Pada akhir Maret 2026, harga kedelai impor melonjak drastis. Harga yang sebelumnya berkisar Rp9.800/kg kini menjadi sekitar Rp10.600/kg. Lonjakan ini memicu kekhawatiran produsen tahu-tempe karena biaya bahan baku melonjak.
Kenaikan harga kedelai impor ini sebagian besar disebabkan oleh gangguan rantai pasok global. Konflik dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah antara AS-Israel–Iran meningkatkan ketidakpastian pasokan komoditas pertanian dunia.
Kondisi ini mendorong naiknya harga kedelai di pasar internasional. Di Indonesia, tren kenaikan global tersebut langsung berimbas ke pasar lokal. Melansir dari DetikJatim, pada akhir Maret 2026 harga kedelai impor naik dari Rp9.800/kg menjadi Rp10.600/kg.
Harga Kedelai Impor Naik, Ini Penyebabnya
Berdasarkan data harian dari Trading Economics, kenaikan harga kedelai sudah terjadi secara bertahap dari bulan Januari sampai April dengan kenaikan yang fluktuatif.
Baca Juga: Top 5 Negara Asal Impor Indonesia 2024
Memasuki awal tahun, harga kedelai dibuka pada angka 1.062 USD/Bu (9 Januari). Sempat terjadi penurunan tipis ke titik terendahnya yaitu 1.038 USD/Bu pada 13 Januari. Namun, sepanjang bulan Februari, harga mulai merangkak naik secara perlahan menembus angka 1.157 USD/Bu pada akhir Februari.
Pada bulan Maret menjadi periode yang paling signifikan bagi pergerakan harga. Harga kedelai mencapai puncaknya pada 12 Maret 2026 di angka 1.227 USD/Bu. Ini merupakan level tertinggi sepanjang kuartal pertama tahun ini. Setelah mencapai puncak tersebut, harga mengalami koreksi dan turun kembali ke kisaran 1.155 - 1.173 USD/Bu.
Memasuki bulan April, volatilitas harga mulai mereda. Terlihat adanya tren stabilisasi di mana harga bergerak sangat tipis di rentang yang sempit. Harga kedelai terkini di pasar global pada 8 April 2026 berada di kisaran 1.155 USD/Bu.
Meskipun harga menunjukkan sedikit penurunan dibanding kenaikan di bulan Maret, angka ini masih 8,7% lebih tinggi jika dibandingkan dengan harga terendah di bulan Januari.
Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun pasar mulai stabil, tekanan harga kedelai secara tahunan (year-to-date) masih berada pada posisi yang cukup kuat.
Ketergantungan Indonesia pada Kedelai Impor
Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan dominasi yang sangat kuat dari negara-negara di benua Amerika sebagai pemasok utama kedelai ke Indonesia.
Total volume impor mencerminkan ketergantungan yang tinggi pada pasar global untuk memenuhi kebutuhan kedelai nasional.
Amerika Serikat mengukuhkan posisinya sebagai mitra dagang utama Indonesia dalam komoditas kedelai. Dengan volume mencapai 2.214.138 ton, Amerika Serikat menyumbang porsi terbesar yang sangat signifikan dibandingkan negara-negara lainnya.
Di posisi kedua, Kanada menjadi pemasok terbesar berikutnya dengan volume 290.416 ton. Selain itu, beberapa negara Amerika Latin seperti Uruguay memasok 21.429 ton kedelai, Brasil 20.997 ton, dan Bolivia 4.292 ton kedelai.
Selain dari benua Amerika, Indonesia juga tercatat mengimpor kedelai dari wilayah Asia dan Eropa. Malaysia tercatat mengimpor 5.630 ton kedelai, Inggris 468 ton dan Nauru 522 ton.
Fakta ini menggambarkan bawa Indonesia masih memiliki ketergantungan tinggi pada impor kedelai. Bahkan, dalam kesepakatan dagang terbaru antara Indonesia dan AS, Indonesia sepakat mengimpor 3,8 juta ton tepung kedelai dan 3,5 juta ton kedelai utuh per tahun selama lima tahun ke depan.
Implikasi kebijakan ini adalah memastikan pasokan kedelai mentah tetap tersedia karena konsumsi produk berbahan dasar kedelai (tahu, tempe) sangat tinggi, namun di satu sisi produksi lokal belum mampu memenuhinya.
Dampak Kenaikan Harga Kedelai Serta Strategi Pengrajin Tempe dan Tahu
Kenaikan harga kedelai impor langsung menaikkan biaya produksi tahu dan tempe. Biaya operasional bahan baku dan kemasan yang melonjak membuat marjin keuntungan pengrajin semakin tipis.
Alih-alih menaikkan harga jual, para pengrajin memilih langkah strategis agar konsumen tidak terkejut. Di Malang misalnya, salah satu perajin tempe, Afriantoro, merasakan dampak dari kenaikan harga kedelai. Akan tetapi, ia tidak berusaha untuk menaikan harga salah satu siasat yang ia gunakan adalah dengan memperkecil ukuran tempe yang ia produksi.
“Kami tidak menaikkan harga tempe, hanya ukurannya saja yang kami kecilkan sekitar 1 centimeter dibandingkan ukuran sebelumnya” ujar Afriantoro mengutip dari DetikJatim.
Strategi serupa dilakukan pengrajin tahu, dengan mengurangi jumlah kepingan keripik tempe dalam kemasan dan membatasi volume produksi harian. Langkah tersebut terbukti efektif.
Meski dimensi produk mengecil, tempe Sanan (Malang) tetap laris dengan harga potongnya stabil di kisaran Rp2.000–5.000 per buah. Produksi harian pun tetap terserap habis (sekitar 5–7 kuintal per hari).
Meskipun beban biaya lebih tinggi, pengrajin menjaga agar harga jual tidak melonjak, sehingga konsumen tak terlalu terbebani.
Selain itu, beberapa pengrajin juga menyesuaikan operasional lain, seperti mengurangi penggunaan plastik kemasan atau fokus melayani pesanan khusus saja
Baca Juga: Prabowo Sepakati Tarif Dagang AS, Indonesia Akan Impor US$4,5 Miliar Produk Pertanian
Sumber:
https://id.tradingeconomics.com/commodity/soybeans
Penulis: Helni Sadiyah
Editor: Firda Wandira