan kurban antara setiap kelompok pendapatan.

“Berdasarkan status socioeconomic, maka kelompok berpenghasilan tinggi lebih memilih membeli langsung. Sedangkan, kelompok berpenghasilan rendah dan menengah memilih membeli bersama lewat arisan. Kelompok berpenghasilan rendah juga lebih memilih mengambil hewan kurban dari peternakan pribadinya,” tulis JakPat dalam laporan tersebut.

Mayoritas Umat Muslim Membeli Hewan Kurban di Tempat

Meski mayoritas umat Muslim (95,3%) memilih untuk membeli hewan kurban secara offline, di mana mereka langsung datang ke tempatnya, terdapat segelintir responden yang ternyata lebih gemar membeli hewan kurban secara online.

Adapun alasan utama responden yang membeli secara online adalah dari segi kemudahan pembelian. Dengan membeli online, responden tidak perlu datang langsung ke tempat dan karenanya bisa menghemat waktu, biaya, dan tenaga. Apalagi bagi mereka yang tinggal jauh dari penjual.

Alasan utama responden yang membeli secara online ada dari segi kemudahan pembelian.
Alasan utama responden yang membeli secara online adalah dari segi kemudahan pembelian | GoodStats

Sebanyak 72% responden juga memilih membeli online karena masalah akses. Salah satu keuntungan belanja online adalah bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Metode ini terutama cocok bagi mereka yang masih sibuk bekerja menjelang hari raya Iduladha.

Selain itu, salah satu alasan responden memilih membeli secara online adalah terkait keamanan transaksi, opsi yang tersedia lebih beragam, dan transparansi informasi yang diberikan.

Sebaliknya, mereka yang memilih membeli hewan kurban secara offline menekankan pada kualitas hewan kurban yang dibelinya. Dengan datang ke tempat dan melihat langsung, pembeli bisa memilih hewan ternak dengan kualitas terbaik untuk digunakan sebagai hewan kurban di hari raya ini.

Sebaliknya, mereka yang memilih membeli hewan kurban secara offline menekankan pada kualitas hewan kurban yang dibelinya.
Sebaliknya, mereka yang memilih membeli hewan kurban secara offline menekankan pada kualitas hewan kurban yang dibelinya | GoodStats

Selain terkait masalah kualitas, pembelian offline memungkinkan terjadinya negosiasi harga, di mana pembeli bisa memangkas sedikit ongkos hewan ternak yang akan dibelinya.

Sebanyak 60% responden mengungkapkan keinginannya untuk berinteraksi dengan penjual sebagai faktor yang mendorongnya membeli offline. Di zaman serba online dan cepat, interaksi tatap muka antar manusia menjadi lebih jarang. Momen Iduladha dimanfaatkan oleh umat Muslim Indonesia untuk saling berinteraksi dan bersilaturahmi merayakan kebersamaan.

Penulis: Agnes Z. Yonatan
Editor: Editor

Konten Terkait

Pencurian Jadi Aktivitas Kejahatan Paling Masif di Indonesia

Kasus pencurian menjadi kasus kejahatan tertinggi di Indonesia, totalnya melebihi 50.000 kasus.

Kekerasan Berbasis Gender di Indonesia Capai 12 Ribu di Tahun 2024

Kasus kekerasan berbasis gender masih saja terjadi, bahkan merambat ke lingkup pejabat negara.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Dengan melakukan pendaftaran akun, saya menyetujui Aturan dan Kebijakan di GoodStats

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook