Pertumbuhan ekonomi masih menjadi salah satu indikator utama untuk melihat seberapa kuat suatu daerah. Angka ini sering dipakai untuk membaca arah ekonomi dan daya beli masyarakat di tiap provinsi.
Di Pulau Jawa sendiri, laju ekonomi antarprovinsi pada 2025 terlihat cukup ketat. Meski selisihnya masing-masing terpantau tipis, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tercatat menjadi provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi dibanding provinsi lain di Jawa.
Ekonomi DIY Tumbuh 5,49% pada 2025
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), DI Yogyakarta mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,49% pada 2025. Angka ini menjadi yang tertinggi di Pulau Jawa dan juga berada di atas rata-rata nasional sebesar 5,11%.
Jika dibandingkan dengan angka nasional, pertumbuhan ekonomi DIY lebih tinggi 0,38%. DIY juga mencatatkan pertumbuhan ekonomi tertingginya sejak tahun 2022.
Di posisi kedua, terdapat Banten dengan pertumbuhan ekonomi 5,37%. Angka ini hanya terpaut 0,12% dari DIY. Nilai yang sama juga dicatat Jawa Tengah.
Urutan berikutnya ditempati Jawa Timur dengan pertumbuhan ekonomi 5,33%. Setelah itu, Jawa Barat mencatat pertumbuhan ekonomi 5,32%. Di bangku keenam terdapat DKI Jakarta dengan pertumbuhan ekonomi 5,21%.
Dibanding DIY, selisih pertumbuhan DKI Jakarta mencapai 0,28%. Meski menjadi yang terendah di Pulau Jawa, pertumbuhan ekonomi Jakarta tetap masih lebih tinggi 0,10% dari rata-rata nasional.
Pada akhirnya, seluruh provinsi di Pulau Jawa sama-sama membukukan pertumbuhan ekonomi di atas 5%.
Ditargetkan Tahun 2026 Pertumbuhan DIY Lebih Melesat
Wakil Gubernur DI Yogyakarta KGPAA Paku Alam X menyebut bahwa pada tahun 2026, DIY akan menargetkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi lagi. Hal tersebut juga tertulis dalam Rancangan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) serta Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) DIY Tahun Anggaran 2026.
Adapun salah satu cara yang disebutkan adalah melalui pendorongan produktivitas sektor unggulan, melalui penguatan pariwisata, pertanian, dan industri manufaktur.
“Tema pembangunan tersebut, juga memperhatikan gambaran kondisi ekonomi makro, yang menjadi asumsi dalam penyusunan APBD Tahun Anggaran 2026 dengan proyeksi: pertama, pertumbuhan ekonomi berkisar antara 5,1-5,9%; kedua, tingkat inflasi berkisar pada angka 2,1-3,5%. Dan ketiga, angka kemiskinan berkisar pada angka 9,97-10,38%,” kata Sri Paduka kepada media (11/7/2025).
Penulis: Pierre Rainer
Editor: Editor