Impor Gandum dan Meslin Indonesia Mencapai Rekor Tertinggi pada 2023

Impor gandum dan meslin Indonesia pada tahun 2023 mencapai angka yang cukup tinggi, mencapai 10,58 ribu ton dengan total nilai mencapai US$3,66 miliar.

Impor Gandum dan Meslin Indonesia Mencapai Rekor Tertinggi pada 2023 Illustrasi Gandum | Canva

Dalam laporan yang dirilis oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang dianalisis secara detail oleh Badan Pusat Statistik (BPS), impor gandum dan meslin Indonesia pada tahun 2023 mencapai angka yang tinggi, mencapai 10,58 ribu ton dengan total nilai mencapai US$3,66 miliar.

Peningkatan impor yang signifikan ini menunjukkan ketergantungan Indonesia terus menerus terhadap sumber-sumber luar negeri untuk memenuhi kebutuhan akan komoditas pertanian, yang menyoroti baiknya selera bangsa akan komoditas pertanian dan hubungan dagang strategis dengan negara-negara penghasil gandum utama.

Australia Muncul sebagai Pemasok Utama

Menempati posisi teratas dalam daftar negara pengekspor gandum dan meslin ke Indonesia pada tahun 2023 adalah Australia, mitra dagang yang telah lama berkecimpung di bidang pertanian. Data menunjukkan bahwa Australia menyumbang sekitar 40,05% dari total impor Indonesia, mengirimkan volume yang signifikan sebesar 4,23 ribu ton gandum dan meslin, dengan nilai mencapai US$1,46 miliar. Hal ini menunjukkan peran penting Australia dalam memenuhi permintaan Indonesia akan gandum.

Sumber Impor yang Beragam

Meskipun Australia mendominasi, impor gandum dan meslin Indonesia berasal dari berbagai negara penghasil di seluruh dunia. Di antaranya, Kanada menjadi kontributor utama selanjutnya, mengirimkan 2,37 ribu ton gandum dengan nilai US$946,5 juta. Diikuti oleh Rusia, dengan volume 909,4 ton senilai US$257,6 juta, dan Bulgaria, yang menyumbangkan 867,9 ton senilai US$257,6 juta.

Selain itu, negara-negara seperti Brasil, Ukraina, Amerika Serikat, Argentina, dan Moldova juga memberikan kontribusi signifikan terhadap impor gandum dan meslin Indonesia. Brasil menyumbangkan 828,1 ton senilai US$318,7 juta, sementara Ukraina mengekspor 652,4 ton senilai US$195,3 juta. Amerika Serikat, Argentina, dan Moldova secara kolektif juga memberikan kontribusi yang signifikan, menunjukkan keragaman sumber impor Indonesia dan keterlibatannya dengan pemasok tradisional dan baru di pasar gandum global.

Selain kontributor utama, Indonesia juga mengimpor gandum dan meslin dari berbagai negara lain, meskipun dalam jumlah yang lebih kecil. Secara total, negara-negara ini berkontribusi sebanyak 59,6 ton senilai US$17 juta, yang menunjukkan komitmen Indonesia untuk mendapatkan sumber impor yang beragam.

Implikasi bagi Ekonomi Indonesia

Impor memiliki dampak yang signifikan terhadap ekonomi Indonesia, mempengaruhi berbagai aspek mulai dari neraca perdagangan hingga industri dalam negeri.

Lonjakan impor gandum dan meslin tidak hanya mencerminkan preferensi dan pola konsumsi masyarakat Indonesia yang berkembang, tetapi juga memiliki implikasi ekonomi yang signifikan. Sementara memastikan ketahanan pangan tetap menjadi perhatian utama, pengeluaran yang besar untuk impor menunjukkan perlunya strategi domestik untuk meningkatkan produksi gandum dan mengurangi ketergantungan pada sumber luar negeri.

Selain itu, hubungan dagang yang kuat dengan negara-negara penghasil gandum utama menyoroti pentingnya hubungan diplomatik dan perjanjian dagang dalam menjamin pasokan pangan yang stabil dan beragam. Ketika pasar pertanian global terus berkembang, peran Indonesia sebagai salah satu importir utama gandum dan meslin menekankan signifikansinya dalam lanskap perdagangan pangan global.

Saat Indonesia menjelajahi kompleksitas pasar global untuk gandum, para pembuat kebijakan menghadapi tantangan dalam menjaga keseimbangan antara produksi domestik dengan kebutuhan impor untuk memastikan kedua keamanan pangan dan keberlanjutan ekonomi. Investasi dalam riset pertanian, teknologi, dan infrastruktur sangat penting untuk meningkatkan kapasitas produksi domestik dan mengurangi ketergantungan pada impor.

Lebih lanjut, memperkuat kemitraan dengan negara-negara pengekspor utama melalui perjanjian bilateral dan insentif perdagangan dapat memfasilitasi arus perdagangan yang lancar dan mengurangi potensi gangguan pasokan. Dengan demikian, Indonesia dapat terus mengamankan pasokan pangan yang stabil dan beragam untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Penulis: Willy Yashilva
Editor: Iip M Aditiya

Konten Terkait

Target Pembangunan Indonesia Tahun 2025, Kemiskinan Harus Turun 8%

Pemerintah Indonesia telah menetapkan sasaran pembangunan untuk periode 2025 dengan fokus pada penurunan tingkat kemiskinan sebesar 8%.

Ini Harga BBM Pertamina Juni 2024, Apakah Naik?

Pertamina masih berusaha menjaga stabilitas ekonomi dan membantu masyarakat dalam menghadapi tekanan ekonomi global.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Dengan melakukan pendaftaran akun, saya menyetujui Aturan dan Kebijakan di GoodStats

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook
Student Diplomat Mobile
X