Bagaimana Prevalensi Lupus di Indonesia?

Memperingati Hari Lupus Sedunia yang jatuh pada tanggal 10 Mei, bagaimanakah tingkat prevalensi kasus lupus di Indonesia?.

Bagaimana Prevalensi Lupus di Indonesia? Pita Simbol Hari Lupus Sedunia | Vanatchanan/Shutterstock

Tanggal 10 Mei setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Lupus Sedunia. World Health Organization mencatat lebih dari 100.000 kasus baru Systemic Lupus Erythematosus (SLE) dilaporkan setiap tahunnya dan kini total kasusnya telah mencapai 5 juta orang di seluruh dunia.

Dikenal sebagai penyakit seribu wajah, lupus atau penyakit autoimuna adalah kondisi saat imunitas atau kekebalan tubuh seseorang kehilangan kemampuan untuk membedakan substansi asing dengan sel dan jaringan tubuh sendiri. Akibatnya, sistem kekebalan tubuh akan menyerang sel, jaringan, dan organ tubuh yang sehat.

Lupus merupakan salah satu jenis penyakit tidak menular (PTM) yang prevalensinya cenderung meningkat. Lupus lebih sering dialami oleh perempuan berusia produktif yakni berkisar antara 14 hingga 64 tahun dibandingkan dengan laki-laki. Rasionya cukup fantastis yakni 9 sampai 15 berbanding 1.

Angka kasus lupus belum diketahui secara pasti

Di Indonesia sendiri, data epidemiologi lupus belum mencakup seluruh wilayah Indonesia. Namun berdasarkan survei yang dilakukan oleh Profesor Handono Kalim, dkk mengutip dari Informasi Data dan Informasi (Infodatin) Kementerian Kesehatan (Kemkes) RI tahun 2017 mengungkapkan angka prevalensi lupus di Indonesia ialah sebesar 0,5 persen terhadap total populasi.

Hal ini berarti sekitar 1.250.000 orang di Indonesia mengidap lupus. Sementara itu, berdasarkan data Perhimpunan SLE Indonesia (PESLI) rata-rata insiden kasus baru lupus dari 8 rumah sakit di Indonesia ialah sebesar 10,5 persen pada tahun 2016.

Lupus memiliki tingkat mortalitas yang cukup tinggi. Angkanya mencapai 93 hingga 97 persen untuk 5 tahun dan turun menjadi 53 hingga 64 persen pada 20 tahun. Hal tersebut diakibatkan oleh kerusakan jaringan tubuh yang dipicu oleh anomali sistem kekebalan tubuh sehingga menyerang sel maupun jaringan tubuh yang sehat.

Umumnya mortalitas penyintas lupus disebabkan karena infeksi pada beberapa tahun pertama serta penyakit kardiovaskular pada jangka panjang.

Tren lupus di Indonesia cenderung meningkat

Walaupun jumlah kasusnya terbilang banyak, tidak banyak orang yang menyadari bahwa dirinya mengidap lupus. Lebih lanjut, mengutip Infodatin Kemkes RI, jumlah kasus lupus yang dilaporkan tidak lebih dari 12 persen.

Meskipun demikian, jumlah rumah sakit yang melaporkan data pasien di Indonesia semakin meningkat dalam kurun waktu tahun 2014 hingga 2016. Berdasarkan data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) Online, sebanyak 858 rumah sakit tercatat melaporkan data.

Jumlah rumah sakit yang melaporkan data kasus pasien di Indonesia tahun 2014-2016 | GoodStats

Angka ini meningkat cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yakni sebanyak 621 rumah sakit pada tahun 2015 dan 543 rumah sakit pada tahun 2014.

Berdasarkan laporan data tahun 2016, diketahui terdapat 2.166 pasien rawat inap yang didiagnosis mengidap lupus, 550 pasien di antaranya meninggal dunia. Linear dengan jumlah laporan dari rumah sakit, tren penyakit lupus pada pasien rawat inap di rumah sakit meningkat sejak tahun 2014 hingga 2016.

Jumlah pasien rawat inap dan meninggal dunia akibat lupus di Indonesia tahun 2014-2016 | GoodStats

Adapun jumlah kasus lupus pada tahun 2016 meningkat hampir 2 kali lipat bila dibandingkan dengan tahun 2014 di mana jumlah pasien rawat inap yang mengidap lupus berjumlah sebanyak 1.169 pasien dan 200 pasien di antaranya meninggal dunia.

Di sisi lain, jumlah pasien meninggal dunia akibat lupus sempat menurun ke angka 110 pasien pada tahun 2015. Namun jumlahnya meningkat drastis hingga 5 kali lipat pada tahun 2016. Tingginya tingkat mortalitas akibat lupus mendapat perhatian khusus sebab sekitar 25 persen pasien rawat inap yang mengidap lupus di rumah sakit Indonesia pada tahun 2016 berakhir meninggal dunia.

Meskipun diklaim lebih umum dialami oleh perempuan, proporsi pasien rawat inap penyintas lupus laki-laki di Indonesia justru lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan pada tahun 2016. Adapun persentasenya sebesar 54,3 persen pada laki-laki dan 45,7 persen pada perempuan.

Proporsi pasien rawat inap penyintas lupus berdasarkan jenis kelamin tahun 2014-2016 | GoodStats

Proporsi pasien rawat inap penyintas lupus perempuan di Indonesia sempat lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki pada tahun 2014 dengan perbandingan persentase sebesar 51,8 persen pada perempuan dan 48,2 persen pada laki-laki.

Namun pada tahun 2015, proporsinya berbalik di mana laki-laki menjadi lebih tinggi dengan persentase sebesar 51,9 persen dan perempuan sebesar 48,1 persen. Kemudian jarak antar pasien perempuan dan laki-laki meningkat pada tahun berikutnya.

Hadirnya Hari Lupus Sedunia diharapkan menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran setiap orang akan bahaya dari penyakit lupus serta waspada terhadap kemungkinan meningkatnya tren lupus di masa yang akan datang.

Penulis: Diva Angelia
Editor: Iip M Aditiya

Artikel Sebelumnya Apa Saja Topik Paling Banyak Dicari di Google Search Indonesia?
Artikel Selanjutnya Benarkah PPKM di Indonesia Telah Berakhir?
Konten Terkait